Strategi Agresif Mentan Amran: Dorong Indonesia Jadi Eksportir Beras Utama di Kawasan ASEAN dan Pasifik

Citra Lestari | WartaLog
08 Okt 2026, 17:18 WIB
Strategi Agresif Mentan Amran: Dorong Indonesia Jadi Eksportir Beras Utama di Kawasan ASEAN dan Pasifik

WartaLog — Ambisi Indonesia untuk bertransformasi dari negara importir menjadi kekuatan utama dalam pasar pangan global kini bukan sekadar wacana. Langkah strategis tengah dipersiapkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memperluas jangkauan pasar ekspor beras nasional ke berbagai negara tetangga. Setelah sukses menembus pasar Malaysia, pemerintah kini mulai membidik potensi besar di Filipina, Papua Nugini, hingga Timor Leste.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa optimisme ini didasari oleh tren positif peningkatan produksi beras domestik yang kian stabil. Dalam sebuah pertemuan di Kantor Direktorat Jenderal Hortikultura, Jakarta, Mentan Amran mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah sedang berada dalam tahap penjajakan serius dengan negara-negara mitra tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari visi besar untuk memperkuat posisi tawar Indonesia dalam ekosistem pangan regional.

Read Also

Solusi Jitu Rapikan Keuangan Bisnis: Kupas Tuntas Praktik Akuntansi Dagang dan Manufaktur Bersama Bootcamp Accounting #14

Solusi Jitu Rapikan Keuangan Bisnis: Kupas Tuntas Praktik Akuntansi Dagang dan Manufaktur Bersama Bootcamp Accounting #14

Melirik Potensi Pasar di Filipina dan Papua Nugini

Penjajakan ekspor ke Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste dinilai sebagai langkah yang sangat taktis mengingat kedekatan geografis. Faktor lokasi ini menjadi keunggulan kompetitif bagi Indonesia karena dapat menekan biaya logistik pengiriman barang. Filipina, sebagai salah satu konsumen beras terbesar di Asia Tenggara, selalu menjadi pasar yang menarik bagi negara-negara produsen pangan.

“Kita masih melakukan penjajakan mendalam. Ada sekitar dua hingga tiga negara yang menjadi fokus utama saat ini, yaitu Filipina, Papua Nugini, dan juga Timor Leste. Semuanya adalah negara tetangga terdekat kita yang memiliki kebutuhan pangan yang cukup tinggi,” ujar Amran kepada awak media. Meski volume pastinya belum ditentukan secara detail, Mentan optimistis bahwa kualitas beras premium Indonesia mampu bersaing dengan produk dari negara lain seperti Thailand atau Vietnam.

Read Also

Gojek Resmi Berlakukan Biaya Pembatalan GoCar: Langkah Strategis Demi Keadilan Ekosistem Digital

Gojek Resmi Berlakukan Biaya Pembatalan GoCar: Langkah Strategis Demi Keadilan Ekosistem Digital

Keberhasilan di Malaysia Sebagai Pintu Gerbang Utama

Rencana ekspansi ini tidak lahir dari ruang hampa. Sebelumnya, Indonesia telah berhasil menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Malaysia untuk melakukan pengiriman perdana sebesar 1.000 ton beras premium. Keberhasilan ini hanyalah sebuah permulaan, karena potensi total ekspor ke Negeri Jiran tersebut diproyeksikan mampu mencapai angka 200.000 ton dengan nilai ekonomi yang fantastis, yakni sekitar Rp 3,4 triliun.

Ekspor ke Malaysia menjadi bukti nyata bahwa standar kualitas pangan Indonesia telah memenuhi kriteria internasional yang ketat. Dengan memanfaatkan momentum ini, pemerintah berharap kepercayaan pasar luar negeri terhadap komoditas pertanian kita akan terus meningkat. Hal ini juga menjadi angin segar bagi para petani lokal agar lebih semangat dalam meningkatkan produktivitas lahan mereka.

Read Also

Strategi Pelunasan Modal Kopdes Merah Putih: Babak Baru Penguatan Ekonomi Desa Mulai September 2026

Strategi Pelunasan Modal Kopdes Merah Putih: Babak Baru Penguatan Ekonomi Desa Mulai September 2026

Lonjakan Produksi Beras: Data dan Fakta dari FAO

Optimisme pemerintah bukan tanpa landasan data yang kuat. Berdasarkan proyeksi dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), Indonesia diperkirakan akan mengalami lonjakan produksi yang signifikan pada periode 2026/2027. Produksi beras nasional diprediksi mampu menyentuh angka 38,6 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 4,6 juta ton jika dibandingkan dengan realisasi produksi tahun 2024/2025 yang berada di kisaran 34 juta ton.

Kenaikan produksi ini merupakan buah dari berbagai kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan yang digalakkan oleh Kementan, termasuk program ketahanan pangan nasional. Dengan estimasi konsumsi domestik yang diprediksi tetap stabil di angka 31 juta ton pada tahun 2026, maka Indonesia akan memiliki surplus sekitar 7,6 juta ton. Surplus inilah yang kemudian dikelola untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional tanpa mengganggu ketersediaan stok di dalam negeri.

Menjaga Keseimbangan Stok Nasional dan Pasar Global

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, dalam keterangan terpisah menyatakan bahwa kebijakan ekspor ini dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang. Pemerintah memastikan bahwa prioritas utama tetaplah terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat Indonesia dengan harga yang terjangkau. Namun, ketika produksi melimpah, ekspor menjadi solusi cerdas untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani agar tidak anjlok akibat oversuplai.

“Indonesia kini mulai memiliki ruang untuk naik kelas dalam ekosistem pangan global. Dengan fondasi produksi yang semakin kuat, kita tidak hanya fokus pada ketahanan pangan, tetapi juga pada kedaulatan pangan yang berorientasi ekspor. Ini adalah perkembangan positif bagi sektor ekonomi nasional kita,” jelas Qodari. Ia menambahkan bahwa ekspor yang terukur akan memberikan nilai tambah bagi devisa negara dan meningkatkan kesejahteraan jutaan petani di pelosok negeri.

Tantangan dan Harapan di Masa Depan

Meski peluang terbuka lebar, tantangan besar masih membayangi. Masalah perubahan iklim yang ekstrem atau fenomena El Nino tetap menjadi faktor risiko yang harus diwaspadai. Oleh karena itu, Mentan Amran terus mendorong modernisasi pertanian melalui penggunaan teknologi alat mesin pertanian (alsintan) serta penggunaan benih unggul yang tahan terhadap serangan hama dan cuaca ekstrem.

Ke depannya, Indonesia diharapkan tidak hanya mengekspor beras dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga mulai melirik produk-produk turunan pertanian yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dengan sinergi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta, visi Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045 bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang sedang kita bangun bersama hari ini.

Langkah berani Mentan Amran dalam menjajaki pasar Filipina hingga Papua Nugini menjadi sinyal kuat bagi dunia internasional bahwa Indonesia siap menjadi pemain utama. Dengan strategi yang tepat, beras Indonesia akan segera menghiasi meja-meja makan di mancanegara, membawa harum nama bangsa sekaligus memperkuat ekonomi rakyat melalui sektor agrikultur yang berkelanjutan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *