Sentuhan Humanis Pramono Anung: Mengubah Wajah Satpol PP Jakarta dengan Senyuman dan Ketegasan

Akbar Silohon | WartaLog
08 Sep 2026, 19:17 WIB
Sentuhan Humanis Pramono Anung: Mengubah Wajah Satpol PP Jakarta dengan Senyuman dan Ketegasan

WartaLog — Di tengah transformasi Jakarta menuju kota global, pendekatan penegakan hukum dan ketertiban umum kini mulai bergeser. Dalam sebuah momen penuh keakraban di perayaan hari jadi ke-76 Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan HUT ke-64 Satlinmas, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan pesan yang tak biasa namun sangat mendalam. Ia mengajak seluruh jajaran Satpol PP untuk menanggalkan kesan kaku dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih humanis, bahkan ia berkelakar agar para personel bisa mencontoh sikapnya dalam menghadapi tekanan publik.

Acara yang berlangsung khidmat di kawasan seni Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Selasa (8/9/2026) tersebut, menjadi panggung bagi Pramono untuk merefleksikan peran krusial Satpol PP sebagai wajah terdepan pemerintah daerah. Baginya, menjaga Jakarta bukan sekadar soal menertibkan pelanggaran, melainkan tentang bagaimana berinteraksi dengan manusia di dalamnya.

Read Also

Tragedi Berdarah di Panyileukan: Misteri Dendam dan Rebutan Rumah yang Berujung Maut

Tragedi Berdarah di Panyileukan: Misteri Dendam dan Rebutan Rumah yang Berujung Maut

Filosofi Senyum dan Ketegangan di Lapangan

Pramono Anung menyadari betul bahwa tugas di lapangan bukanlah perkara mudah. Gesekan antara petugas dan masyarakat seringkali menjadi pemicu emosi yang sulit dihindari. Dalam pidatonya, ia merujuk pada sebuah cuplikan video yang diputar selama acara, yang memperlihatkan dinamika emosional anggota Satpol PP saat bertugas.

“Tadi video yang diputar memperlihatkan apa pun yang namanya anggota Satpol PP juga bisa emosional, bisa marah, bisa tersinggung dari hal-hal kecil,” ujar Pramono dengan nada empati. Namun, ia menekankan bahwa sebagai pelayan masyarakat, pengendalian diri adalah kualifikasi utama yang harus dimiliki oleh setiap personel Satpol PP.

Ketegasan, menurutnya, tidak harus selalu identik dengan wajah garang atau tindakan represif. Justru, kekuatan sejati seorang petugas terletak pada kemampuannya untuk tetap tenang di bawah tekanan. Di sinilah Pramono melontarkan kelakarnya yang memancing tawa hadirin, namun sarat akan makna kepemimpinan.

Read Also

Tragedi di Balik Gemerlap Pesta: Polda Metro Jaya Dalami Kasus Kekerasan Seksual dan Penganiayaan DJ Wanita di Jakarta Selatan

Tragedi di Balik Gemerlap Pesta: Polda Metro Jaya Dalami Kasus Kekerasan Seksual dan Penganiayaan DJ Wanita di Jakarta Selatan

Belajar dari Sang Gubernur: Menghadapi Kritik dengan Kepala Dingin

Salah satu poin menarik dari sambutan tersebut adalah ketika Pramono meminta jajarannya untuk “belajar dari Gubernurnya.” Ia menceritakan bagaimana dirinya seringkali menjadi sasaran kritik, ejekan, hingga cemoohan di ruang publik, namun ia memilih untuk tidak meresponsnya dengan kemarahan.

“Karena sekarang ini Saudara-saudara ditugaskan di garda terdepan untuk menjaga wajah Jakarta, maka Saudara-saudara sekalian harus bisa menahan diri. Minimal belajar dari Gubernurnya lah,” ucapnya sembari tersenyum. Ia menambahkan bahwa meskipun dirinya sering diejek, ia tetap memilih untuk menghadapinya dengan senyuman.

Pramono menegaskan bahwa senyuman tersebut bukanlah bentuk kelemahan. Sebaliknya, itu adalah strategi untuk menjaga wibawa tanpa harus memutus komunikasi. “Walaupun senyumnya pasti apa yang menjadi keinginan, tujuan, dan yang harus diputuskan tetap kita putuskan,” tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan tetap harus ditegakkan secara objektif, namun penyampaiannya dilakukan secara manusiawi.

Read Also

Tabir Gelap di Balik Kematian dr. Icha: Kemenkes Terjunkan Tim Investigasi Usut Dugaan Intimidasi Oknum DPRD

Tabir Gelap di Balik Kematian dr. Icha: Kemenkes Terjunkan Tim Investigasi Usut Dugaan Intimidasi Oknum DPRD

Transformasi HR Rasuna Said sebagai Contoh Keberhasilan

Untuk memberikan gambaran nyata, Pramono menyoroti keberhasilan penertiban di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Kawasan yang dulunya kerap dipadati oleh ‘Pak Ogah’ dan gangguan ketertiban lainnya, kini tampak jauh lebih tertata dan rapi. Keberhasilan ini, menurutnya, adalah buah dari pendekatan yang tepat.

Ia mengapresiasi bagaimana personel Satpol PP mampu menjalankan tugasnya tanpa memicu konflik berkepanjangan. “Ketika sudah tertib, semua orang bilang ‘Kenapa dulu tidak bisa ditertibkan seperti itu?’. Ini sebagai contoh nyata bahwa ketertiban bisa dicapai jika kita konsisten dan menggunakan cara-cara yang beradab,” jelasnya. Kesuksesan di Rasuna Said diharapkan menjadi cetak biru bagi penanganan wilayah lain di Jakarta.

Visi Jakarta Kota Global dan Kepercayaan Publik

Di bawah kepemimpinan Pramono Anung, Jakarta diproyeksikan untuk menjadi kota global yang sejajar dengan megapolitan dunia lainnya. Dalam konteks ini, kenyamanan dan rasa aman bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang harus dijamin oleh pemerintah. Satpol PP memegang peranan kunci dalam mewujudkan ekosistem kota yang teratur tersebut.

Pramono berpendapat bahwa wajah Jakarta tidak hanya ditentukan oleh kemegahan gedung pencakar langit atau kecanggihan infrastruktur transportasi. Wajah sebuah kota tercermin dari bagaimana warga dan petugasnya saling menghargai. Meningkatnya kepercayaan publik terhadap Satpol PP dianggap sebagai modal sosial yang sangat berharga.

“Kalau Saudara-saudara sekalian bisa melewati melalui ini dan kemudian wajahnya lebih humanis, tetap tegas, tetap tertib, tetap berwibawa, saya yakin wajah Jakarta akan total berubah,” tuturnya optimis. Ia ingin setiap warga yang berpapasan dengan Satpol PP tidak lagi merasa takut, melainkan merasa terlindungi.

Peningkatan Kesejahteraan dan Fasilitas: Rencana Mako 2027

Selain memberikan wejangan moral, Gubernur Pramono juga menunjukkan komitmennya dalam memperhatikan kesejahteraan dan fasilitas pendukung bagi para personel. Salah satu rencana strategis yang diumumkan adalah pembangunan Markas Komando (Mako) Satpol PP Jakarta yang representatif.

Target pembangunan fisik markas ini dijadwalkan akan dimulai pada awal tahun 2027. Pembangunan fasilitas ini bukan sekadar soal gedung baru, melainkan upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung profesionalisme anggota. Dengan fasilitas yang mumpuni, diharapkan performa Satpol PP dalam menjaga ketertiban umum akan semakin meningkat drastis.

Pramono percaya bahwa untuk meminta anggota bersikap humanis dan profesional di luar, pemerintah harus terlebih dahulu memastikan kebutuhan internal dan fasilitas mereka terpenuhi dengan baik. Ini adalah bagian dari manajemen sumber daya manusia yang komprehensif dalam tubuh birokrasi Jakarta.

Kesimpulan: Menuju Era Baru Satpol PP

Perayaan HUT ke-76 Satpol PP tahun ini menjadi titik balik penting bagi transformasi institusi tersebut. Pesan Pramono Anung sangat jelas: kekerasan dan arogansi sudah tidak punya tempat dalam pengelolaan kota modern. Kota Global menuntut pendekatan yang lebih cerdas, empati yang lebih tinggi, dan komunikasi yang lebih efektif.

Dengan menggabungkan antara ketegasan dalam menegakkan aturan dan kelembutan dalam cara penyampaiannya, Satpol PP Jakarta diharapkan mampu menjadi garda terdepan yang dibanggakan oleh warganya. Senyuman sang Gubernur bukan sekadar guyonan, melainkan sebuah filosofi kepemimpinan yang ia harapkan bisa mengalir hingga ke tiap personel yang berjaga di sudut-sudut jalanan ibu kota.

Seiring dengan rencana pembangunan infrastruktur pendukung di tahun 2027, masa depan Satpol PP Jakarta tampak menjanjikan. Wajah Jakarta yang baru, yang lebih tertib namun tetap hangat, kini sedang diperjuangkan melalui langkah-langkah kecil yang konsisten di lapangan.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *