Kisah Sudaryono Menghadapi ‘Badai’ di Badan Gizi Nasional: Dari Rasa Kesepian Hingga Komitmen Ketahanan Pangan

Akbar Silohon | WartaLog
13 Okt 2026, 21:17 WIB
Kisah Sudaryono Menghadapi 'Badai' di Badan Gizi Nasional: Dari Rasa Kesepian Hingga Komitmen Ketahanan Pangan

WartaLog — Di balik megahnya narasi program prioritas nasional, tersimpan cerita humanis tentang beban berat yang dipikul oleh para pelaksananya. Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), baru-baru ini membuka tabir emosional mengenai masa-masa awal jabatannya yang penuh tantangan. Dalam sebuah pengakuan yang jujur dan menyentuh, ia mengungkapkan sempat merasa terisolasi atau ‘lonely’ saat harus menakhodai lembaga baru ini di tengah berbagai hantaman krisis yang muncul secara bertubi-tubi.

Kisah ini terungkap saat Sudaryono menghadiri pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Aceh di Aceh Besar. Di hadapan para petani dan tokoh masyarakat, sosok yang akrab disapa Mas Dar ini menceritakan betapa beratnya satu bulan pertama mengawal program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif yang menjadi tumpuan harapan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Read Also

Budisatrio Djiwandono Kobarkan Semangat Bulan Bakti Karang Taruna 2026: Dari Desa Menuju Transformasi Sosial Nasional

Budisatrio Djiwandono Kobarkan Semangat Bulan Bakti Karang Taruna 2026: Dari Desa Menuju Transformasi Sosial Nasional

Badai di Bulan Pertama: Ujian Integritas dan Mental

Menjadi pemimpin di lembaga yang baru seumur jagung seperti Badan Gizi Nasional bukanlah perkara mudah. Sudaryono mengakui bahwa periode awal jabatannya dipenuhi dengan insiden yang menguras energi dan pikiran. Belum genap dua bulan menjabat, ia sudah dihadapkan pada laporan kasus keracunan makanan di beberapa titik lokasi pelaksanaan uji coba program gizi.

“Begitu ada kasus demi kasus di awal saya menjabat, tepatnya di bulan pertama, tekanan itu terasa sangat nyata. Ada laporan keracunan makanan dan berbagai persoalan teknis lainnya yang muncul di lapangan,” kenang Sudaryono. Menurutnya, situasi tersebut menciptakan atmosfer yang mencekam bagi seorang pejabat publik yang baru saja menerima mandat besar dari Presiden.

Read Also

Skandal Lirik Vulgar: DJ Icha Chellow dan Mala Agatha Terjerat Kasus Hukum Akibat Modifikasi Lagu ‘Gapapa’

Skandal Lirik Vulgar: DJ Icha Chellow dan Mala Agatha Terjerat Kasus Hukum Akibat Modifikasi Lagu ‘Gapapa’

Ia menggambarkan bagaimana masalah-masalah tersebut seolah membuat orang-orang di sekitarnya menarik diri. Fenomena ‘menjauh’ saat badai datang inilah yang membuatnya merasa berjalan sendirian. Beban moral untuk memastikan keamanan pangan bagi jutaan anak Indonesia bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh, dan tekanan tersebut mulai memanifestasikan diri pada kondisi fisiknya.

Efek Fisik dan Psikologis yang Nyata

Kejujuran Sudaryono berlanjut saat ia menceritakan dampak tekanan tersebut terhadap kesehatannya. Ia menyebutkan bahwa stres yang dialaminya tercermin jelas pada perubahan fisiknya. Mata yang lelah, kantong mata yang menghitam, hingga munculnya uban secara mendadak menjadi saksi bisu dari kerja keras dan kekhawatiran yang ia alami setiap malam.

Read Also

Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis: Jerat Hukum Kolonel Budi Utomo dan Pusaran Kerugian Negara Rp 10 Triliun

Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis: Jerat Hukum Kolonel Budi Utomo dan Pusaran Kerugian Negara Rp 10 Triliun

“Mohon maaf saja, saya pernah merasa sangat kesepian sebagai Kepala BGN. Mungkin karena masalahnya begitu banyak dan kompleks, orang-orang cenderung menghindari saya. Saat itu, kondisi fisik saya benar-benar drop. Kantong mata tebal, uban bertambah banyak, dan rasa gundah itu tidak bisa disembunyikan,” tuturnya dengan nada reflektif.

Dalam dunia politik dan birokrasi yang sering kali transaksional, Sudaryono merasakan betul siapa yang benar-benar berdiri di sampingnya saat situasi sedang tidak berpihak. Ia menekankan bahwa dalam kondisi sulit, empati sering kali menjadi barang langka yang paling dibutuhkan oleh seorang pemimpin.

Persahabatan Sejati di Tengah Krisis

Di tengah kegalauan tersebut, Sudaryono menyebut satu nama yang menjadi tumpuan moralnya: T.A. Khalid, Ketua DPD HKTI Aceh yang baru saja dilantiknya. Menurut Sudaryono, di saat banyak pihak memilih untuk menjaga jarak agar tidak terseret arus masalah di BGN, Khalid justru hadir dengan simpati yang tulus.

“Pak TA Khalid telepon saya. Beliau berbicara dengan nada yang sangat prihatin, bahkan hampir menangis karena kasihan melihat beban yang saya tanggung. Di momen satu bulan pertama itu, tidak banyak orang yang menelepon untuk menawarkan bantuan atau sekadar berempati. Beliau membuktikan diri sebagai kawan sejati di saat susah,” ungkap Sudaryono dengan penuh haru.

Dukungan moral semacam ini, menurutnya, menjadi bahan bakar tambahan bagi dirinya untuk terus maju dan membenahi sistem di dalam BGN agar program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan dengan standar keamanan yang maksimal.

Transparansi dan Ketegasan: ‘Sikat’ Dapur yang Bermasalah

Sudaryono menegaskan bahwa dirinya tidak akan menutup-nutupi kekurangan yang ada dalam pelaksanaan program gizi nasional. Sebaliknya, ia mendorong masyarakat dan netizen untuk berani bersuara jika menemukan penyimpangan atau kualitas makanan yang buruk di lapangan.

Ia menyatakan tidak keberatan jika ada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang viral di media sosial karena pelayanan atau pengolahan limbah yang buruk. Baginya, kritik publik adalah bagian dari sistem pengawasan eksternal yang efektif.

“Kalau memang ada temuan menu yang tidak layak atau pengolahan limbah dapur yang buruk, laporkan saja di media sosial. Tidak masalah bagi saya. Begitu ada laporan dan terbukti benar, saya sendiri yang akan turun tangan untuk memeriksa dan kalau perlu langsung saya tutup dapurnya saat itu juga,” tegas Sudaryono. Sikap tanpa kompromi ini diambil demi menjamin keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat utama program ini.

Jejak Pengabdian: Dari Pertanian Menuju Gizi Nasional

Sebelum mengemban tugas di BGN, Sudaryono dikenal luas sebagai Wakil Menteri Pertanian yang cukup vokal dalam isu kedaulatan pangan. Pengalamannya di sektor agraris memberikan perspektif penting dalam mengelola ketahanan pangan yang kini beririsan langsung dengan pemenuhan gizi masyarakat.

Ia menyinggung keberhasilan program pompanisasi yang ia gagas saat berada di Kementerian Pertanian, khususnya di wilayah Aceh. Program tersebut telah menyalurkan lebih dari 20 ribu pompa ke seluruh penjuru Aceh, yang mengubah pola tanam petani setempat. Sawah yang sebelumnya hanya bisa panen satu kali setahun, kini mampu berproduksi dua hingga tiga kali setahun.

“Alhamdulillah, produktivitas kita meningkat drastis. Kita sekarang tidak perlu impor beras atau jagung lagi dalam jumlah besar. Bahkan di tengah cuaca ekstrem El Nino, produksi pertanian kita tetap terjaga. Ini adalah fondasi penting, karena tanpa pertanian yang kuat, program gizi nasional tidak akan memiliki bahan baku yang berkualitas,” jelasnya.

Pelantikan HKTI Aceh: Menguatkan Sinergi Petani

Acara pelantikan pengurus DPD HKTI Aceh periode 2026-2031 tersebut menjadi momentum penguatan sinergi antara kebijakan gizi dan sektor produksi pertanian. Dalam agenda tersebut, Sudaryono secara resmi melantik T.A. Khalid sebagai Ketua DPD HKTI Aceh, didampingi Cut Huzaimah sebagai Sekretaris dan Teuku Ali Devi sebagai Bendahara.

Sudaryono berharap HKTI Aceh dapat menjadi motor penggerak bagi kesejahteraan petani di Serambi Mekkah. Menurutnya, loyalitas masyarakat Aceh terhadap kemajuan bangsa sudah tidak perlu diragukan lagi, dan potensi alamnya harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam mencapai kemandirian pangan dan gizi.

Melalui perjalanan emosionalnya di BGN, Sudaryono belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal menjalankan instruksi, tetapi juga soal ketangguhan mental dalam menghadapi ‘kesepian’ di puncak kekuasaan demi kemaslahatan rakyat banyak. Kini, dengan sistem yang mulai stabil dan dukungan dari berbagai pihak, ia optimis Badan Gizi Nasional akan mampu bertransformasi menjadi pilar utama pembangunan manusia Indonesia yang lebih sehat dan cerdas.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *