Dua Puluh Lima Tahun Tragedi 9/11: Mengapa Donald Trump Memilih Pentagon Ketimbang Ground Zero?

Akbar Silohon | WartaLog
12 Sep 2026, 17:17 WIB
Dua Puluh Lima Tahun Tragedi 9/11: Mengapa Donald Trump Memilih Pentagon Ketimbang Ground Zero?

WartaLog — Seperempat abad telah berlalu sejak langit biru di atas Manhattan berubah menjadi kelabu oleh debu dan puing-puing sejarah. Amerika Serikat baru saja memperingati 25 tahun tragedi 11 September, sebuah momen yang tidak hanya mengubah lanskap kota New York, tetapi juga arah politik global selamanya. Namun, di tengah gema lonceng dan pembacaan nama-nama korban yang menyayat hati di Ground Zero, satu sosok menonjol justru karena ketidakhadirannya secara fisik di lokasi tersebut: Donald Trump.

Peringatan perak ini seharusnya menjadi simbol persatuan nasional yang tak tergoyahkan. Di lokasi di mana Menara Kembar pernah berdiri tegak, empat mantan presiden AS—George W. Bush, Barack Obama, Bill Clinton, dan Joe Biden—berdiri berdampingan dalam keheningan yang khidmat. Namun, Trump, yang merupakan putra asli New York dan tokoh sentral dalam panggung politik Amerika Serikat saat ini, memilih jalur yang berbeda dengan menghadiri seremoni di markas besar Pentagon, Virginia.

Read Also

Pesan Kuat Pramono Anung Saat Lantik 239 Pejabat Baru: Menjadi ASN Jakarta Adalah Kehormatan Besar

Pesan Kuat Pramono Anung Saat Lantik 239 Pejabat Baru: Menjadi ASN Jakarta Adalah Kehormatan Besar

Gema Lonceng dan Keheningan di Ground Zero

Upacara di New York berlangsung dengan ritual yang telah menjadi tradisi selama dua dekade terakhir. Dimulai pada pukul 08.46 pagi, tepat pada saat pesawat pertama menghantam Menara Utara, keheningan total menyelimuti situs tersebut. Ribuan keluarga korban berkumpul, memegang foto orang-orang terkasih yang hilang dalam serangan terorisme paling mematikan di tanah Amerika tersebut.

Kehadiran Wakil Presiden JD Vance di New York mewakili faksi politik pendukung Trump, namun ketidakhadiran sang mantan presiden sendiri tetap memicu perbincangan hangat. Pasalnya, Ground Zero selama ini dianggap sebagai episentrum dari ingatan kolektif bangsa. Di sini, nama-nama dari 2.977 korban dibacakan satu per satu oleh kerabat mereka, sebuah prosesi panjang yang memakan waktu berjam-jam, mengingatkan dunia bahwa di balik angka statistik, ada nyawa dan cerita yang terputus secara tragis.

Read Also

Trump Siapkan Strategi Diplomasi: Dialog Penjualan Senjata ke Taiwan dan Nasib Jimmy Lai Menjadi Fokus Utama Pertemuan dengan Xi Jinping

Trump Siapkan Strategi Diplomasi: Dialog Penjualan Senjata ke Taiwan dan Nasib Jimmy Lai Menjadi Fokus Utama Pertemuan dengan Xi Jinping

Langkah Tak Lazim: Mengapa Memilih Pentagon?

Keputusan Donald Trump untuk menghadiri peringatan di Arlington County, Virginia, dianggap sebagai langkah yang tidak lazim oleh banyak analis politik. Pentagon, markas besar Departemen Pertahanan AS, juga menjadi sasaran dalam serangan 25 tahun silam ketika sebuah pesawat yang dibajak menghantam sisi barat bangunan tersebut, menewaskan 184 orang.

Meskipun Pentagon adalah situs yang sangat penting, secara historis, tokoh-tokoh besar biasanya membagi waktu mereka atau memprioritaskan New York untuk peringatan angka-angka krusial seperti peringatan ke-25 ini. Trump, yang didampingi oleh Melania Trump, tampak berdiri di podium Pentagon, memberikan pidato yang cukup kontras dengan sifat non-politis yang biasanya dijunjung tinggi dalam acara peringatan 9/11 di Ground Zero.

Read Also

KRL Green Line Lumpuh Total: Antara Sambaran Petir dan Banjir di Jalur Kebayoran-Pondok Ranji

KRL Green Line Lumpuh Total: Antara Sambaran Petir dan Banjir di Jalur Kebayoran-Pondok Ranji

Kontroversi Larangan Pidato: Fakta atau Isu?

Ketidakhadiran Trump di New York memicu spekulasi yang dilaporkan secara luas oleh media-media besar. Laporan dari New York Times (NYT) menyebutkan bahwa Trump sebenarnya ingin memberikan pidato sambutan dalam acara di New York. Namun, protokol tetap dari seremoni tahunan di situs World Trade Center secara tegas melarang politisi atau pejabat publik untuk berpidato guna menjaga kemurnian acara sebagai momen duka nasional, bukan ajang politik.

Laporan tersebut menyatakan bahwa karena tidak mendapatkan slot untuk berbicara, Trump akhirnya memilih beralih ke Pentagon di mana ia memiliki keleluasaan lebih untuk memberikan orasi. Namun, narasi ini segera dibantah keras oleh pihak Trump. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio 77 WABC, Trump menyebut laporan tersebut sebagai bentuk “Berita Korup” atau hoaks.

“Itu sama sekali tidak benar. Saya tidak pernah menuntut untuk berpidato,” tegas Trump dalam wawancara tersebut. Ia menambahkan bahwa dirinya sudah cukup sering berbicara di depan publik dan tidak merasa perlu menggunakan momen peringatan tragedi ini untuk kepentingan retorika pribadinya. Meskipun demikian, perpindahan lokasi ini tetap meninggalkan tanda tanya besar bagi publik New York.

Menghubungkan Masa Lalu dengan Ketegangan Masa Kini

Di Pentagon, pidato Trump tidak sekadar mengenang para korban, tetapi juga menarik benang merah ke situasi geopolitik saat ini. Ia berupaya mengaitkan semangat “perang melawan teror” yang lahir dari abu 9/11 dengan perjuangan Amerika saat ini melawan pengaruh Iran di Timur Tengah.

“Hari ini kita memperbarui sumpah suci yang pertama kali kita ucapkan atas nama mereka seperempat abad yang lalu. Kita tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Itulah kenapa kita berjuang hari ini,” ujar Trump di hadapan hadirin di Pentagon. Narasi ini dianggap sebagai upaya untuk memvalidasi kebijakan luar negerinya yang agresif, dengan menyatakan bahwa ancaman yang dihadapi Amerika 25 tahun lalu masih berevolusi hingga sekarang.

Retorika ini tentu berbeda dengan nada bicara para mantan presiden di New York yang lebih menekankan pada persatuan domestik dan ketahanan mental bangsa. Di New York, fokusnya adalah bagaimana Amerika bangkit dari puing-puing, sementara di Pentagon, pesan yang disampaikan adalah tentang bagaimana Amerika harus terus waspada dan siap berperang demi kemenangan mutlak.

Refleksi 25 Tahun: Bangsa yang Masih Terbelah?

Peringatan perak tragedi 11 September ini juga menjadi cermin betapa dalamnya pembelahan politik di Amerika Serikat. Meskipun dalam duka, pilihan lokasi peringatan oleh para pemimpin politik seolah menggambarkan peta kekuatan dan strategi komunikasi yang berbeda. Bagi para pendukungnya, kehadiran Trump di Pentagon adalah bentuk penghormatan kepada militer dan keamanan nasional. Namun bagi para kritikusnya, hal itu dianggap sebagai pelarian dari aturan ketat yang diberlakukan di New York.

Di sisi lain, publik juga diingatkan bahwa meskipun fisik bangunan Menara Kembar telah digantikan oleh One World Trade Center yang menjulang tinggi, luka psikologis dari serangan tersebut belum sepenuhnya sembuh. Masih ada banyak perdebatan mengenai dampak kesehatan jangka panjang bagi para pekerja penyelamat (first responders) dan teori-teori konspirasi yang sesekali masih mencuat ke permukaan di media sosial.

Kesimpulan: Makna di Balik Sebuah Kehadiran

Pada akhirnya, peringatan 25 tahun 9/11 ini bukan hanya tentang di mana seorang tokoh berdiri, melainkan tentang apa yang diingat oleh bangsa tersebut. Apakah itu tentang kesedihan yang mendalam di Ground Zero, atau tentang tekad militeristik di Pentagon, keduanya adalah bagian dari identitas Amerika pasca-2001.

WartaLog mencatat bahwa momen ini seharusnya menjadi pengingat bahwa di atas segala perbedaan politik dan ego pribadi, ada ribuan keluarga yang setiap tahunnya masih merasakan kekosongan yang sama sejak pagi berdarah di bulan September itu. Ketidakhadiran Trump di New York mungkin akan menjadi catatan kaki dalam sejarah, namun esensi dari 9/11 akan selalu tentang keberanian para korban dan petugas penyelamat yang telah memberikan segalanya bagi negara mereka.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *