Abai Keselamatan Demi Foto, Rombongan Berpengawal Polisi Hentikan Lalu Lintas di Sitinjau Lauik
WartaLog — Jalur ekstrem Sitinjau Lauik di Sumatera Barat kembali menjadi sorotan tajam publik setelah sebuah video kontroversial viral di berbagai platform media sosial. Video tersebut merekam aksi rombongan kendaraan mewah yang mendapatkan pengawalan polisi, namun dengan sengaja berhenti tepat di tengah tanjakan dan tikungan curam yang dikenal berbahaya hanya demi berswafoto.
Aksi Nekat di Jalur Maut
Dalam rekaman yang beredar luas, terlihat deretan mobil SUV premium seperti Toyota Fortuner dan Kijang Innova melaju dengan iringan mobil patwal yang sesekali membunyikan sirine. Namun, alih-alih terus melaju untuk menjaga kelancaran arus, rombongan yang diduga berisi jajaran pejabat tersebut justru menghentikan kendaraan mereka tepat di titik paling kritis jalur Sitinjau Lauik.
Rapor Penjualan Mobil Listrik Maret 2026: Jaecoo J5 Tak Terbendung, BYD Atto 1 Mulai Kehilangan Taji?
Situasi semakin memprihatinkan ketika beberapa orang turun dari mobil untuk berpose di tengah jalan. Padahal, di saat yang bersamaan, kendaraan berat seperti truk ekspedisi terpaksa mengerem mendadak dan mengantre panjang di kedua arah, menunggu rombongan tersebut menyelesaikan sesi foto mereka.
“Kejadian yang sangat tidak masuk akal sekaligus memprihatinkan. Di tikungan yang terjal dan curam, mereka berhenti hanya untuk berfoto, sementara pengguna jalan yang lain terpaksa menunggu. Sangat membahayakan mereka sendiri dan pengguna jalan lain. Mirisnya ini dikawal oleh Polantas pula,” tulis salah satu pengguna akun Threads dalam unggahannya yang memicu kemarahan netizen.
Risiko Besar di Balik Konten
Langkah rombongan ini dinilai sangat gegabah mengingat Sitinjau Lauik merupakan salah satu jalur dengan tingkat kecelakaan tertinggi akibat kemiringan yang ekstrem. Menanggapi fenomena ini, praktisi keselamatan berkendara dari Ikatan Motor Indonesia (IMI), Erreza Hardian, angkat bicara mengenai risiko teknis yang mengintai.
Membangun Kedaulatan Otomotif: Ambisi Besar Indonesia Memproduksi Mobil dan Motor Nasional di Era Prabowo
Menurutnya, area tersebut secara teknis memerlukan ruang manuver yang luas, terutama bagi kendaraan besar berbeban berat. Kehadiran kendaraan yang berhenti sembarangan menciptakan hambatan yang sangat berbahaya. “Jika bicara soal safety, merujuk pada regulasi, sudah banyak sekali pelanggaran di sana. Daerah ini penuh dengan hazard atau ancaman bahaya yang harusnya dikendalikan, bukan justru ditambah dengan aksi yang tidak perlu,” tegas Erreza.
Pentingnya Etika Berkendara
Kejadian ini menjadi pengingat penting mengenai etika di jalan raya. Jalan umum bukanlah ruang pribadi, terlebih di jalur distribusi logistik yang krusial. Penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi yang mengganggu ketertiban umum menjadi titik kritik utama dari masyarakat.
Dilema Pengguna Mobil Diesel: Dulu Isi Full Tank Cuma Rp500 Ribu, Kini Harus Rela Merogoh Kocek Jutaan Rupiah
Erreza menambahkan bahwa setiap pengguna jalan wajib memiliki sikap antisipatif atau defensive driving. “Jangan menuntut hak berlebih di jalan, karena banyak potensi kesalahan yang bisa berakibat fatal. Jika kita bisa mengantisipasi segala kemungkinan buruk, barulah keselamatan bisa terjamin,” pungkasnya.
Hingga saat ini, publik masih menunggu klarifikasi resmi terkait identitas rombongan tersebut dan alasan di balik pemberian izin pengawalan yang justru mengabaikan aspek keselamatan lalu lintas di lokasi yang sangat rawan tersebut.