Diplomasi Tajam di New York: China Desak Amerika Serikat Hormati Kedaulatan Teluk dan Cabut Blokade Kuba

Akbar Silohon | WartaLog
27 Sep 2026, 01:18 WIB
Diplomasi Tajam di New York: China Desak Amerika Serikat Hormati Kedaulatan Teluk dan Cabut Blokade Kuba

WartaLog — Panggung Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menjadi saksi bisu eskalasi ketegangan antara dua kekuatan besar dunia. Dalam sebuah pidato yang sarat akan pesan mendalam, China secara terbuka melontarkan kritik pedas yang diarahkan kepada Amerika Serikat (AS). Beijing menuntut agar kedaulatan negara-negara di kawasan Teluk dihormati sepenuhnya dan mendesak penghentian segera atas segala bentuk ancaman serta blokade ekonomi terhadap Kuba yang telah menyengsarakan jutaan rakyat di sana.

Wakil Presiden China, Han Zheng, yang berdiri di podium utama PBB pada Sabtu (26/7/2026), memilih untuk menggunakan retorika diplomasi yang tajam meski tidak menyebut nama Amerika Serikat secara eksplisit. Namun, sasaran kritik tersebut sangat jelas: kebijakan luar negeri Washington yang dianggap sering kali memaksakan kehendak melalui tekanan ekonomi dan militer. Manuver Beijing ini menandai babak baru dalam diplomasi internasional yang semakin polaristik.

Read Also

Tragedi Kebakaran Hebat di Pergudangan Miami Jakarta Barat: Empat Gudang Logistik Ludes Dilalap Api

Tragedi Kebakaran Hebat di Pergudangan Miami Jakarta Barat: Empat Gudang Logistik Ludes Dilalap Api

Kedaulatan Kawasan Teluk: Titik Didih Diplomasi Global

Dalam narasinya, Han Zheng menekankan bahwa stabilitas di Timur Tengah, khususnya di kawasan Teluk, tidak akan pernah tercapai selama intervensi asing masih terus terjadi. Ia menegaskan bahwa setiap negara memiliki hak berdaulat untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa bayang-bayang ancaman dari kekuatan eksternal. “Negara-negara besar harus memiliki tanggung jawab khusus dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Mereka harus menjadi yang terdepan dalam mematuhi aturan, menjunjung supremasi hukum, dan melakukan apa yang benar,” tegas Han di hadapan para delegasi dunia.

Pernyataan ini muncul di tengah situasi regional yang kian memanas. Kedaulatan negara di kawasan tersebut menjadi isu sensitif, terutama setelah serangkaian insiden yang melibatkan serangan militer dan tekanan diplomatik. China memandang bahwa pendekatan konfrontatif yang diadopsi oleh AS terhadap Iran—yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel pada Februari lalu—hanya akan memperkeruh suasana dan memicu ketidakpastian ekonomi global, terutama di sektor energi.

Read Also

Refleksi Waisak 2026: PKB Ajak Dunia Kembali ke Jalan Kemanusiaan dan Welas Asih

Refleksi Waisak 2026: PKB Ajak Dunia Kembali ke Jalan Kemanusiaan dan Welas Asih

Ironi di Balik Jamuan Mewah Gedung Putih

Kritik tajam yang dilontarkan Han Zheng ini terasa sangat kontras jika dibandingkan dengan atmosfer yang terlihat di Washington awal pekan ini. Publik dunia sebelumnya disuguhi pemandangan hangat saat Presiden Donald Trump menjamu pemimpin China, Xi Jinping, dalam sebuah jamuan makan malam kenegaraan yang mewah di Gedung Putih. Acara tersebut bahkan diwarnai dengan atraksi pesawat militer yang megah, memberikan kesan seolah-olah kedua negara tengah berada dalam periode “bulan madu” diplomatik.

Namun, di balik senyum dan jabat tangan tersebut, tensi tinggi tetap membara. Duta Besar AS untuk China mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tertutup, Trump telah memberikan peringatan keras kepada Xi Jinping agar tidak memberikan dukungan dalam bentuk apa pun kepada Iran. Washington mengklaim telah mendapatkan jaminan dari Beijing, namun laporan intelijen justru menunjukkan hal sebaliknya. Beijing dikabarkan tetap memasok perangkat militer berupa peluncur rudal pertahanan udara yang dapat ditembakkan dari bahu ke Teheran, serta membantu Iran menemukan celah untuk menghindari sanksi ekonomi terkait penjualan minyak mentah.

Read Also

Skandal Predator Seksual di Balik Jubah Suci: Eks Pegawai Bongkar Sisi Kelam Pengasuh Ponpes di Pati

Skandal Predator Seksual di Balik Jubah Suci: Eks Pegawai Bongkar Sisi Kelam Pengasuh Ponpes di Pati

Tragedi Kemanusiaan dan Keruntuhan Listrik di Kuba

Salah satu poin paling krusial dalam pidato Han Zheng adalah pembelaannya terhadap Kuba. China mendesak AS untuk segera menghentikan penggunaan ancaman kekuatan serta mencabut blokade ekonomi yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Blokade ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan manusia. Baru-baru ini, Kuba mengalami keruntuhan jaringan listrik total yang menyebabkan negara tersebut gelap gulita.

Jutaan warga Kuba terpaksa hidup tanpa akses listrik di tengah suhu yang ekstrem. Meskipun infrastruktur pembangkit listrik di Kuba memang sudah menua, Beijing berargumen bahwa blokade minyak yang diperketat oleh AS sejak Januari lalu adalah penyebab utama kegagalan sistemik ini. Tanpa pasokan bahan bakar yang stabil, pembangkit listrik tidak dapat beroperasi, menciptakan krisis energi yang masif. China menilai tindakan ini sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang dibungkus dengan agenda kebijakan luar negeri yang agresif.

Visi China sebagai Pembela Negara Berkembang

Melalui mimbar PBB, Han Zheng berusaha memosisikan China bukan hanya sebagai kekuatan ekonomi, tetapi juga sebagai pemimpin moral bagi negara-negara berkembang (Global South). Ia mempromosikan visi dunia yang multilateral, di mana tidak ada satu negara pun yang boleh mendominasi negara lain. “China berpandangan bahwa semua negara, baik besar maupun kecil, memiliki kedudukan yang setara sebagai anggota komunitas internasional,” ujarnya.

Pesan ini sangat beresonansi dengan negara-negara yang selama ini merasa tertekan oleh kebijakan sanksi sepihak. Beijing ingin menunjukkan bahwa mereka adalah mitra yang dapat diandalkan—sebuah alternatif bagi negara-negara yang ingin mempertahankan kedaulatannya tanpa harus tunduk pada standar yang ditetapkan oleh Barat. Strategi ini memperkuat pengaruh China di Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah, yang kini semakin melihat Beijing sebagai penyeimbang kekuatan Amerika Serikat.

Masa Depan Hubungan AS-China: Kerja Sama atau Konfrontasi?

Pidato di PBB ini memberikan sinyal kuat bahwa hubungan antara Washington dan Beijing tetap berada di jalur yang rumit. Di satu sisi, kedua negara menyadari pentingnya stabilitas ekonomi global, namun di sisi lain, perbedaan ideologi dan kepentingan geopolitik terus menciptakan jurang pemisah yang lebar. Isu krisis energi Kuba dan ketegangan di Teluk hanyalah pucuk dari gunung es dari persaingan pengaruh yang lebih besar.

Dunia kini menunggu langkah apa yang akan diambil oleh Washington dalam menanggapi kritik terbuka ini. Apakah Amerika Serikat akan melunakkan kebijakannya demi menjaga stabilitas kawasan, atau justru memperkeras sanksi sebagai bentuk jawaban atas dukungan China terhadap negara-negara yang dianggap sebagai musuh oleh AS? Satu hal yang pasti, suara China di PBB kali ini telah memberikan tekanan diplomatik yang signifikan, memaksa komunitas internasional untuk kembali mempertanyakan efektivitas dan moralitas dari penggunaan blokade ekonomi sebagai alat politik di era modern.

Kesimpulan: Sebuah Pesan untuk Tata Dunia Baru

Sebagai penutup, Han Zheng menegaskan bahwa urusan dunia harus ditangani melalui konsultasi bersama, bukan melalui pemaksaan kehendak oleh satu pihak. Bagi China, penghormatan terhadap kedaulatan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Dengan menyoroti penderitaan rakyat Kuba dan ketidakstabilan di kawasan Teluk, Beijing berhasil menarik simpati global sekaligus memberikan tantangan terbuka terhadap kepemimpinan Amerika Serikat di panggung dunia.

Perjalanan diplomasi ini masih panjang, namun narasi yang dibangun China di Majelis Umum PBB tahun ini jelas menunjukkan bahwa mereka tidak akan lagi tinggal diam melihat kebijakan yang mereka anggap sebagai bentuk hegemoni yang merugikan. Bagi para pengamat, ini adalah tanda bahwa tata dunia baru yang lebih multipolar sedang dibentuk, di mana suara-suara dari Timur semakin kencang menggema untuk menuntut keadilan internasional.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *