Transformasi Gaplek Gunungkidul: Dari Pangan Tradisional Menjadi Cookies Mewah yang Merambah Pasar Dunia

Lerry Wijaya | WartaLog
24 Mei 2026, 13:18 WIB
Transformasi Gaplek Gunungkidul: Dari Pangan Tradisional Menjadi Cookies Mewah yang Merambah Pasar Dunia

WartaLog — Di sudut sunyi Dusun Ngliyan, Desa Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, sebuah aroma manis nan gurih menyeruak dari sebuah rumah produksi sederhana. Siapa sangka, di balik aroma yang menggugah selera tersebut, tersimpan sebuah narasi besar tentang bagaimana panganan tradisional yang sering dianggap sebelah mata kini naik kelas. Olya Widowati Putri, sosok di balik label Delollie Cake & Cookies, berhasil membuktikan bahwa bahan lokal yang identik dengan ‘makanan zaman susah’ bisa bertransformasi menjadi camilan modern yang bersaing di kancah nasional hingga internasional.

Menghapus Stigma: Gaplek yang Tak Lagi ‘Ndeso’

Bagi masyarakat Jawa, khususnya di daerah perbukitan karst, gaplek atau singkong yang dikeringkan adalah simbol ketahanan pangan yang sudah ada sejak dekade silam. Namun, citra gaplek sering kali terjebak dalam stigma makanan pedesaan yang kurang bergengsi. Olya melihat hal ini bukan sebagai hambatan, melainkan peluang emas untuk menciptakan produk kuliner khas Gunungkidul yang memiliki karakter kuat dan berbeda dari kebanyakan oleh-oleh di pasaran.

Read Also

Ketahanan Pangan dari Halaman Rumah: Panduan Profesional Menggabungkan Kolam Lele dan Kebun Kangkung

Ketahanan Pangan dari Halaman Rumah: Panduan Profesional Menggabungkan Kolam Lele dan Kebun Kangkung

Awalnya, Olya tidak langsung terjun ke dunia olahan singkong. Sejak tahun 2014, ia sudah bergelut di dunia usaha dengan menjajakan burger dan minuman cappuccino cincau di pinggir jalan. Namun, insting bisnisnya mengatakan bahwa ia butuh sesuatu yang lebih autentik. “Saya ingin menciptakan produk yang tidak hanya sekadar tren sesaat, tapi memiliki akar sejarah dari tanah kelahiran saya sendiri,” tuturnya saat berbincang hangat dengan tim WartaLog.

Eksperimen Dapur: Mengolah Tekstur Menjadi Sempurna

Perjalanan mengubah gaplek menjadi cookies bukanlah perkara mudah. Tantangan utama terletak pada tekstur tepung gaplek yang cenderung kasar dan memiliki aroma yang sangat khas. Olya memulai eksperimennya dengan menggunakan tepung gaplek milik mertuanya yang biasanya digunakan sebagai bahan baku nasi tiwul. Ia harus melakukan proses penyaringan (sifting) berkali-kali secara manual untuk mendapatkan butiran tepung yang sangat halus, menyerupai tekstur terigu protein rendah.

Read Also

13 Ide Bisnis Camilan Kering Packing Sendiri: Peluang Cuan Rumahan Modal Minim

13 Ide Bisnis Camilan Kering Packing Sendiri: Peluang Cuan Rumahan Modal Minim

Inovasi ini lahir dari kegelisahan Olya akan produk kue basah yang memiliki masa simpan sangat singkat. Ia menyadari bahwa wisatawan yang berkunjung ke Bumi Handayani membutuhkan oleh-oleh unik yang bisa bertahan lama saat dibawa pulang ke kota asal. Setelah melewati berbagai percobaan dan kegagalan (trial and error), lahirlah resep cookies gaplek pertama yang memiliki perpaduan rasa manis alami singkong dengan tekstur yang renyah sekaligus lembut di mulut.

Mahakarya Gluten-Free: Sehat dan Berkelas

Salah satu nilai jual utama dari produk Delollie Cake & Cookies adalah komitmennya terhadap aspek kesehatan. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat, Olya memosisikan produknya sebagai kudapan produk bebas gluten. Karena berbahan dasar singkong, cookies dan brownies buatannya secara alami tidak mengandung protein gluten yang sering dihindari oleh penderita celiac atau mereka yang sedang menjalani diet khusus.

Read Also

Kiat Ibadah Tanpa Beban: Strategi Finansial Cerdas Melaksanakan Kurban di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Kiat Ibadah Tanpa Beban: Strategi Finansial Cerdas Melaksanakan Kurban di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Tidak berhenti di situ, Olya juga melakukan subtitusi bahan pemanis. Alih-alih menggunakan gula pasir putih secara berlebihan, ia memilih menggunakan gula aren atau gula semut. Hasilnya? Sebuah kudapan yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga lebih ramah bagi tubuh. “Banyak pelanggan yang awalnya ragu, mengira rasanya akan aneh karena dari gaplek. Tapi setelah mencoba, mereka justru terkejut. Ada yang bilang rasanya mirip butter cookies premium bermerek terkenal,” ungkap Olya dengan nada bangga.

Strategi Branding dan Kemasan Premium

Olya sangat memahami bahwa dalam dunia bisnis UMKM modern, kualitas rasa harus dibarengi dengan visual yang memikat. Ia menolak untuk mengemas produknya secara asal-asalan. Cookies gaplek buatannya dibalut dalam pouch modern dan toples kaca dengan desain label yang estetik dan informatif. Hal ini dilakukan untuk mengubah persepsi konsumen agar gaplek bisa masuk ke meja makan kalangan menengah ke atas.

Dari segi harga, produk ini sangat kompetitif. Varian kemasan pouch dibanderol mulai dari Rp18.000, sementara untuk kemasan toples yang lebih eksklusif dipatok pada kisaran Rp50.000 hingga Rp65.000. Untuk varian brownies gluten-free yang sangat digemari karena tekstur fudgy-nya, Olya menjualnya dengan harga Rp55.000 per porsi. Dengan masa simpan hingga 12 bulan untuk kategori cookies, produk ini sukses menjadi primadona baru di gerai-gerai buah tangan.

Dukungan Ekosistem BRI: Dari Gunungkidul Menuju China

Kesuksesan Delollie Cake & Cookies tidak lepas dari peran penting ekosistem perbankan yang mendukung pemberdayaan usaha kecil. Melalui pendampingan dari BRI dan Rumah BUMN Yogyakarta, jangkauan pasar Olya meluas secara signifikan. Produknya tidak lagi hanya berputar di wilayah Nglipar, tetapi mulai merambah pusat-pusat pameran besar seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Momen paling membanggakan bagi Olya adalah ketika produk cookies gapleknya terpilih untuk mewakili Indonesia dalam sebuah ajang pameran internasional di China. Keunikan bahan baku lokal yang diolah dengan standar modern menjadi daya tarik luar biasa bagi pengunjung mancanegara. Hal ini menjadi pembuktian otentik bahwa potensi desa jika dikelola dengan inovasi yang tepat, mampu menembus batas-batas negara.

Digitalisasi Sebagai Kunci Akselerasi Bisnis

Memasuki era industri 4.0, Olya tidak ingin usahanya tertinggal. Ia menerapkan transformasi digital dalam sistem operasional dan pembayarannya. Penggunaan QRIS BRI menjadi solusi praktis bagi pelanggan yang ingin bertransaksi secara nontunai, baik di galeri offline maupun saat pameran-pameran UMKM.

“Digitalisasi sangat membantu dalam pencatatan keuangan yang lebih rapi dan memudahkan pembeli yang saat ini jarang membawa uang tunai dalam jumlah banyak,” jelasnya. Dengan visi yang jelas dan kegigihan dalam menjaga kualitas, Olya Widowati Putri bersama Delollie Cake & Cookies telah menorehkan standar baru bagi para pelaku usaha di Gunungkidul. Ia membuktikan bahwa untuk menjadi besar, kita tidak harus meninggalkan identitas lokal, melainkan justru mengemasnya dengan cara-cara yang lebih relevan bagi masa depan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *