Berani Tantang Dedi Mulyadi hingga Janji ‘Cium Lutut’, Mengintip Koleksi Kendaraan Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan

Rendra Putra | WartaLog
12 Apr 2026, 15:26 WIB
Berani Tantang Dedi Mulyadi hingga Janji 'Cium Lutut', Mengintip Koleksi Kendaraan Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan

WartaLog — Sosok Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah melontarkan pernyataan yang cukup berani. Ia menyatakan kesiapannya untuk ‘mencium lutut’ tokoh politik Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), jika pria yang akrab disapa Kang Dedi tersebut mampu membangun infrastruktur jalan di Kalimantan Barat hanya dengan bermodalkan APBD sebesar Rp 6 triliun.

Pernyataan emosional ini muncul sebagai respons atas keluhan warga di media sosial yang membandingkan kondisi jalanan di Kalimantan Barat dengan kemajuan infrastruktur di Jawa Barat. Di balik tensi politik dan perdebatan mengenai infrastruktur jalan tersebut, menarik untuk melihat sisi lain dari sang Wagub, terutama mengenai apa saja yang terparkir di dalam garasi pribadinya.

Read Also

Insentif Mobil Listrik Dicabut: Akhir Masa ‘Bulan Madu’ Bagi Pembeli Pertama di Indonesia?

Insentif Mobil Listrik Dicabut: Akhir Masa ‘Bulan Madu’ Bagi Pembeli Pertama di Indonesia?

Isi Garasi Krisantus Kurniawan: Dari Jeep Tangguh hingga Mobil Harian

Berdasarkan penelusuran tim WartaLog melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Krisantus Kurniawan tercatat memiliki total kekayaan mencapai Rp 3.863.000.000. Laporan ini disampaikan pada Maret 2025 sebagai bagian dari transparansi saat awal menjabat sebagai Wakil Gubernur.

Dari total kekayaan tersebut, aset dalam bentuk alat transportasi dan mesin menyumbang angka sebesar Rp 963.000.000. Berikut adalah deretan kendaraan yang dimiliki oleh Krisantus:

  • Jeep Cherokee Trailhawk 2.4A (2015): Ini merupakan aset termahal di garasinya dengan nilai taksiran Rp 650.000.000. Mobil ini dikenal tangguh untuk medan berat, selaras dengan kondisi geografis Kalimantan Barat yang menantang.
  • Ford Ecosport 1.5L MT-Trend (2014): Sebuah SUV kompak yang bernilai sekitar Rp 110.000.000.
  • Nissan Terrano/K3 Kingroad 2.4L (2006): Mobil legendaris yang dikenal memiliki durabilitas tinggi, ditaksir senilai Rp 100.000.000.
  • Toyota Yaris 1.5 S M/T (2015): Untuk mobilitas perkotaan, Krisantus memiliki hatchback populer ini dengan nilai Rp 85.000.000.
  • Honda Vario (2016): Satu-satunya kendaraan roda dua dalam laporan tersebut, dengan nilai sekitar Rp 18.000.000.

Duduk Perkara Tantangan ‘Cium Lutut’

Ketegangan ini bermula saat Krisantus menghadiri Musrenbang di Pendopo Bupati Sintang. Ia mengaku terusik dengan video viral di TikTok yang dibuat oleh warga Sepauk, Kabupaten Sintang. Dalam video tersebut, warga mengeluhkan kerusakan jalan di wilayah Bedayan dan meminta bantuan Dedi Mulyadi karena merasa pemerintah daerah setempat tidak berbuat banyak.

Read Also

Jadwal Lengkap MotoGP Prancis 2026: Dominasi Aprilia Terancam di Tengah Aroma Balas Dendam Ducati

Jadwal Lengkap MotoGP Prancis 2026: Dominasi Aprilia Terancam di Tengah Aroma Balas Dendam Ducati

“Silakan saja, suruh Dedi Mulyadi jadi Gubernur Kalbar. Saya mau lihat, tapi pakai APBD Rp 6 triliun bangun Kalbar. Kalau dia bisa, saya cium lututnya,” ujar Krisantus dengan nada tegas. Ia menilai perbandingan antara Kalbar dan Jawa Barat sangat tidak apel-ke-apel atau tidak adil.

Menurutnya, Jawa Barat memiliki luas wilayah hanya sekitar 43 ribu km persegi namun didukung anggaran APBD mencapai Rp 31 triliun. Sebaliknya, Kalimantan Barat memiliki wilayah yang jauh lebih luas, yakni sekitar 171 ribu km persegi, namun hanya ditopang oleh anggaran sekitar Rp 6 triliun. Ketimpangan rasio antara luas wilayah dan anggaran inilah yang menjadi alasan utama sulitnya pemerataan pembangunan jalan di wilayah tersebut.

Read Also

Menakar Komitmen BYD: Menagih Janji Lokalisasi dan TKDN 40 Persen di Industri EV Nasional

Menakar Komitmen BYD: Menagih Janji Lokalisasi dan TKDN 40 Persen di Industri EV Nasional

Komitmen Pemerintah Meski Terbentur Fiskal

Walaupun sempat melontarkan pernyataan keras, Krisantus menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam melihat penderitaan warga. Ia menjelaskan bahwa semakin luas wilayah, maka beban biaya pembangunan infrastruktur akan semakin membengkak. Hal inilah yang seringkali memicu salah paham di tengah masyarakat.

Pemerintah Provinsi melalui Unit Pelaksana Jalan dan Jembatan (UPJJ) dilaporkan telah mulai menerjunkan alat berat untuk menangani titik-titik kerusakan yang viral tersebut. Krisantus memastikan bahwa meski kemampuan fiskal daerah terbatas, upaya perbaikan tetap menjadi prioritas demi kelancaran ekonomi masyarakat Kalimantan Barat.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *