Waspada Disinformasi: Menguliti Deretan Artikel Palsu yang Mencatut Nama Mantan Presiden Jokowi

Siska Amelia | WartaLog
05 Jun 2026, 17:19 WIB
Waspada Disinformasi: Menguliti Deretan Artikel Palsu yang Mencatut Nama Mantan Presiden Jokowi

WartaLog — Di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital yang kian deras, fenomena penyebaran berita bohong atau hoaks tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Salah satu target yang paling sering menjadi sasaran empuk para oknum tidak bertanggung jawab adalah mantan Presiden Joko Widodo. Meskipun telah purnatugas, narasi-narasi menyesatkan yang mencatut namanya masih saja berseliweran di berbagai platform media sosial, mulai dari Facebook hingga grup-grup percakapan instan.

Hasil investigasi dan penelusuran tim kami menunjukkan bahwa teknik penyebaran hoaks kini semakin canggih, yakni dengan memanipulasi tangkapan layar (screenshot) dari situs berita ternama agar terlihat meyakinkan. Para pelaku sengaja mendistorsi realita demi memicu emosi publik atau sekadar mencari sensasi di ruang siber. Berikut adalah rangkapan mendalam mengenai beberapa artikel palsu yang sempat viral dan telah dipastikan sebagai informasi sesat oleh tim cek fakta.

Read Also

Membongkar Gelombang Disinformasi: Rentetan Hoaks yang Menyerang Anies Baswedan di Ruang Digital

Membongkar Gelombang Disinformasi: Rentetan Hoaks yang Menyerang Anies Baswedan di Ruang Digital

1. Janji Manis Ekonomi: Klaim “Presiden Lagi” yang Dimanipulasi

Salah satu narasi yang paling banyak memancing reaksi netizen adalah sebuah unggahan di Facebook pada pertengahan Mei 2026. Unggahan tersebut menampilkan tangkapan layar yang seolah-olah berasal dari media Gelora News dengan judul yang bombastis: “Joko Widodo: Jika Saya Jadi Presiden Lagi Ekonomi Rakyat Makmur Tidak Ada Lagi Rakyat Kelaparan Dan Buka 15 Juta Lapangan kerja Buat Rakyat.”

Narasi ini sangat berbahaya karena memanfaatkan isu ekonomi yang sensitif di masyarakat. Setelah dilakukan verifikasi mendalam, tidak ditemukan satu pun catatan resmi atau artikel asli yang memuat pernyataan tersebut. Ini adalah bentuk hoax Jokowi yang direkayasa secara visual. Pelaku menggunakan layout situs berita yang sudah ada, lalu mengubah teks judulnya menggunakan alat penyuntingan gambar. Tujuannya jelas, yakni menciptakan polarisasi dan memberikan harapan palsu atau justru bahan ejekan bagi pihak-pihak tertentu di media sosial.

Read Also

Waspada Informasi Palsu: Menguliti Serangkaian Hoaks yang Menyerang PLN dan Cara Mengenali Modusnya

Waspada Informasi Palsu: Menguliti Serangkaian Hoaks yang Menyerang PLN dan Cara Mengenali Modusnya

2. Diplomasi Palsu: Fitnah Gelar dari Raja Salman

Tidak hanya menyerang sisi domestik, penyebar disinformasi juga merambah ranah hubungan internasional. Baru-baru ini, sebuah tangkapan layar yang mencatut nama kantor berita Antara beredar luas. Isinya mengeklaim bahwa Raja Salman dari Arab Saudi memberikan gelar “Amirul Kazzab” kepada Joko Widodo. Bagi mereka yang memahami bahasa Arab, istilah tersebut memiliki konotasi yang sangat buruk, yakni “Pemimpin Para Pendusta”.

Narasi ini adalah bentuk pembunuhan karakter yang sangat keji. Berdasarkan penelusuran di arsip pemberitaan resmi, pihak Kerajaan Arab Saudi justru memiliki hubungan diplomatik yang sangat harmonis dengan pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi. Tidak pernah ada pemberian gelar semacam itu. Manipulasi ini merupakan contoh nyata bagaimana media sosial bisa menjadi tempat yang sangat beracun jika penggunanya tidak memiliki literasi digital yang mumpuni. Klaim tersebut sepenuhnya fiktif dan tidak berdasar pada realitas diplomatik apa pun.

Read Also

Waspada Penipuan! Menguliti Hoaks Link Pendaftaran CPNS Kejaksaan 2026 yang Menghebohkan Media Sosial

Waspada Penipuan! Menguliti Hoaks Link Pendaftaran CPNS Kejaksaan 2026 yang Menghebohkan Media Sosial

3. Tuduhan Suap Fantastis: Serangan Lewat Program MBG

Kasus ketiga yang tak kalah menghebohkan adalah munculnya artikel yang menyeret nama Dadan Hindayana, mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam tangkapan layar palsu yang lagi-lagi mencatut nama Gelora News, disebutkan bahwa Dadan mengeklaim memiliki bukti nota transfer suap sebesar Rp 2 triliun terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengalir ke kantong Jokowi.

Berita ini muncul di tengah perbincangan hangat mengenai program strategis pemerintah. Dengan mencatut angka yang fantastis yakni 2 triliun rupiah, pelaku berharap bisa menciptakan kegaduhan dan ketidakpercayaan publik terhadap integritas pemimpin negara. Namun, setelah divalidasi, Dadan Hindayana tidak pernah memberikan pernyataan tersebut. Seluruh konten dalam tangkapan layar tersebut adalah hasil rekayasa digital yang bertujuan untuk menyebarkan fitnah korupsi tanpa bukti konkret. Masyarakat diharapkan tidak langsung percaya pada berita palsu yang menggunakan angka-angka bombastis tanpa sumber yang jelas.

Mengapa Tokoh Publik Sering Menjadi Sasaran Hoaks?

Fenomena pencatutan nama tokoh publik seperti mantan Presiden Jokowi bukanlah tanpa alasan. Secara psikologis, penyebar hoaks memanfaatkan apa yang disebut dengan confirmation bias atau bias konfirmasi. Orang cenderung lebih mudah percaya pada informasi yang mendukung pandangan politik atau perasaan pribadi mereka, terlepas dari apakah informasi tersebut benar atau salah.

Selain itu, tokoh seperti Jokowi memiliki pengaruh yang sangat luas, sehingga informasi apa pun mengenai dirinya—baik positif maupun negatif—pasti akan mendapatkan keterlibatan (engagement) yang tinggi di platform digital. Bagi pembuat hoaks, tingginya klik, bagikan, dan komentar adalah target utama, entah itu untuk motif ekonomi lewat iklan atau motif politik untuk menjatuhkan reputasi seseorang di mata publik.

Tips WartaLog: Cara Mengenali Tangkapan Layar Berita Palsu

Sebagai pembaca yang cerdas, kita harus membekali diri dengan kemampuan memilah informasi. Berikut adalah beberapa langkah sederhana dari kami untuk mendeteksi apakah sebuah artikel di media sosial itu asli atau palsu:

  • Periksa URL dan Sumber: Jangan hanya percaya pada gambar. Masuklah ke situs berita yang bersangkutan dan gunakan kolom pencarian untuk memastikan berita tersebut benar-benar ada.
  • Cek Kualitas Gambar: Tangkapan layar yang dimanipulasi seringkali memiliki jenis font yang sedikit berbeda, ukuran teks yang tidak proporsional, atau adanya distorsi (blur) di sekitar area tulisan yang diubah.
  • Bandingkan dengan Media Lain: Peristiwa besar seperti pemberian gelar internasional atau dugaan korupsi triliunan rupiah pasti akan diberitakan oleh banyak media nasional sekaligus, bukan hanya satu situs saja.
  • Gunakan Tool Cek Fakta: Anda bisa memanfaatkan situs-situs verifikasi independen atau fitur pencarian gambar di Google (Reverse Image Search) untuk melacak asal-usul foto tersebut.

Melawan penyebaran hoaks adalah tanggung jawab kolektif. Dengan meningkatkan literasi digital, kita tidak hanya melindungi diri sendiri dari penipuan informasi, tetapi juga ikut menjaga kondusivitas ruang siber di Indonesia agar tetap sehat dan produktif. Mari menjadi konsumen informasi yang kritis dan bijak demi masa depan demokrasi yang lebih baik.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *