Jejak Inspiratif Suhardi: Dari Warung Kelontong Tertua hingga Menjadi Jembatan Finansial Masyarakat Bantul

Lerry Wijaya | WartaLog
26 Mei 2026, 09:17 WIB
Jejak Inspiratif Suhardi: Dari Warung Kelontong Tertua hingga Menjadi Jembatan Finansial Masyarakat Bantul

WartaLog — Di sudut Jalan Gatak, Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, berdiri sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu transformasi kawasan pendidikan di Yogyakarta. Toko Cimox, demikian nama gerai tersebut, bukan sekadar tempat berbelanja kebutuhan pokok. Bagi warga sekitar dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), toko ini adalah legenda yang telah bertahan melintasi zaman sejak tahun 2004.

Suhardi, pria berusia 61 tahun yang merupakan nahkoda di balik Toko Cimox, mengenang masa-masa awal ketika usahanya berdiri. Kala itu, kawasan Tamantirto belum sepadat sekarang. Tokonya adalah satu-satunya tumpuan warga untuk mendapatkan sembako. Bahkan, tidak jarang pelanggan setianya harus menempuh perjalanan hingga satu kilometer hanya untuk sekadar membeli beras atau minyak goreng di tempatnya.

Read Also

Seni Upcycling: 12 Cara Mengubah Helm Bekas Menjadi Barang Bernilai Estetik Tinggi

Seni Upcycling: 12 Cara Mengubah Helm Bekas Menjadi Barang Bernilai Estetik Tinggi

Menyaksikan Transformasi Kawasan Pendidikan

Dua dekade berlalu, lanskap di sekitar Jalan Gatak berubah drastis. Pertumbuhan kampus UMY yang pesat membawa gelombang ekonomi baru. Kost-kostan menjamur, warung makan bermunculan, dan kompetisi bisnis ritel pun semakin ketat. Namun, Suhardi tetap bergeming. Ia melihat perubahan ini bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk terus berkembang.

“Dulu saya satu-satunya di sini. Sekarang, dalam radius beberapa meter saja sudah banyak toko baru. Tapi rezeki sudah ada yang mengatur, yang penting kita terus berinovasi,” ujar Suhardi dengan nada bicara yang tenang namun penuh keyakinan. Selain menjual kebutuhan pokok, ia juga menyediakan bensin eceran guna memenuhi kebutuhan mobilitas mahasiswa yang hilir mudik di kawasan tersebut.

Read Also

6 Inspirasi Desain Dapur Terbuka Rumah Type 45: Solusi Hunian Lega, Estetik, dan Bebas Pengap

6 Inspirasi Desain Dapur Terbuka Rumah Type 45: Solusi Hunian Lega, Estetik, dan Bebas Pengap

Titik Balik Menjadi Agen perbankan Digital

Perjalanan Suhardi memasuki dunia digital dimulai pada tahun 2018. Menariknya, tawaran untuk menjadi Agen BRILink datang dari jalur yang tidak terduga. Bukan melalui brosur atau iklan televisi, melainkan melalui jalinan silaturahmi dengan pelanggannya sendiri. Seorang mantan mahasiswa UMY yang kerap membeli galon air di tokonya, yang kemudian bekerja di Bank Rakyat Indonesia (BRI), menawarkan kerja sama tersebut.

Awalnya, Suhardi mengaku sempat ragu. Sebagai pria yang tumbuh di era analog, ia merasa asing dengan istilah digitalisasi. Namun, dorongan untuk memberikan layanan lebih bagi pelanggan membuatnya berani melangkah. Ia mulai mempelajari penggunaan mesin Electronic Data Capture (EDC), sebuah perangkat yang kini menjadi senjata utamanya dalam melayani berbagai transaksi keuangan.

Read Also

7 Rekomendasi Blender Murah Berkualitas di Bawah Rp200 Ribu untuk Dapur Minimalis

7 Rekomendasi Blender Murah Berkualitas di Bawah Rp200 Ribu untuk Dapur Minimalis

Melawan Gagap Teknologi Demi Pelayanan

“Jujur saja, awal-awal itu saya merasa gagap teknologi. Tidak terbayang bagaimana mengoperasikan mesin itu. Tapi untungnya, ada pendampingan. Kini, tidak terasa sudah delapan tahun saya menjalankan peran ini,” kenang Suhardi. Dari yang semula hanya melayani tarik tunai, kini layanannya berkembang mencakup pembayaran listrik, token, pulsa, hingga pengisian saldo e-wallet seperti ShopeePay, GoPay, dan Dana.

Kehadiran layanan perbankan di Toko Cimox ternyata menjawab kebutuhan krusial masyarakat. Letak ATM yang cukup jauh dan berada di seberang jalan lingkar (ringroad) seringkali menjadi kendala bagi warga, terutama saat malam hari. Di sinilah Suhardi hadir sebagai solusi yang lebih dekat dan mudah dijangkau.

Niat Mulia di Balik Transaksi Ekonomi

Bagi Suhardi, menjadi Agen BRILink bukan semata-mata soal mencari margin keuntungan. Meskipun ia hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp2.000 per transaksi, kepuasan batin yang ia dapatkan jauh lebih besar. Ia kerap menjadi penolong bagi tetangganya yang sedang kesulitan finansial mendesak.

Di meja tokonya, terlihat beberapa struk transaksi yang ditempel dengan rapi. Struk-struk itu adalah bukti “talangan” atau pembayaran yang ia dahulukan bagi warga yang belum memiliki uang tunai saat harus membayar tagihan penting. “Biasanya untuk tetangga yang sudah saya kenal baik. Saya bayari dulu tagihannya, nanti kalau mereka sudah ada uang baru diganti. Niat saya memang ingin membantu sesama,” tuturnya tulus.

Penyambung Nafas bagi Pedagang Kecil

Suhardi juga bercerita tentang rutinitas para pedagang pasar yang menjadi pelanggan tetapnya. Menjelang subuh, ketika bank-bank konvensional masih tutup rapat, para pedagang sate dan sayur seringkali datang ke rumahnya melalui pintu belakang untuk melakukan tarik tunai guna modal belanja ke pasar. Jam operasional tokonya yang fleksibel, yakni mulai pukul 06.00 hingga 21.00 WIB, seringkali melar dengan adanya permintaan darurat melalui pesan WhatsApp.

Salah satu momen yang paling ia ingat adalah saat musim kurban tiba. Seorang pedagang sapi harus segera mengirimkan pembayaran ke Madura pada sore hari ketika layanan bank sudah tutup. Lewat genggaman tangan Suhardi dan mesin EDC-nya, transaksi bernilai jutaan rupiah tersebut berhasil diselesaikan dalam hitungan menit. Inilah bukti nyata bagaimana ekonomi kerakyatan tetap berdenyut berkat kehadiran agen-agen di tingkat akar rumput.

Solusi Perbankan Tanpa Batas Jarak

Fenomena keberhasilan Agen BRILink seperti yang dikelola Suhardi juga dirasakan manfaatnya secara nasional. Endah, seorang warga Surabaya yang pernah menetap di Lampung untuk mengelola tambak udang, mengakui betapa vitalnya keberadaan agen semacam ini di daerah yang minim infrastruktur. Kendala sinyal dan jarak tempuh yang jauh menuju kantor cabang bank seringkali menjadi hambatan utama masyarakat di pelosok.

Kini, dengan kebijakan baru yang menyarankan transaksi di bawah Rp4 juta dilakukan melalui agen atau ritel modern, peran Suhardi menjadi semakin sentral. Ia bukan lagi sekadar pemilik warung kelontong, melainkan pahlawan finansial lokal yang memastikan roda ekonomi di Tamantirto terus berputar, bahkan di saat matahari belum terbit atau saat bank-bank besar telah menutup pintunya.

Kisah Suhardi dan Toko Cimox adalah potret nyata bahwa dedikasi dan kejujuran tetap menjadi mata uang paling berharga dalam bisnis. Di balik mesin EDC dan tumpukan sembako, ada semangat untuk melayani dan membantu sesama yang tetap membara, menjadikan tokonya sebagai titik temu antara tradisi dan modernitas finansial di Yogyakarta.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *