Efek Trump: Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Harga Bitcoin Tembus Rp 1,2 Miliar
WartaLog — Angin segar berembus ke pasar finansial global setelah tensi panas antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda. Langkah mengejutkan Presiden Donald Trump yang mengumumkan rencana gencatan senjata sukses memicu gairah investor, yang berdampak langsung pada lonjakan harga aset kripto primadona, Bitcoin (BTC).
Berdasarkan pantauan data dari Coinmarketcap, Bitcoin terpantau merangkak naik sekitar 0,86 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Aset digital ini bertengger manis di level US$ 72.793, atau jika dikonversi ke mata uang Garuda menembus angka fantastis Rp 1,2 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.089 per dolar AS.
Sentimen Geopolitik Sebagai Bahan Bakar Utama
Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengungkapkan bahwa pengumuman gencatan senjata ini menjadi katalisator positif yang dinantikan pasar. Menurutnya, meredanya risiko perang membuat para pemodal kembali melirik instrumen investasi yang lebih berisiko. Tidak hanya Bitcoin, indeks saham bergengsi S&P 500 pun dilaporkan ikut terangkat hingga 1,9 persen.
Langkah Berani OJK Perkuat Transparansi Pasar Modal: Menuju Standar Global dan Kepercayaan Investor
“Reli yang kita saksikan pada Bitcoin saat ini lebih merupakan refleksi dari pergeseran sentimen makro global. Ketika risiko geopolitik menyusut, Bitcoin cenderung bergerak harmonis dengan aset berisiko lainnya,” tutur Fyqieh dalam analisis tertulisnya.
Analisis Teknikal dan Potensi Harga Mendatang
Melihat performa saat ini, Fyqieh memproyeksikan harga Bitcoin masih memiliki ruang untuk mendaki lebih jauh menuju level US$ 73.500 atau sekitar Rp 1,25 miliar. Syarat utamanya, harga Bitcoin harus mampu mempertahankan pijakannya di atas level support US$ 71.500.
Namun, ia juga memberikan catatan penting. Investor disarankan tetap waspada karena stabilitas ini sangat bergantung pada keberlangsungan perdamaian tersebut. “Jika eskalasi konflik kembali memanas, ada risiko koreksi menuju area support di kisaran US$ 68.700 atau Rp 1,17 miliar. Stabilitas makro tetap menjadi kunci vital bagi pergerakan pasar ke depan,” tambahnya.
Misteri Lonjakan Harga Minyakita Terungkap: Menko Pangan Beberkan Strategi Amankan Stok Pasar
Geliat Pasar Derivatif dan Momentum Bullish
Selain faktor politik, lonjakan ini juga dipicu oleh dinamika internal di pasar derivatif. Baru-baru ini, terjadi aksi likuidasi besar-besaran terhadap posisi short senilai US$ 427 juta. Fenomena ini menciptakan efek domino yang memicu tekanan beli masif, memperkuat momentum kenaikan harga setelah berhasil menembus level Fibonacci penting di angka US$ 71.515.
Secara teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) 7 hari menunjukkan angka 67,49. Meskipun angka ini menandakan tren bullish yang kuat, posisi tersebut dinilai masih aman karena belum menyentuh wilayah jenuh beli (overbought). Kombinasi antara terobosan level teknikal kunci dan likuidasi pasar derivatif memberikan validasi kuat bahwa tren kenaikan ini masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Menuju Kemandirian Energi: CNG Jadi Kartu AS Pemerintah Gantikan Ketergantungan Impor LPG