Aksi Bungkam Mohamed Salah di Paris Berujung Kritik Pedas: Label ‘Drama Queen’ Mulai Menyemat
WartaLog — Atmosfer di Parc des Princes tidak hanya memanas karena kekalahan Liverpool dari Paris Saint-Germain, tetapi juga akibat aksi bungkam bintang utama mereka, Mohamed Salah. Meski dikenal sebagai ikon klub, sikap Salah yang menolak diwawancarai oleh para legenda usai laga kini memicu gelombang kritik yang cukup tajam.
Dalam laga leg pertama perempat final Liga Champions yang berlangsung Kamis (9/4/2026) dini hari WIB, Liverpool harus pulang dengan tangan hampa setelah menyerah 0-2 dari tuan rumah. Namun, sorotan justru tertuju pada pinggir lapangan. Mohamed Salah, yang biasanya menjadi tumpuan gol, justru hanya menjadi penonton di bangku cadangan. Meski sempat diminta oleh manajer Arne Slot untuk melakukan pemanasan, pemain asal Mesir itu tetap tidak diturunkan hingga peluit panjang berbunyi.
Kisah Perjuangan Ashley Cole: Terbuang di Tanah Kelahiran, Kini Merajut Asa Melatih di Negeri Pizza
Ketegangan di Depan Kamera
Sebuah momen menarik terekam oleh kamera pascapertandingan. Saat melewati area siaran TNT Sports yang dipandu oleh Laura Woods bersama dua ikon Anfield, Steven Gerrard dan Steve McManaman, Salah menunjukkan gestur yang memancing perdebatan. Ia menghampiri ketiganya dengan senyuman tipis, bersalaman, namun secara halus menolak permintaan untuk berbicara di depan mikrofon sebelum akhirnya melenggang masuk ke lorong ganti.
Aksi “tutup mulut” ini memicu reaksi keras dari mantan striker Watford, Troy Deeney. Menulis untuk kolom di The Sun, Deeney tidak segan-segan melabeli Salah sebagai sosok yang egois dan haus perhatian saat kondisinya sedang tidak menguntungkan.
“Pemain sayap Liverpool ini adalah salah satu ‘drama queen’ terbesar yang pernah saya lihat. Ini bukan masalah pribadi, tapi lihatlah bagaimana pujian yang ia terima berbanding terbalik dengan perilakunya musim ini. Itu sangat buruk,” tulis Deeney dengan nada pedas.
Rahasia Ganasnya Garuda Muda di Piala AFF U-17 2026: Pesan Khusus John Herdman Jadi Kunci
Perbandingan dengan Virgil van Dijk
Deeney juga membandingkan profesionalisme Salah dengan sang kapten, Virgil van Dijk. Menurutnya, Van Dijk adalah sosok pemimpin sejati yang selalu berani menghadapi media dalam kondisi apa pun, baik saat menang maupun kalah.
“Salah hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia memastikan mendapatkan sedikit momen di depan kamera TV hanya untuk berjabat tangan dengan Gerrard dan McManaman, padahal McManaman sudah mengomentari laga-laga besar seperti ini selama satu dekade dan kita belum pernah melihat Salah melakukan gestur seperti itu sebelumnya,” tambah Deeney.
Rekam Jejak Kontroversi
Kritik ini seolah membuka luka lama terkait hubungan Salah dengan manajemen klub. Mohamed Salah memang memiliki catatan ketegangan yang cukup panjang. Mulai dari perselisihan di pinggir lapangan dengan Juergen Klopp pada 2024, hingga aksi menghapus segala atribut Liverpool di media sosial setelah dicadangkan melawan Eintracht Frankfurt pada akhir 2025 lalu.
Efisiensi Manchester United: Gol Matheus Cunha Bawa Setan Merah Ungguli Chelsea di Babak Pertama
Belum lagi wawancara kontroversialnya di Elland Road di mana ia secara terang-terangan mengkritik metode Arne Slot dan mengisyaratkan masa depannya di klub sudah berakhir. Deeney menganggap Salah sering kali bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa setelah menciptakan kegaduhan.
“Dia mendapatkan seluruh pujian saat semuanya berjalan lancar. Bahkan ada yang berani menyebutnya lebih baik dari Thierry Henry. Bagi saya, itu sungguh omong kosong,” pungkas Deeney menutup kritiknya.
Hingga saat ini, pihak klub maupun Salah sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait tudingan ‘drama queen’ tersebut. Namun, dengan kontrak yang terus mendekati masa akhir, setiap gestur yang ditunjukkan sang pemain di lapangan maupun di luar lapangan akan terus menjadi konsumsi publik yang panas.