Eskalator Stasiun Duri Kembali Beroperasi: Penumpang Lega Tak Lagi Berdesakan Bak ‘Pepes’

Akbar Silohon | WartaLog
14 Okt 2026, 11:18 WIB
Eskalator Stasiun Duri Kembali Beroperasi: Penumpang Lega Tak Lagi Berdesakan Bak 'Pepes'

WartaLog — Kabar gembira datang bagi para pejuang transportasi umum, khususnya mereka yang setiap hari harus berjibaku di hiruk-pikuk perlintasan kereta api Jakarta. Setelah sempat mengalami gangguan teknis yang cukup menghebohkan, eskalator di peron lima Stasiun Duri akhirnya dinyatakan kembali beroperasi normal. Bagi para ‘Anker’ alias Anak Kereta, kembalinya fasilitas ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan tentang martabat dan ruang bernapas yang sangat berharga di tengah padatnya arus transit.

Wajah Baru Kenyamanan di Stasiun Duri

Pagi itu, suasana di Stasiun Duri tampak sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jika sepekan terakhir pemandangan di sekitar peron lima diwarnai dengan antrean yang mengular dan wajah-wajah lelah yang harus menaiki tangga manual atau berdesakan di akses yang terbatas, kini eskalator yang sempat ‘mogok’ itu sudah kembali bergerak harmonis. Fasilitas ini merupakan urat nadi bagi penumpang yang hendak berpindah kereta atau keluar dari area stasiun.

Read Also

Strategi Prabowo Hadapi Krisis El Nino: Mandat Khusus untuk BRIN Perkuat Inovasi Teknologi Air

Strategi Prabowo Hadapi Krisis El Nino: Mandat Khusus untuk BRIN Perkuat Inovasi Teknologi Air

Kembalinya operasional eskalator ini disambut dengan napas lega oleh para penumpang. Nora, salah satu pengguna setia KAI Commuter asal Tangerang, mengungkapkan rasa syukurnya. Ia yang biasanya tiba di Stasiun Duri sekitar pukul 07.00 WIB merasa beban perjalanannya pagi ini berkurang drastis. Baginya, eskalator yang berfungsi dengan baik adalah kunci agar mobilitasnya menuju tempat kerja tidak terhambat oleh kelelahan fisik sebelum sampai di kantor.

Cerita Nora: Dari ‘Pepes’ Menuju Kelegaan

“Pagi ini sesuai yang dijanjikan, eskalatornya sudah beroperasi normal. Antrean memang masih ada, itu hal yang lumrah di jam sibuk, tapi setidaknya tidak sepadat kemarin-kemarin yang benar-benar menyesakkan,” ujar Nora saat berbincang dengan tim WartaLog. Ia menggambarkan betapa beratnya situasi ketika eskalator tersebut rusak. Penumpang yang menumpuk di satu titik membuat pergerakan menjadi sangat terbatas, menciptakan suasana yang ia ibaratkan seperti ikan yang dibungkus dalam pepes.

Read Also

Sikap Tegas SMAN 1 Pontianak di LCC MPR: Antara Integritas, Sportivitas, dan Perlindungan dari Intimidasi

Sikap Tegas SMAN 1 Pontianak di LCC MPR: Antara Integritas, Sportivitas, dan Perlindungan dari Intimidasi

Nora menambahkan bahwa dengan berfungsinya kembali fasilitas ini, ia merasa lebih manusiawi saat bertransit. “Lebih bisa napas, lebih bisa napak dengan tenang. Bahkan hemat suara juga karena tidak perlu teriak-teriak untuk meminta jalan atau mengatur antrean sendiri secara spontan. Anehnya, meskipun tetap harus mengantre, saya merasa lebih lega karena sudah merasakan pengalaman yang jauh lebih parah sebelumnya,” tuturnya sembari tersenyum kecil.

Mengurai Masalah Teknis: Mengapa Eskalator Bisa Berjalan Mundur?

Kejadian pada Sabtu (3/10) lalu memang sempat memicu kekhawatiran massal. Eskalator yang secara mendadak bergerak mundur saat sedang penuh dinaiki penumpang menimbulkan risiko keselamatan yang serius. Menanggapi hal tersebut, VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, memberikan penjelasan mendalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik layar teknis fasilitas tersebut.

Read Also

Skandal Kekerasan Guru di Medan: Mengulik Balik Insiden Pemukulan 10 Siswa Akibat Lalai Tugas Sekolah

Skandal Kekerasan Guru di Medan: Mengulik Balik Insiden Pemukulan 10 Siswa Akibat Lalai Tugas Sekolah

Berdasarkan investigasi tim teknis di lapangan, ditemukan adanya kendala pada sistem penggerak eskalator. Namun, yang mengejutkan adalah faktor pemicunya. Kerusakan tersebut ditengarai terjadi akibat beban entakan yang berlebihan dari para pengguna yang sering berlari atau berjalan dengan tergesa-gesa saat berada di atas eskalator yang sedang bergerak. Gaya beban dinamis yang tidak stabil ini memberikan tekanan luar biasa pada rantai penggerak dan sistem pengereman mesin.

Oleh karena itu, pihak pengelola kini lebih memperketat pengawasan dan memberikan edukasi kepada para penumpang. Edukasi mengenai cara menggunakan fasilitas publik dengan benar menjadi sangat krusial. Penumpang sangat tidak disarankan untuk mendahului atau berlari di atas eskalator demi menjaga keawetan mesin dan, yang terpenting, menjamin keselamatan diri sendiri serta orang lain yang berada di eskalator tersebut.

Tantangan Stasiun Duri sebagai Titik Transit Utama

Meskipun eskalator telah diperbaiki, keluhan para penumpang tidak berhenti sampai di situ. Stasiun Duri selama ini dikenal sebagai salah satu titik transit paling menantang di wilayah Jabodetabek. Menghubungkan jalur Tangerang, jalur melingkar (Loop Line), dan kereta bandara, stasiun ini menanggung beban volume penumpang yang sangat masif setiap harinya.

Nora, mewakili suara banyak penumpang kereta, berharap ada langkah nyata dari pihak berwenang untuk meningkatkan kapasitas fasilitas. “Ditambahin saja fasilitasnya, seperti eskalator tambahan atau tangga manual yang lebih lebar agar aliran penumpang bisa terpecah dan tidak menumpuk di satu titik saja. Perawatan atau maintenance rutin juga harus dilakukan tanpa menunggu rusak terlebih dahulu,” harapnya. Menurutnya, kondisi Stasiun Duri saat ini masih membutuhkan banyak sentuhan perbaikan untuk benar-benar layak disebut sebagai stasiun transit yang modern dan ramah pengguna.

Menjaga Fasilitas Publik: Tanggung Jawab Bersama

Pihak KAI Commuter sendiri menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pengecekan secara berkala terhadap seluruh aset di stasiun-stasiun strategis. Namun, mereka juga menekankan bahwa peran masyarakat dalam menjaga fasilitas sangatlah besar. Kesadaran untuk tidak melakukan tindakan yang merusak, seperti menghentakkan kaki secara sengaja atau melanggar batas beban, akan sangat membantu memperpanjang usia pakai eskalator.

Ke depannya, diharapkan ada integrasi yang lebih baik antara manajemen arus penumpang dan ketersediaan infrastruktur. Dengan volume penumpang yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan hunian di pinggiran Jakarta, transportasi umum harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman. Perbaikan eskalator di Stasiun Duri ini diharapkan menjadi titik balik bagi perbaikan fasilitas pendukung lainnya di sepanjang jalur commuter line.

Kini, para penumpang di Stasiun Duri bisa sedikit menarik napas lega. Perjalanan pagi yang melelahkan setidaknya sedikit terbantu dengan infrastruktur yang berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, dan dukungan dari semua pihak sangat dibutuhkan agar insiden serupa tidak terulang kembali di masa depan. Stasiun Duri yang lebih nyaman bukan lagi sekadar impian, melainkan kebutuhan mendesak yang harus terus diupayakan bersama.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *