Sangihe Berduka Pasca Gempa M 7,7: Puan Maharani Desak Pemerintah Tembus Isolasi di Wilayah Terluar

Akbar Silohon | WartaLog
09 Jun 2026, 19:17 WIB
Sangihe Berduka Pasca Gempa M 7,7: Puan Maharani Desak Pemerintah Tembus Isolasi di Wilayah Terluar

WartaLog — Senin pagi yang seharusnya tenang di ufuk utara Indonesia berubah menjadi momen penuh ketegangan saat bumi berguncang hebat. Wilayah Sulawesi Utara baru saja diguncang oleh gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7, sebuah angka yang cukup untuk memicu alarm bahaya di sepanjang garis pantai dan kepulauan. Di tengah kepanikan tersebut, sorotan tajam tertuju pada nasib warga di Kabupaten Kepulauan Sangihe, terutama mereka yang mendiami pulau-pulau terluar yang kini dilaporkan terputus dari dunia luar akibat kerusakan infrastruktur yang masif.

Ketua DPR RI, Puan Maharani, memberikan respons cepat terhadap situasi darurat ini. Ia mendesak Pemerintah Pusat dan daerah untuk segera mengerahkan segala sumber daya guna menjangkau wilayah-wilayah yang terisolasi. Menurut Puan, tantangan geografis tidak boleh menjadi alasan keterlambatan dalam penyaluran bantuan logistik dan medis bagi para korban yang kini tengah berjuang di tengah keterbatasan.

Read Also

Diplomasi Washington Membuahkan Hasil: Israel dan Lebanon Sepakati Gencatan Senjata Strategis

Diplomasi Washington Membuahkan Hasil: Israel dan Lebanon Sepakati Gencatan Senjata Strategis

Getaran Dahsyat di Ujung Utara Nusantara

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), guncangan hebat tersebut terjadi pada Senin (8/6/2026) pukul 07.37 WITA. Pusat gempa bumi terdeteksi berada di laut, sekitar 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, sebuah titik yang bersentuhan langsung dengan batas wilayah Filipina. Gempa ini dikonfirmasi sebagai bagian dari rangkaian aktivitas seismik dahsyat yang juga melanda wilayah Filipina selatan.

Dampaknya dirasakan sangat luas. Selain di Kepulauan Sangihe yang menjadi wilayah terdampak paling parah, getaran kuat juga terasa hingga Kota Manado, Gorontalo, bahkan mencapai beberapa titik di wilayah Indonesia Timur lainnya. Meski hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, kerusakan bangunan dilaporkan terjadi secara sporadis di berbagai titik, menciptakan suasana mencekam bagi masyarakat pesisir.

Read Also

Ketegangan di Teluk Oman: Angkatan Laut AS Tembak dan Sita Kapal Kargo Raksasa Iran

Ketegangan di Teluk Oman: Angkatan Laut AS Tembak dan Sita Kapal Kargo Raksasa Iran

Desa Kawio: Potret Keterisolasian yang Mengkhawatirkan

Salah satu titik yang menjadi perhatian paling krusial adalah Desa Kawio yang terletak di Kecamatan Kepulauan Marore. Desa ini merupakan salah satu benteng terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan laut lepas. Dampak gempa di wilayah ini sangat memprihatinkan; banyak rumah warga yang dilaporkan rusak berat hingga rata dengan tanah. Dengan jumlah penduduk mencapai 480 jiwa dari 178 Kepala Keluarga yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, kondisi di lapangan sangatlah rentan.

Saat ini, warga Desa Kawio dikabarkan masih bertahan di area terbuka dan perbukitan karena gempa susulan masih terus terjadi. Keterisolasian fisik akibat rusaknya akses pelabuhan dan sarana komunikasi membuat bantuan sulit masuk. Puan Maharani menegaskan bahwa situasi di pulau terluar seperti Sangihe harus menjadi prioritas utama dalam skema tanggap darurat nasional.

Read Also

Diplomasi Buntu di Saint Petersburg: Vladimir Putin Tolak Mentah-mentah Ajakan Dialog Tatap Muka Zelensky

Diplomasi Buntu di Saint Petersburg: Vladimir Putin Tolak Mentah-mentah Ajakan Dialog Tatap Muka Zelensky

“Pemerintah harus bergerak secepat kilat. Warga di pulau terluar seringkali menjadi yang paling lambat menerima informasi dan bantuan karena kendala akses. Kita tidak bisa membiarkan mereka menunggu terlalu lama dalam ketidakpastian,” tegas Puan dalam pernyataan resminya kepada media.

Puan Maharani: Momentum Evaluasi Sistem Mitigasi Nasional

Meskipun jumlah korban jiwa dapat diminimalkan, Puan Maharani melihat kejadian ini sebagai sinyal kuat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem mitigasi bencana di Indonesia. Ia berpendapat bahwa keberhasilan penanganan bencana tidak boleh hanya diukur dari nihilnya korban jiwa, tetapi juga dari seberapa cepat negara mampu memulihkan fungsi sosial dan ekonomi masyarakat pascabencana.

“Ini adalah ‘alarm’ bagi kita semua. Tantangan geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau mengharuskan kita memiliki sistem antisipasi yang lebih canggih. Negara harus hadir di setiap jengkal tanah air, terutama di wilayah-wilayah yang secara logistik sulit dijangkau,” lanjut legislator dari PDI-Perjuangan tersebut.

Ia juga menyinggung mengenai pentingnya membangun ketangguhan bencana di wilayah kepulauan. Menurutnya, pemerintah daerah harus memastikan kebutuhan dasar kelompok rentan, seperti lansia dan anak-anak, terpenuhi dengan baik di lokasi-lokasi pengungsian. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe sendiri telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan untuk mempercepat proses penanganan di lapangan.

Waspada Ancaman Tsunami dan Kesiapan Infrastruktur

Sesaat setelah gempa terjadi, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami. Data mencatat adanya tsunami kecil dengan ketinggian minor antara 9 hingga 18 sentimeter di pesisir Ulu Siau, Melonguane (Sulawesi Utara), dan satu titik di Maluku Utara. Meski peringatan tersebut kini telah dicabut, masyarakat diimbau untuk tetap waspada karena karakter Sulawesi Utara yang berada di zona subduksi aktif.

Puan menekankan bahwa infrastruktur di kawasan rawan bencana harus dibangun dengan standar ketahanan yang jauh lebih tinggi. Puskesmas, sekolah, dan kantor pemerintahan di daerah pesisir jangan hanya dibangun sebagai simbol fisik, melainkan harus mampu menjadi benteng perlindungan saat bencana melanda. Investasi besar dalam pembangunan akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan aspek ketahanan bencana yang mumpuni.

Membangun Budaya Sadar Risiko di Kawasan Cincin Api

Sebagai negara yang berada di lintasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, Indonesia memang tidak bisa menghindar dari ancaman gempa bumi. Oleh karena itu, Puan mengajak seluruh elemen bangsa untuk mulai hidup berdampingan dengan risiko tersebut melalui literasi bencana yang kuat. Edukasi masyarakat mengenai jalur evakuasi dan langkah penyelamatan diri harus terus dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat bencana terjadi.

“Pendekatan pembangunan kita di masa depan harus mengedepankan aspek ketangguhan (resilience). Rehabilitasi dan rekonstruksi di Sangihe nantinya tidak boleh hanya sekadar memperbaiki yang rusak, tetapi harus membangun kembali dengan lebih baik dan lebih aman,” pungkas Puan Maharani.

Kejadian gempa M 7,7 ini menjadi ujian nyata bagi koordinasi antarlembaga dan efektivitas sistem peringatan dini di Indonesia. Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan pengawasan dari legislatif, diharapkan proses pemulihan di Sangihe dapat berjalan maksimal sehingga masyarakat di pulau terluar dapat segera kembali menjalani kehidupan dengan normal dan lebih siap menghadapi kemungkinan risiko di masa depan.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *