Motor Listrik MBG Disebut Mirip Produk China, Mengungkap Sisi Lain Fenomena White Label di Tanah Air

Rendra Putra | WartaLog
15 Apr 2026, 09:19 WIB
Motor Listrik MBG Disebut Mirip Produk China, Mengungkap Sisi Lain Fenomena White Label di Tanah Air

WartaLog — Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh temuan warganet yang menyoroti kemiripan antara motor trail listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan produk asal China. Isu ini mencuat setelah sejumlah pengguna media sosial menemukan unit yang identik dengan EMMO JVX GT di platform marketplace global dengan harga yang terpaut sangat jauh.

Dugaan bahwa motor tersebut merupakan hasil rebranding dari produk China kian menguat. Model Kollter ES1-X PRO disebut-sebut sebagai kembaran identik dari unit yang digunakan dalam program pemerintah tersebut. Di situs Alibaba, motor serupa dibanderol hanya sekitar Rp 10 jutaan untuk pembelian satuan, bahkan bisa turun ke angka Rp 8 jutaan jika dibeli dalam jumlah banyak. Perbedaan harga yang mencolok inilah yang kemudian memicu spekulasi di tengah masyarakat mengenai transparansi pengadaan motor listrik tersebut.

Read Also

Pamor Mobil Murah Meredup: Menelusuri Jejak Kejayaan LCGC hingga Tantangan Mobil Listrik

Pamor Mobil Murah Meredup: Menelusuri Jejak Kejayaan LCGC hingga Tantangan Mobil Listrik

Memahami Praktik White Label di Industri Otomotif

Merespons kegaduhan tersebut, Hendro Sutono, seorang pengamat sekaligus pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), memberikan pandangan yang lebih mendalam. Menurutnya, praktik rebranding atau rebadge dari produk white label adalah hal yang sangat lumrah dalam industri kendaraan listrik global, terutama yang bersumber dari pabrikan China.

“Praktik ini sebenarnya sangat umum,” ungkap Hendro. Ia menjelaskan bahwa produk white label diproduksi oleh pabrik tanpa merek tertentu, sehingga perusahaan lain dapat membeli dan menyematkan merek mereka sendiri. Meski demikian, ia mencatat bahwa masih ada merek yang benar-benar melakukan rancang bangun mandiri di Indonesia, seperti Gesits, Maka, atau Quest.

Read Also

Strategi Mitsubishi Fuso Perkuat Ekosistem Cold Chain Indonesia melalui Varian Canter Andalan

Strategi Mitsubishi Fuso Perkuat Ekosistem Cold Chain Indonesia melalui Varian Canter Andalan

Hendro menambahkan bahwa banyak produsen di Indonesia yang mengawali langkah mereka melalui skema ini sebelum akhirnya perlahan meningkatkan lokalisasi komponen, mulai dari rangka, bodi, hingga velg untuk memenuhi standar produksi dalam negeri.

Realita Harga: Mengapa Harga di Alibaba Tidak Bisa Jadi Patokan?

Salah satu poin yang paling banyak diperdebatkan adalah soal harga. Namun, Hendro mengingatkan bahwa harga yang tertera di platform business-to-business (B2B) seperti Alibaba bukanlah harga bersih sampai di tangan konsumen. Harga tersebut biasanya menggunakan skema Free on Board (FOB) atau Ex Works (EXW), yang berarti belum mencakup berbagai biaya tambahan yang signifikan.

“Mari kita hitung secara logis. Jika harga dasar di China adalah Rp 10 juta, begitu masuk ke pelabuhan menuju Indonesia, ada biaya pengiriman dan asuransi kargo yang menambah beban sekitar 5-10%. Nilai CIF (Cost, Insurance, Freight) inilah yang menjadi basis perhitungan pajak di Indonesia,” jelasnya.

Read Also

Langkah Strategis Mendagri Perpanjang Insentif Pajak Kendaraan Listrik: Angin Segar Bagi Ekosistem Hijau di Indonesia

Langkah Strategis Mendagri Perpanjang Insentif Pajak Kendaraan Listrik: Angin Segar Bagi Ekosistem Hijau di Indonesia

Berikut adalah beberapa komponen biaya yang membuat harga produk China melambung tinggi saat resmi dipasarkan di Indonesia:

  • Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 2,5%.
  • Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor sebesar 12%.
  • Bea Masuk (kecuali bagi produsen yang mendapatkan insentif IKD/CKD).
  • Biaya logistik domestik dari pelabuhan ke gudang.
  • Biaya perakitan di pabrik lokal, termasuk upah tenaga kerja dan kontrol kualitas.
  • Biaya pengujian dan sertifikasi tipe dari Kementerian Perhubungan.

Dengan deretan biaya tersebut, Hendro menilai wajar jika motor yang harga dasarnya Rp 10 juta di China bisa melonjak hingga Rp 40 jutaan saat dijual secara resmi di Indonesia. Hal ini belum termasuk spesifikasi teknis yang dipesan secara khusus oleh pembeli.

Kualitas yang Berbeda Meski Tampang Serupa

Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kemiripan bentuk luar tidak selalu menjamin kesamaan jeroan. Hendro menganalogikan industri manufaktur ini seperti penjahit massal. Pabrikan China menjual kapasitas produksi (OEM/ODM), di mana spesifikasi akhir seperti kualitas sel baterai, kekuatan motor, hingga sistem pengereman ditentukan sepenuhnya oleh pihak pemesan.

Sebagai contoh, motor trail listrik Emmo yang digunakan dalam program MBG telah dibekali motor bertenaga 7.000 Watt dan baterai 72V 31Ah dengan fitur fast charging. Selain itu, ada jaminan garansi rangka dan baterai serta kewajiban lulus uji tipe. Hal-hal tersebut tentu tidak akan didapatkan pada produk mentah dengan spesifikasi terendah yang seringkali terpampang di marketplace global.

Fenomena ini menjadi pengingat bagi konsumen di industri otomotif bahwa sebuah merek bukan sekadar tempelan logo, melainkan representasi dari standar kualitas, layanan purna jual, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di tanah air.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *