Harga Cabai Rawit Tembus Rp 90 Ribu per Kilogram: Mengintip Strategi Pemerintah Menjinakkan ‘Si Merah’ yang Kian Pedas

Citra Lestari | WartaLog
13 Sep 2026, 13:17 WIB
Harga Cabai Rawit Tembus Rp 90 Ribu per Kilogram: Mengintip Strategi Pemerintah Menjinakkan 'Si Merah' yang Kian Pedas

WartaLog — Meja makan keluarga di Indonesia kini sedang menghadapi tantangan serius. Komoditas cabai, yang selama ini menjadi bumbu wajib dalam setiap hidangan nusantara, kembali menunjukkan taringnya dengan kenaikan harga yang cukup signifikan. Tidak tanggung-tanggung, harga cabai rawit merah kini telah menyentuh angka psikologis yang cukup mengkhawatirkan, yakni melampaui Rp 90.000 per kilogram.

Fenomena “pedasnya” harga cabai ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan cerminan dari dinamika rantai pasok yang sedang mengalami tekanan hebat. Berdasarkan data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, lonjakan harga ini terjadi merata di berbagai wilayah, memicu kekhawatiran akan dampak inflasi pangan yang lebih luas bagi masyarakat menengah ke bawah.

Read Also

Cahaya di Ujung Pelosok: Misi Besar Presiden Prabowo Aliri Listrik 1.400 Desa Sebelum Agustus 2026

Cahaya di Ujung Pelosok: Misi Besar Presiden Prabowo Aliri Listrik 1.400 Desa Sebelum Agustus 2026

Lonjakan Harga yang Menggetarkan Dapur Rakyat

Jika kita menelisik lebih dalam pada data pasar, kenaikan paling tajam justru dicatatkan oleh cabai merah keriting. Komoditas ini mengalami eskalasi harga hingga 9 persen, yang membawanya bertengger di level Rp 62.950 per kilogram. Sementara itu, sang primadona dapur, cabai rawit merah, tidak mau kalah dengan kenaikan sebesar 7,2 persen, yang secara akumulatif menembus angka Rp 90.050 per kilogram.

Kenaikan harga yang drastis ini tentu menjadi beban tambahan bagi para pedagang makanan skala kecil atau pelaku UMKM. Bagi mereka, cabai bukan sekadar pelengkap, melainkan komponen utama produksi. Ketika harga komoditas pangan ini melonjak, pilihan yang tersisa hanyalah mengurangi margin keuntungan atau terpaksa menaikkan harga jual kepada konsumen.

Read Also

Menakar Ambisi Raksasa PLTS 100 GW: Peta Jalan Menuju Kemandirian Energi di Era Prabowo

Menakar Ambisi Raksasa PLTS 100 GW: Peta Jalan Menuju Kemandirian Energi di Era Prabowo

Respon Cepat Badan Pangan Nasional melalui FDP

Menyikapi situasi yang kian memanas, Badan Pangan Nasional (Bapanas) tidak tinggal diam. Pemerintah kini tengah mengintensifkan langkah strategis dengan melakukan mobilisasi stok dari daerah yang mengalami surplus ke daerah yang mengalami defisit. Salah satu instrumen andalan yang digunakan adalah program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).

I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menekankan pentingnya langkah antisipatif ini. Menurutnya, Bapanas bersama Kementerian Pertanian (Kementan) terus menjalin koordinasi erat agar distribusi pangan dapat menyasar daerah-daerah yang dinamika harganya paling fluktuatif. Strategi ini dianggap efektif untuk memutus rantai distribusi yang terlalu panjang dan menekan ongkos angkut yang seringkali menjadi beban harga di tingkat konsumen.

Read Also

Gojek Resmi Berlakukan Biaya Pembatalan GoCar: Langkah Strategis Demi Keadilan Ekosistem Digital

Gojek Resmi Berlakukan Biaya Pembatalan GoCar: Langkah Strategis Demi Keadilan Ekosistem Digital

“Kami melihat adanya dinamika pasokan di Kediri yang perlu segera direspons. Oleh karena itu, koneksi dengan Kementan menjadi krusial untuk menentukan wilayah mana yang harus segera didukung melalui FDP,” ungkap Ketut dalam keterangan resminya. Langkah ini diharapkan dapat segera mendinginkan harga di pasar ritel dalam waktu dekat.

Peran Krusial ‘Champion Cabai’ dalam Menjaga Stabilitas

Satu hal yang menarik dalam upaya pemerintah kali ini adalah pelibatan para “Champion Cabai”. Mereka adalah para petani pilihan yang menjadi binaan Kementerian Pertanian dengan kapabilitas produksi yang mumpuni dan komitmen kuat terhadap ketahanan pangan nasional. Para petani champion ini berperan sebagai garda terdepan dalam menyuplai stok cabai dengan harga yang lebih terjangkau langsung ke titik-titik gejolak harga.

Kolaborasi ini terbukti ampuh. Dengan mengguyur pasar menggunakan pasokan dari daerah yang harganya masih relatif terjangkau, pemerintah mampu menciptakan tekanan balik terhadap spekulasi harga di pasar. Sejarah mencatat, pada triwulan pertama tahun 2026, program FDP telah berhasil memobilisasi sebanyak 5.590 kilogram cabai rawit. Distribusi ini mencakup pengiriman dari Enrekang, Sulawesi Selatan, menuju Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta, serta pengiriman ke wilayah Lombok di Nusa Tenggara Barat.

Akar Masalah: Iklim Ekstrem dan Gangguan Hama

Mengapa harga cabai bisa melonjak begitu tinggi? WartaLog memantau bahwa dalam rapat koordinasi Bapanas pada Agustus 2026 lalu, terungkap beberapa faktor fundamental. Kemarau berkepanjangan yang dipicu oleh anomali cuaca menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas lahan. Tanaman cabai, yang sangat sensitif terhadap ketersediaan air, menjadi rentan terserang hama.

Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul menjadi momok menakutkan bagi petani di berbagai daerah produksi. Selain itu, adanya tren alih tanam ke komoditas lain oleh petani yang khawatir akan kerugian akibat cuaca juga turut mempersempit luas lahan tanam cabai secara nasional. Hal inilah yang memicu kelangkaan pasokan di pasar-pasar utama.

Optimisme Produksi di Akhir Tahun

Meskipun kondisi saat ini tampak menantang, Kementerian Pertanian tetap menyuarakan optimisme. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementan, Sudi Mardianto, memastikan bahwa secara nasional produksi cabai masih berada dalam zona aman hingga penghujung tahun. Estimasi produksi untuk bulan September saja diprediksi mencapai 119 ribu ton secara nasional.

Beberapa sentra produksi utama seperti Banyuwangi dan Sampang di Jawa Timur menunjukkan hasil yang menjanjikan. Di Banyuwangi, terdapat lahan siap panen (standing crop) seluas 1.486 hektare, sementara di Sampang mencapai 1.691 hektare. “Produksi di daerah-daerah tersebut sudah mulai tinggi, bahkan menyentuh angka 5 ribuan ton,” jelas Sudi. Area lain seperti Temanggung, Brebes, dan Magelang juga disiapkan untuk menopang kebutuhan menjelang momentum Natal dan Tahun Baru mendatang.

Daftar Harga Pangan Terkini di Pasar Nasional

Sebagai panduan bagi pembaca, berikut adalah rangkuman harga rata-rata berbagai komoditas pangan berdasarkan pantauan PIHPS, yang menunjukkan dinamika pasar saat ini:

  • Cabai Rawit Merah: Rp 90.050/kg (Naik 7,2%)
  • Cabai Merah Keriting: Rp 62.950/kg (Naik 9%)
  • Cabai Rawit Hijau: Rp 64.700/kg (Naik 3,94%)
  • Minyak Goreng Curah: Rp 20.500/kg (Naik 0,24%)
  • Beras Medium I: Rp 16.550/kg (Tetap)
  • Gula Pasir Lokal: Rp 19.100/kg (Tetap)
  • Daging Sapi Kualitas 1: Rp 152.150/kg (Naik 0,16%)
  • Telur Ayam Ras Segar: Rp 29.250/kg (Turun 1,35%)
  • Bawang Merah Sedang: Rp 37.700/kg (Turun 1,05%)
  • Bawang Putih Sedang: Rp 39.400/kg (Naik 0,25%)

Melihat data di atas, terlihat bahwa inflasi pangan memang sedang menjadi tantangan nyata. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying, mengingat pasokan di tingkat hulu sebenarnya masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga akhir tahun. Dengan strategi FDP yang terus berjalan, diharapkan harga cabai dan komoditas lainnya akan segera melandai menuju titik keseimbangan baru.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *