Trump Desak Iran Buka Total Selat Hormuz, Tolak Keras Pungutan Biaya Bagi Kapal Internasional
WartaLog — Di tengah kebuntuan jalur perdagangan maritim paling krusial di dunia, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan tegas yang membidik kebijakan Teheran di Selat Hormuz. Trump mengklaim bahwa jalur vital tersebut akan segera dibuka dalam waktu dekat dengan dukungan koalisi internasional, sekaligus menolak mentah-mentah wacana pengenaan biaya lintas bagi kapal-kapal komersial yang ingin melintas.
Komitmen Trump dalam Memulihkan Arus Logistik Dunia
Pernyataan ini mencuat saat ketegangan geopolitik di kawasan Teluk belum sepenuhnya mereda. Trump menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan Iran mengontrol selat tersebut secara sepihak, apalagi menjadikannya sumber pendapatan melalui pungutan biaya keamanan. “Kami akan segera membukanya,” ujar Trump singkat namun sarat akan tekanan politik, sebagaimana dihimpun oleh tim redaksi kami.
Gebrakan Transmart Full Day Sale Mei 2026: Koleksi Sepeda Berkualitas Kini Dibanderol Mulai Rp 1 Jutaan
Bagi sang Presiden, aspek krusial dari setiap negosiasi dengan Iran bukan sekadar soal kelancaran pelayaran, melainkan penghentian total ambisi nuklir negara tersebut. Trump meyakini bahwa jika kesepakatan mengenai nuklir iran dapat dicapai, maka stabilitas di Selat Hormuz akan pulih secara otomatis tanpa perlu ada syarat-syarat tambahan yang membebani dunia internasional.
Penolakan Keras Terhadap ‘Pajak’ Lintas Laut
Iran sebelumnya mengisyaratkan rencana untuk menarik biaya keamanan bagi kapal-kapal yang ingin melintasi perairan tersebut, bahkan jika kesepakatan damai dengan Washington berhasil diteken. Namun, Trump dengan tegas memberikan lampu merah terhadap rencana tersebut. “Jika mereka mencoba melakukan itu, kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” tegasnya, merujuk pada potensi hambatan dalam perdagangan internasional.
Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi: PT KAI Pastikan Seluruh Biaya Pengobatan dan Pemakaman Korban Ditanggung Penuh
Dampak Lumpuhnya Selat Hormuz Terhadap Energi Global
Meski gencatan senjata selama dua pekan telah diumumkan, kenyataan di lapangan menunjukkan gambaran yang kontras. Arus logistik di Selat Hormuz nyaris terhenti total, sebuah kondisi yang mengancam stabilitas energi global karena jalur ini memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia.
- Hanya tercatat 2 kapal yang melintas pada hari Jumat, menurun drastis dibandingkan hari sebelumnya.
- Sejak periode gencatan senjata dimulai, tercatat baru 22 kapal yang berhasil keluar dari selat.
- Angka ini sangat jauh di bawah rata-rata lalu lintas harian sebelum konflik yang mencapai 135 kapal per hari.
Hingga saat ini, lebih dari 600 kapal—termasuk 325 kapal tanker raksasa—masih tertahan di kawasan Teluk, menunggu kepastian keamanan di tengah blokade yang belum sepenuhnya terangkat.
Sorotan Tajam DPR Terhadap Dugaan Pungli di Atas Awan: Pindah Kursi AirAsia Bayar Rp 150 Ribu?
Diplomasi di Islamabad: Harapan Baru?
Langkah diplomasi kini bergeser ke Islamabad. Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan bertemu dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, untuk membahas penghentian perang secara permanen. Pertemuan tingkat tinggi ini diharapkan mampu memecah kebuntuan dan merumuskan peta jalan untuk mengakhiri perselisihan yang telah menggoncang pasar ekonomi dunia ini.
Publik kini menanti, apakah retorika keras Trump akan membuahkan hasil nyata di meja perundingan, atau justru memperpanjang ketidakpastian di salah satu titik maritim paling strategis di bumi.