Tragedi Anak Krakatau: Ketua DPD RI Desak Pencarian Masif 5 Jurnalis yang Hilang Kontak

Akbar Silohon | WartaLog
11 Sep 2026, 11:17 WIB
Tragedi Anak Krakatau: Ketua DPD RI Desak Pencarian Masif 5 Jurnalis yang Hilang Kontak

WartaLog — Kabar memilukan menyelimuti dunia pers Tanah Air di tengah gemuruh aktivitas vulkanik yang kembali menggeliat di Selat Sunda. Lima orang jurnalis dilaporkan hilang kontak saat sedang menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau. Menanggapi situasi darurat ini, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan Bachtiar Najamudin, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam dan meminta seluruh pihak terkait, khususnya Tim SAR, untuk tidak mengendurkan upaya pencarian para korban.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan tingginya risiko yang dihadapi oleh para pekerja media di lapangan. Sultan Bachtiar Najamudin menegaskan bahwa keselamatan nyawa manusia harus menjadi prioritas utama di atas segalanya. Dalam keterangan resminya yang diterima redaksi pada Jumat (11/9/2026), Sultan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang hingga kini masih menanti kepastian di tengah ketidakpastian gelombang Selat Sunda.

Read Also

Fenomena Solo Living di Indonesia: Menelusuri Jejak Data dan Realitas Sosial di Balik Pintu Rumah yang Sepi

Fenomena Solo Living di Indonesia: Menelusuri Jejak Data dan Realitas Sosial di Balik Pintu Rumah yang Sepi

Keprihatinan Mendalam dari Kursi DPD RI

“Atas nama lembaga DPD RI, kami menyampaikan keprihatinan dan duka cita mendalam kepada keluarga besar lima wartawan yang sampai saat ini belum ditemukan. Kami terus memantau perkembangan di lapangan dan berharap ada titik terang dalam waktu dekat,” ujar Sultan dengan nada berat. Beliau menekankan bahwa hilangnya para pejuang informasi ini adalah kehilangan besar bagi publik, mengingat peran strategis mereka dalam menyampaikan kondisi bencana alam secara aktual.

Sultan menilai bahwa kejadian ini adalah momen yang sangat memilukan bagi ekosistem pers di Indonesia. Jurnalis, menurutnya, adalah jembatan informasi yang memungkinkan masyarakat luas memahami situasi bahaya tanpa harus berada di lokasi. Namun, pengabdian tersebut kini harus dibayar mahal dengan keselamatan mereka sendiri. Sultan berharap koordinasi antara Basarnas, TNI AL, dan kepolisian tetap solid dalam menyisir area sekitar kawah yang masih aktif tersebut.

Read Also

Saling Sindir PDIP dan PKB: Adi Prayitno Sebut PKB Tak Berhak Labeli Banteng ‘Abu-Abu’

Saling Sindir PDIP dan PKB: Adi Prayitno Sebut PKB Tak Berhak Labeli Banteng ‘Abu-Abu’

Kronologi dan Identitas Jurnalis yang Hilang

Berdasarkan data yang dihimpun, total ada delapan orang yang dilaporkan hilang setelah kapal cepat (speedboat) yang mereka tumpangi kehilangan kontak sejak Senin (7/9). Mereka berangkat dari kawasan Carita, Pandeglang, dengan tujuan mendokumentasikan fenomena alam Gunung Anak Krakatau yang sedang berada dalam level aktivitas tinggi.

Kelima jurnalis tersebut berasal dari berbagai media nasional dan internasional, yakni:

  • M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA
  • Ari Basuki dari Merdeka.com
  • Yudistiro Pranoto dari iNews
  • Firman Daus dari Anadolu Agency
  • Donal Husni, seorang jurnalis foto lepas (freelance)

Selain kelima jurnalis, terdapat tiga kru kapal yang juga dinyatakan hilang, yaitu Warta yang bertindak sebagai kapten speedboat, Sukarman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto yang mendampingi sebagai pemandu lokal. Kepergian mereka ke zona berbahaya tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan edukasi visual kepada publik mengenai ancaman erupsi Gunung Anak Krakatau.

Read Also

Kekejaman Tak Bertepi: Pasukan Israel Tembak Wanita dan Anak-anak di Jalur Gaza Tengah Eskalasi Ketegangan

Kekejaman Tak Bertepi: Pasukan Israel Tembak Wanita dan Anak-anak di Jalur Gaza Tengah Eskalasi Ketegangan

Keselamatan Jurnalis: Harga Mati yang Tak Bisa Ditawar

Sultan Bachtiar Najamudin memberikan catatan kritis terkait prosedur peliputan di area berisiko tinggi. Menurutnya, meski tuntutan berita yang cepat dan eksklusif sangat tinggi, aspek keamanan jurnalis tidak boleh sedikit pun dikesampingkan. Beliau mengingatkan bahwa setinggi apa pun nilai sebuah berita, nyawa manusia tetap tidak ada tandingannya.

“Profesi jurnalis memiliki peran yang sangat krusial bagi kebutuhan informasi yang aktual dan akurat bagi masyarakat. Meski demikian, upaya rekan-rekan wartawan dalam meliput dan menyebarluaskan setiap peristiwa harus memperhatikan aspek keamanan secara ketat,” tegas Sultan. Ia menambahkan bahwa alam, terutama gunung berapi yang sedang erupsi, memiliki sifat yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa ditantang oleh teknologi manusia semata.

Desakan Standarisasi Mitigasi Risiko bagi Perusahaan Media

Lebih lanjut, Sultan meminta agar setiap perusahaan pers melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) peliputan di wilayah bencana. Ia mendesak agar perusahaan media tidak sekadar mengirim jurnalis ke medan perang atau area bencana tanpa bekal yang memadai. Baginya, mitigasi risiko adalah tanggung jawab mutlak penyedia kerja.

“Bahaya di area bencana alam seperti erupsi Anak Krakatau adalah situasi yang tidak bisa ditantang. Oleh karena itu, kami meminta perusahaan pers wajib membekali jurnalis dengan pelatihan khusus, pengetahuan mitigasi, asuransi kesehatan dan jiwa, serta alat pelindung diri (APD) yang layak sebelum diterjunkan ke area berbahaya,” ucap Sultan. Hal ini dianggap penting agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan dan memberikan jaminan keamanan bagi para pekerja media.

Tantangan Pencarian di Zona Merah Selat Sunda

Memasuki hari-hari krusial pencarian, Tim SAR gabungan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Cuaca buruk dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang fluktuatif menjadi hambatan utama dalam proses penyisiran. Material vulkanik dan gelombang tinggi di Selat Sunda membuat kapal penyelamat harus ekstra waspada saat mendekati titik koordinat terakhir hilangnya speedboat tersebut.

Masyarakat dan komunitas pers terus memberikan dukungan moral serta doa agar kedelapan korban segera ditemukan dalam kondisi selamat. Pencarian yang melibatkan helikopter dan kapal canggih terus dikerahkan untuk memantau permukaan laut serta kemungkinan korban terdampar di pulau-pulau kecil sekitar kawah. Sultan Bachtiar Najamudin berjanji akan terus menyuarakan dukungan dari tingkat legislatif agar alokasi sumber daya untuk penyelamatan korban tetap menjadi prioritas pemerintah.

Menanti Kabar di Tengah Kepulan Abu Vulkanik

Hingga laporan ini diturunkan, harapan masih digantungkan pada kerja keras tim penyelamat di lapangan. Solidaritas dari sesama rekan jurnalis juga terus mengalir, dengan mengadakan doa bersama di berbagai daerah. Kasus ini menjadi duka kolektif bagi industri media massa yang sedang berjuang di tengah dinamika alam yang kian ekstrem.

Keberanian kelima jurnalis ini dalam menjalankan tugas adalah bukti nyata dedikasi pers Indonesia. Namun, pesan Sultan Bachtiar Najamudin tetap bergema kencang: perlindungan terhadap jurnalis adalah investasi terhadap kualitas informasi publik. Publik menunggu dengan cemas, berharap keajaiban datang dari cakrawala Selat Sunda, mengembalikan para pahlawan informasi ini ke pelukan keluarga mereka.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *