Kejutan di Mendizorrotza: Sang Juara Barcelona Tumbang di Tangan Alaves yang Berjuang Lepas dari Degradasi
WartaLog — Ada sebuah pepatah lama dalam sepak bola yang mengatakan bahwa musuh terbesar seorang juara adalah rasa puas diri. Hal inilah yang tampaknya dialami oleh Barcelona saat melawat ke markas Deportivo Alaves dalam lanjutan pekan ke-36 LaLiga musim 2025/26. Bermain di Estadio Mendizorrotza pada Kamis dini hari WIB, sang raksasa Catalan yang baru saja berpesta mengunci gelar juara harus menerima kenyataan pahit: mereka takluk dengan skor tipis 0-1 di tangan tuan rumah yang tengah berjuang mati-matian menghindari jurang degradasi.
Eksperimen Hansi Flick dan Debut Alvaro Cortes
Datang dengan status kampiun LaLiga, pelatih Barcelona, Hansi Flick, memilih untuk melakukan rotasi besar-besaran dalam susunan pemainnya. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Dengan gelar yang sudah di tangan, Flick ingin memberikan menit bermain bagi mereka yang jarang tampil sekaligus menguji mental para pemain muda dari akademi La Masia. Keputusan paling mencolok adalah memberikan kesempatan debut bagi bek muda potensial, Alvaro Cortes, yang langsung dipasang sejak menit awal untuk mengawal lini pertahanan.
Babak Baru Sang Megatron: Megawati Hangestri Resmi Perkuat Hyundai Hillstate di Musim 2026/2027
Selain Cortes, sektor penjaga gawang juga mengalami perubahan. Flick memilih menurunkan kiper veteran Wojciech Szczesny di bawah mistar, mengistirahatkan Joan Garcia yang biasanya menjadi pilihan utama. Di lini depan, nama-nama besar seperti Marcus Rashford dan Robert Lewandowski tetap dipertahankan guna menjaga ketajaman, namun ritme permainan Blaugrana tampak berbeda dari biasanya. Atmosfer pesta juara seolah masih menyelimuti kaki para pemain Barcelona, yang membuat mereka tampil sedikit kurang agresif dibandingkan laga-laga sebelumnya.
Jalannya Pertandingan: Dominasi Tanpa Taji
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Barcelona sebenarnya tetap menunjukkan identitas mereka sebagai tim yang gemar menguasai bola. Statistik menunjukkan penguasaan bola tim tamu mencapai angka yang fantastis, yakni sekitar 75% dalam 30 menit pertama. Marcus Rashford sempat menebar ancaman melalui dua peluang emas di menit-menit awal. Namun, penyelesaian akhir yang terburu-buru dan kokohnya barisan pertahanan Alaves membuat peluang tersebut menguap begitu saja.
Jogja Run D-City 2026: Menggabungkan Sport Tourism dan Hiburan Berkelas di Jantung Kota Pelajar
Alaves, yang didorong oleh motivasi tinggi untuk tetap bertahan di kasta tertinggi Liga Spanyol, bermain sangat disiplin. Mereka menumpuk pemain di area pertahanan dan hanya mengandalkan serangan balik cepat. Nahuel Tenaglia hampir saja mengejutkan Szczesny melalui penetrasi individu yang diakhiri dengan tembakan keras, namun kiper asal Polandia tersebut masih sigap mengamankan gawangnya. Meski kalah dominan, Alaves terlihat jauh lebih efektif saat mendapatkan momentum serangan.
Petaka di Masa Injury Time Babak Pertama
Keasyikan menyerang justru menjadi bumerang bagi Barcelona. Tepat pada masa injury time babak pertama (45+1′), stadion bergemuruh menyambut gol pembuka tuan rumah. Berawal dari skema sepak pojok, Marcus Rashford mencoba membuang bola namun sapuannya kurang sempurna. Bola liar kemudian disundul kembali oleh Antonio Blanco ke jantung pertahanan Barcelona. Di sanalah Ibrahim Diabate berdiri bebas tanpa pengawalan berarti.
Badai Eksodus Anfield: Curtis Jones Pertimbangkan Angkat Kaki dari Liverpool?
Dengan insting gol yang tajam, Diabate melepaskan tembakan voli keras yang menghujam gawang Szczesny dari jarak dekat. Gol tersebut seolah menjadi tamparan keras bagi lini belakang Barcelona yang terlihat kurang koordinasi, terutama di sektor yang dijaga oleh debutan Cortes. Skor 1-0 untuk keunggulan Alaves bertahan hingga turun minum, memaksa Hansi Flick harus memutar otak lebih keras di ruang ganti.
Kebuntuan di Paruh Kedua dan Ancaman Alaves
Memasuki babak kedua, Flick mencoba mengubah dinamika permainan dengan memasukkan sejumlah pemain kunci. Pedri, Ferran Torres, dan Gerard Martin masuk menggantikan Casado, Roony, dan Cubarsi. Perubahan ini memang membawa energi baru bagi serangan Barcelona, namun tembok pertahanan Alaves yang dikomandoi oleh Sivera tampil luar biasa solid. Setiap upaya penetrasi yang dibangun oleh Dani Olmo maupun umpan-umpan silang Balde selalu berhasil dipatahkan.
Alih-alih menyamakan kedudukan, gawang Barcelona justru nyaris kebobolan untuk kedua kalinya pada menit ke-72. Sebuah serangan balik kilat membuat Guridi mendapatkan ruang tembak di luar kotak penalti. Bola hasil sepakannya meluncur deras, namun Dewi Fortuna masih berpihak pada Barcelona karena bola hanya membentur tiang gawang. Kegagalan Alaves menambah gol memberikan harapan bagi Barca, namun hingga peluit panjang dibunyikan, tak ada satu pun gol penyeimbang yang tercipta.
Dampak Klasemen dan Pupusnya Ambisi 100 Poin
Kekalahan ini bagi Barcelona bukan sekadar hilangnya tiga poin, melainkan juga pupusnya ambisi untuk mencatatkan rekor 100 poin di akhir musim. Dengan koleksi 91 poin saat ini dan hanya menyisakan dua laga, perolehan maksimal Barcelona hanyalah 97 poin. Ini merupakan kekalahan pertama Hansi Flick di kasta domestik sejak bulan Februari lalu, sebuah catatan yang sedikit mencoreng pesta juara mereka.
Di sisi lain, bagi Deportivo Alaves, kemenangan ini terasa seperti memenangkan trofi juara. Tambahan tiga angka sangat krusial bagi misi penyelamatan mereka dari ancaman degradasi. Dengan total 40 poin, Alaves kini meroket ke peringkat 15 klasemen sementara, keluar dari zona merah dan memberikan napas lega bagi para pendukungnya. Semangat juang yang mereka tunjukkan menjadi bukti bahwa motivasi untuk bertahan hidup seringkali lebih kuat daripada prestise sebuah trofi yang sudah didapatkan.
Analisis dan Evaluasi Tim Catalan
Pasca pertandingan, pengamat sepak bola menyoroti bagaimana Barcelona seringkali kesulitan menghadapi tim yang bermain dengan blok pertahanan rendah (low block) ketika intensitas permainan mereka menurun. Kurangnya urgensi di sepertiga akhir lapangan menjadi evaluasi besar bagi Flick. Meskipun memenangkan liga adalah prestasi luar biasa, performa seperti ini bisa menjadi sinyal bahaya jika terbawa ke kompetisi lain atau musim depan.
Debut Alvaro Cortes juga menjadi bahan pembicaraan. Meski terlibat dalam proses gol lawan, pemain muda ini menunjukkan potensi besar dalam distribusi bola. Pengalaman pahit di Mendizorrotza diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi proses pendewasaan karirnya di tim utama. Kini, Barcelona harus segera bangkit dan mengakhiri musim dengan kepala tegak di dua pertandingan tersisa guna menjaga kehormatan mereka sebagai penguasa Spanyol yang baru.
Kekalahan ini juga menjadi pengingat bagi manajemen untuk tetap memperkuat kedalaman skuad di bursa transfer pemain mendatang. Ketergantungan pada beberapa pilar utama terlihat jelas saat rotasi dilakukan secara ekstrim. Meski demikian, perayaan gelar juara tetap akan terus berlanjut di Catalonia, karena secara matematis, tak ada lagi yang bisa mengejar posisi mereka di puncak klasemen.