Membangun Kedaulatan di Atas Kaki Sendiri: Menkop Ferry Juliantono Resmikan Koperasi Laskar Juang Indonesia sebagai Pilar Ekonomi Pancasila

Akbar Silohon | WartaLog
06 Jun 2026, 13:17 WIB
Membangun Kedaulatan di Atas Kaki Sendiri: Menkop Ferry Juliantono Resmikan Koperasi Laskar Juang Indonesia sebagai Pila

WartaLog — Di bawah langit Bali yang kental dengan nuansa budaya dan semangat sejarah, sebuah langkah besar menuju kedaulatan ekonomi baru saja dipancangkan. Di tengah peringatan hari lahir Sang Proklamator, Bung Karno, Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono secara resmi meluncurkan Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia. Acara yang berlangsung khidmat di Pitaloka Sanur, Bali ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebuah pernyataan sikap bahwa sistem ekonomi gotong royong harus kembali menjadi panglima di tanah air.

Menteri Ferry Juliantono menegaskan bahwa kehadiran koperasi ini merupakan bagian dari misi besar pemerintah untuk melakukan transformasi ekonomi yang berakar pada nilai-nilai Pancasila. Dalam pandangannya, koperasi bukanlah sekadar entitas bisnis kecil, melainkan ujung tombak dalam mewujudkan amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945. Semangat ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto yang ingin mengembalikan marwah ekonomi Indonesia ke khittah aslinya: ekonomi yang dikelola dari, oleh, dan untuk rakyat.

Read Also

Skandal Riset Fiktif di Denmark: Nama Indonesia Dipertaruhkan, DPR Desak Investigasi Menyeluruh

Skandal Riset Fiktif di Denmark: Nama Indonesia Dipertaruhkan, DPR Desak Investigasi Menyeluruh

Visi Ekonomi Pancasila di Era Modern

Dalam sambutannya yang penuh semangat pada Sabtu (6/6/2026), Ferry mengungkapkan bahwa kedaulatan ekonomi tidak akan tercapai jika sistem yang digunakan masih bergantung pada model liberalisme yang meminggirkan pemain kecil. Menurutnya, ekonomi pancasila adalah jawaban atas tantangan kesenjangan sosial yang kian lebar. Ia melihat koperasi sebagai wadah yang paling tepat untuk mengorganisir kekuatan kolektif masyarakat agar mampu bersaing dengan korporasi besar.

“Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan yang sangat jelas. Kita harus berani melakukan transformasi ekonomi kembali ke Ekonomi Pancasila. Kami di Kementerian Koperasi memikul tanggung jawab besar karena koperasi adalah instrumen utama sekaligus ujung tombak dari perubahan struktural ini,” ujar Ferry di hadapan para tokoh dan penggerak ekonomi kerakyatan yang hadir dalam Malam Budaya tersebut.

Read Also

Babak Baru Perdamaian Timur Tengah: Iran Buka Selat Hormuz dan AS Akhiri Blokade Maritim

Babak Baru Perdamaian Timur Tengah: Iran Buka Selat Hormuz dan AS Akhiri Blokade Maritim

Melawan Dominasi Impor dengan Kemandirian Industri

Meski mengusung cita-cita yang luhur, Ferry tidak menutup mata terhadap realitas pahit yang dihadapi para pelaku usaha lokal saat ini. Indonesia tengah dikepung oleh gempuran produk luar negeri, mulai dari tekstil murah hingga pakaian bekas impor yang mematikan industri rumahan. Kondisi ini dianggap sebagai ancaman nyata bagi keberlangsungan UMKM dan koperasi di seluruh pelosok negeri.

Sebagai langkah konkret, Menkop mendorong Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia untuk tidak hanya menjadi penyalur barang, tetapi menjadi pemain kunci dalam rantai produksi. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Salah satu rencana ambisius yang dicanangkan adalah kolaborasi strategis dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk membangun kedaulatan sandang.

Read Also

Transformasi Data Bansos 2026: Gus Ipul Umumkan 470 Ribu Penerima Manfaat Baru dalam Pemutakhiran DTSEN

Transformasi Data Bansos 2026: Gus Ipul Umumkan 470 Ribu Penerima Manfaat Baru dalam Pemutakhiran DTSEN

“Kita tidak bisa terus-menerus menjadi bangsa konsumen. Saya menantang Koperasi Laskar Juang untuk mulai menginisiasi pembukaan lahan perkebunan kapas sendiri, mendirikan pabrik tekstil, hingga mengelola garmen. Kita harus mampu memproduksi bahan baku secara mandiri. Inilah esensi dari badan usaha koperasi yang sebenarnya,” tegas Ferry dengan penuh optimisme.

Rieke Diah Pitaloka: Koperasi adalah Sekolah Solidaritas

Senada dengan visi Menkop, Anggota Komisi XIII DPR RI sekaligus Ketua Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia, Rieke Diah Pitaloka, memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai filosofi di balik berdirinya koperasi ini. Bagi Rieke, koperasi adalah alat perjuangan ideologis. Ia menegaskan bahwa lembaga ini lahir bukan untuk menumpuk kekayaan pribadi atau kelompok tertentu, melainkan sebagai mesin penggerak kesejahteraan bersama.

“Koperasi ini adalah antitesis dari kerakusan modal. Ini adalah alat untuk memperkuat rakyat yang selama ini tercerai-berai. Di sini, kita membangun kedaulatan ekonomi yang bertumpu pada kepemilikan kolektif,” kata tokoh yang dikenal vokal menyuarakan hak-hak rakyat kecil tersebut. Rieke mengingatkan kembali pesan Bung Karno pada tahun 1965, bahwa koperasi harus menjadi ‘sekolah gotong royong’ di mana rakyat belajar untuk saling menguatkan.

Menurut Rieke, tantangan terbesar bangsa saat ini adalah ketergantungan pada rantai pasok luar negeri. Melalui Koperasi Laskar Juang, ia berharap petani, nelayan, dan pengrajin lokal bisa terorganisir dengan baik sehingga memiliki posisi tawar yang kuat. “Target kita jelas: memutus rantai ketergantungan. Kita harus menguasai teknologi, mengolah bahan baku sendiri, dan menguasai pasar. Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri bukan sekadar slogan, tapi harus menjadi kenyataan pahit yang manis di akhir,” tambahnya.

Wastra Bali dan Ambisi Menembus Pasar Global

Momen peluncuran ini juga menjadi panggung bagi kekayaan budaya lokal, khususnya wastra atau kain tradisional Bali. Geliat ekonomi kreatif yang diusung oleh Koperasi Laskar Juang disambut hangat oleh Badan Pengurus Daerah (BPD) APPMI Provinsi Bali. Kadek Wira Dika, yang baru saja dilantik sebagai Ketua BPD APPMI Bali, menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi demi mengangkat martabat kain tradisional di kancah internasional.

Kadek Wira melihat bahwa sinergi antara desainer dan koperasi adalah kunci untuk melestarikan kearifan lokal sekaligus meningkatkan nilai ekonominya. Bali, sebagai jendela dunia bagi Indonesia, memiliki tanggung jawab besar untuk memperkenalkan keindahan Endek, Tenun, dan Songket ke pasar mode global yang lebih luas.

  • Pelestarian Budaya: Menjaga teknik tenun tradisional agar tidak punah ditelan zaman.
  • Inovasi Desain: Mengadaptasi motif klasik ke dalam busana modern yang diminati pasar global.
  • Akses Pasar: Melalui koperasi, perajin kain tradisional mendapatkan akses pembiayaan dan pemasaran yang lebih adil.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan dari Ibu Rieke Diah Pitaloka dan Kementerian Koperasi. Wadah ini akan menjadi tempat para perancang di Bali untuk lebih produktif dan inovatif. Kami ingin dunia tahu bahwa kain Bali bukan sekadar kain, tapi adalah identitas bangsa yang bernilai tinggi,” tutur Kadek Wira Dika.

Menuju Masa Depan Koperasi yang Modern dan Profesional

Peresmian Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia ini diharapkan menjadi pemantik bagi munculnya gerakan serupa di daerah lain. Dengan pengelolaan yang profesional dan pemanfaatan teknologi, koperasi masa kini dituntut untuk mampu bersaing di era digital. Langkah Menkop Ferry Juliantono yang terjun langsung mengawal inisiatif ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat serius dalam menata ulang struktur ekonomi nasional.

Koperasi bukan lagi sekadar ‘usaha pinggiran’ yang hanya diingat saat krisis. Dengan semangat pemberdayaan rakyat, Koperasi Laskar Juang Indonesia bertekad menjadi bukti bahwa ekonomi kerakyatan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Penutupan acara yang dihiasi dengan atraksi budaya Bali tersebut menjadi simbol harmonisasi antara modernitas ekonomi dan kearifan lokal yang menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *