Komitmen Mentan Amran Sulaiman: Membedah Solusi Krisis Irigasi dan Pupuk bagi Seribu Petani Indramayu

Citra Lestari | WartaLog
24 Sep 2026, 15:18 WIB
Komitmen Mentan Amran Sulaiman: Membedah Solusi Krisis Irigasi dan Pupuk bagi Seribu Petani Indramayu

WartaLog — Suasana di depan Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, pada Kamis pagi (24/9) tampak berbeda dari biasanya. Sebanyak seribu petani asal Indramayu, Jawa Barat, berkumpul dengan membawa harapan besar di pundak mereka. Kedatangan mereka bertepatan dengan momentum peringatan Hari Tani Nasional, namun alih-alih sekadar merayakan, mereka datang untuk menyuarakan persoalan perut dan keberlangsungan lahan sawah mereka yang kian terhimpit kendala teknis dan birokrasi.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, yang dikenal dengan gaya bicaranya yang lugas dan taktis, segera menemui para petani tersebut sebelum mereka sempat menggelar aksi demonstrasi. Dalam audiensi yang berlangsung hangat namun penuh ketegasan tersebut, para petani memaparkan kondisi riil di lapangan yang selama ini luput dari penyelesaian tuntas, mulai dari masalah klasik krisis air hingga distribusi pupuk yang kerap tersendat.

Read Also

Kabar Gembira! KAI Tebar Diskon Tiket 30% Sambut Libur Sekolah, Ini Strategi Mengamankannya

Kabar Gembira! KAI Tebar Diskon Tiket 30% Sambut Libur Sekolah, Ini Strategi Mengamankannya

Jeritan Petani Tadah Hujan: Menanam Dua Kali, Panen Sekali

Indramayu selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Namun, di balik predikat mentereng tersebut, tersimpan realita pahit bagi para petani di lahan tadah hujan. Salah seorang perwakilan petani mengungkapkan bahwa ketergantungan pada air hujan membuat siklus tanam mereka menjadi perjudian yang berisiko tinggi. Meskipun mereka berupaya menanam hingga dua kali dalam setahun, keterbatasan infrastruktur pengairan seringkali membuat mereka hanya bisa memanen satu kali.

“Pak Amran, kami ini petani tadah hujan. Masalah ini sudah menahun. Kami sanggup menanam dua kali, tapi air tidak ada, akhirnya yang bisa dipanen cuma satu kali,” keluh salah seorang petani di hadapan Mentan. Masalah ini bukan sekadar soal malas atau rajinnya petani, melainkan ketersediaan infrastruktur irigasi yang belum menyentuh lahan-lahan marjinal di pelosok Indramayu.

Read Also

Menghalau Dampak El Nino 2026: Strategi Pemerintah Amankan Cadangan Beras Nasional Hingga 5 Juta Ton

Menghalau Dampak El Nino 2026: Strategi Pemerintah Amankan Cadangan Beras Nasional Hingga 5 Juta Ton

Para petani juga menyinggung tentang bantuan Irigasi Perpompaan (Irpom) yang sebelumnya telah dikucurkan pemerintah. Meski bantuan tersebut sangat membantu, cakupannya dinilai masih terlalu kecil dibandingkan dengan luas lahan yang harus diairi, terutama bagi 24 basis kelompok petani yang menggantungkan hidupnya dari sawah-sawah tersebut.

Instruksi Cepat Mentan: Menghubungi BWS dan Menembus Sekat Birokrasi

Mendengar keluhan yang begitu mendasar, Mentan Amran Sulaiman tidak tinggal diam. Ia segera mengambil langkah konkret dengan menghubungi pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Cisanggarung saat itu juga. Amran menanyakan progres pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dan rencana penyaluran air dari Bendungan Cipanas yang berjarak sekitar 1 hingga 5 kilometer dari lahan petani.

Read Also

Sorotan Tajam DPR Terhadap Dugaan Pungli di Atas Awan: Pindah Kursi AirAsia Bayar Rp 150 Ribu?

Sorotan Tajam DPR Terhadap Dugaan Pungli di Atas Awan: Pindah Kursi AirAsia Bayar Rp 150 Ribu?

Data di lapangan menunjukkan bahwa sebenarnya telah ada pendataan untuk pembangunan jalur irigasi sepanjang 24,75 kilometer. Namun, proyek tersebut seolah jalan di tempat. Amran menegaskan bahwa persoalan air adalah urusan nyawa bagi petani dan tidak boleh dihambat oleh prosedur yang berbelit-belit.

“Ini rakyat kita, saudara kita sendiri. Mereka sudah menunggu kepastian selama dua tahun. Jika anggaran di kementerian terkait tidak ada, saya akan pindahkan anggaran dari Kementerian Pertanian untuk menyelesaikannya. Berapa biayanya? Masalah ini harus tuntas karena inilah fungsi kita melayani rakyat,” tegas Amran dengan nada tinggi, menunjukkan keberpihakannya pada nasib para petani Indramayu.

Modernisasi Pertanian Melalui Penambahan Alsintan

Selain masalah air, distribusi Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) juga menjadi poin krusial dalam diskusi tersebut. Petani mengakui bahwa bantuan mesin panen (combine harvester) dan traktor tangan yang sudah diterima sebelumnya sangat membantu menekan biaya produksi yang kian mencekik. Namun, jumlahnya masih jauh dari kata ideal untuk memenuhi kebutuhan kolektif.

Merespons hal ini, Mentan langsung menjanjikan tambahan bantuan berupa 24 unit traktor tangan (hand tractor) yang akan dibagikan ke 24 basis petani, ditambah dengan dua unit traktor besar. Amran menginginkan agar modernisasi tidak hanya menjadi jargon, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya di tingkat bawah.

“Besok saya kirim traktornya. Bahkan saya tambahkan jumlahnya agar tidak ada lagi alasan lahan tidak terolah dengan maksimal,” ujar Amran, yang disambut tepuk tangan riuh dari para petani yang hadir.

Reformasi Kelembagaan: Kelompok Tani ‘Maju Berani Berjuang’

Salah satu poin menarik dalam pertemuan tersebut adalah keinginan petani untuk memiliki wadah kelembagaan yang lebih kuat dan mandiri. Mereka mengeluhkan birokrasi di tingkat bawah yang terkadang menghambat akses bantuan langsung dari pemerintah pusat. Menanggapi aspirasi tersebut, Mentan Amran Sulaiman secara resmi meresmikan pembentukan kelompok tani baru bernama **Maju Berani Berjuang**.

Kelompok ini diharapkan menjadi garda terdepan dalam mengelola bantuan, baik berupa mesin, benih, maupun pupuk bersubsidi. Amran menekankan pentingnya integritas dalam kelompok ini agar bantuan tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Penyelesaian Masalah Pupuk dan Bantuan Benih Gratis

Keluhan mengenai distribusi pupuk yang tidak merata juga tak luput dari perhatian. Amran langsung menginstruksikan pihak PT Pupuk Indonesia untuk melakukan audit dan memastikan ketersediaan stok di wilayah Indramayu, khususnya di kecamatan-kecamatan yang rawan kelangkaan seperti Kroya dan Gantar. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada petani yang kesulitan mendapatkan pupuk saat musim tanam tiba.

Sebagai penutup dari rangkaian solusi yang ditawarkan, Mentan juga memberikan bantuan benih padi gratis untuk lahan seluas 1.000 hektare. Benih ini dijanjikan akan tiba dalam waktu dua hari setelah pertemuan tersebut. Langkah cepat ini diambil untuk memastikan produktivitas lahan petani tetap terjaga di tengah tantangan iklim yang tidak menentu.

Melalui pertemuan ini, pemerintah ingin menegaskan bahwa suara petani adalah prioritas utama. Rebranding kebijakan pertanian yang lebih responsif dan berorientasi pada hasil diharapkan mampu mengubah wajah pertanian di Indramayu dari ketergantungan menjadi kemandirian yang berkelanjutan. Kini, harapan seribu petani tersebut ada pada realisasi janji-janji yang telah diucapkan di bawah langit Jakarta.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *