Kisah Leny: Mantan Dosen Beijing yang Kini Mengabdi sebagai Guru Mandarin di Balik Jeruji Lapas Bandung

Akbar Silohon | WartaLog
25 Agu 2026, 21:18 WIB
Kisah Leny: Mantan Dosen Beijing yang Kini Mengabdi sebagai Guru Mandarin di Balik Jeruji Lapas Bandung

WartaLog — Di balik tembok kokoh dan kawat berduri Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, tersimpan sebuah narasi luar biasa tentang transformasi, dedikasi, dan sisa-sisa kejayaan intelektual yang tidak luntur oleh dinginnya lantai penjara. Adalah Leny, seorang wanita berusia 42 tahun, yang kini menjadi perbincangan hangat di lingkungan warga binaan. Sosoknya bukan sekadar narapidana biasa; ia adalah mantan akademisi yang pernah menghabiskan hampir tiga dekade hidupnya di jantung Tiongkok, mengabdikan diri sebagai pengajar di salah satu universitas bergengsi di Beijing.

Dari Podium Universitas Beijing ke Ruang Kelas Lapas

Langkah kaki Leny mungkin kini terbatas oleh aturan protokoler lapas, namun pikirannya tetap melanglang buana. Warga Negara Indonesia (WNI) berdarah Tionghoa ini memiliki rekam jejak yang mengesankan. Sebelum terseret kasus hukum, Leny telah menetap selama 28 tahun di China. Pengalaman hidup yang panjang di negeri tirai bambu tersebut membentuk kemampuan bahasa Mandarinnya setara dengan penutur asli. Tak tanggung-tanggung, ia mengklaim pernah menjabat sebagai dosen di Universitas Beijing, sebuah institusi pendidikan yang menjadi impian banyak pelajar dunia.

Read Also

Kontroversi Relokasi Gerbong Wanita KRL: Antara Keamanan Teknis dan Simbolisme Perlindungan

Kontroversi Relokasi Gerbong Wanita KRL: Antara Keamanan Teknis dan Simbolisme Perlindungan

“Saya memang WNI, tapi separuh hidup saya dihabiskan di China. Menjadi dosen di Beijing adalah bagian dari identitas saya sebelumnya,” kenang Leny saat berbincang hangat dalam sebuah kesempatan di Lapas Perempuan Bandung. Namun, roda nasib membawanya pulang ke tanah air dengan cara yang tak terduga, hingga akhirnya ia harus menjalani masa pidana di Bandung selama hampir dua tahun terakhir.

Alih-alih meratapi nasib di dalam sel, Leny memilih untuk menghidupkan kembali gairah mengajarnya. Ia mempelopori pembukaan kelas belajar bahasa mandarin bagi sesama warga binaan. Inisiatif ini bermula pada tahun 2025 dengan audiens yang sangat terbatas, yakni hanya 12 orang. Namun, berkat ketulusan dan metode pengajarannya yang unik, kelas tersebut perlahan tumbuh menjadi fenomena di dalam lapas.

Read Also

Tragedi Berdarah Blok M: Kronologi Selebgram Woodyrman Hajar WNA Brunei Hingga Tewas Dipicu Tantangan Voice Note

Tragedi Berdarah Blok M: Kronologi Selebgram Woodyrman Hajar WNA Brunei Hingga Tewas Dipicu Tantangan Voice Note

Metode ‘Fun’ yang Meruntuhkan Kekakuan Kurikulum

Sebagai seorang pendidik profesional, Leny memahami betul bahwa mengajar di dalam penjara membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan ruang kuliah formal. Ia menyadari bahwa para narapidana sudah cukup terbebani dengan rutinitas harian yang melelahkan dan tekanan psikologis sebagai orang yang kehilangan kebebasan. Oleh karena itu, ia menerapkan metode pembelajaran yang sangat santai dan berfokus pada percakapan sehari-hari.

Leny secara sadar meninggalkan metode tata bahasa atau grammar yang kaku. Baginya, kemampuan berkomunikasi jauh lebih penting daripada sekadar menghafal struktur kalimat yang rumit. “Saya ingin teman-teman di sini merasa senang. Kelas ini adalah tempat untuk having fun. Saya tidak menuntut mereka menguasai huruf Hanzi yang sulit. Cukup saya tulis Hanzinya, dan mereka menulis Pinyin untuk membantu pelafalan,” jelasnya dengan semangat.

Read Also

Nakhoda Baru Badan Gizi Nasional: Komitmen Istana Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tetap On-Track

Nakhoda Baru Badan Gizi Nasional: Komitmen Istana Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tetap On-Track

Materi yang diberikan pun sangat praktis, mulai dari pengenalan angka, cara memperkenalkan diri, pelafalan nada, hingga menyanyikan lagu-lagu populer berbahasa Mandarin. Strategi ini terbukti sangat efektif. Pada Maret 2025, jumlah peserta kelas Mandarin yang dipimpinnya melonjak drastis hingga mencapai 60 orang. Para warga binaan datang secara sukarela tanpa perlu adanya pengumuman resmi, sebuah bukti nyata bahwa ilmu yang dibagikan Leny menjadi oase di tengah gersangnya kehidupan penjara.

Pahitnya Kasus Hukum: Antara Bisnis dan Penggelapan

Keberadaan Leny di Lapas Perempuan Bandung bukan tanpa sebab. Ia terjerat kasus hukum yang cukup pelik terkait bisnis pendidikan yang ia jalankan. Leny divonis 4 tahun 6 bulan penjara atas tuduhan penipuan bermodus pemberangkatan siswa ke China dan pembukaan kursus bahasa Mandarin ilegal. Dalam versinya, Leny menjelaskan bahwa ada miskomunikasi dan tindakan penggelapan yang dilakukan oleh salah satu sekretarisnya di Indonesia.

“Waktu itu saya memantau bisnis dari Beijing. Pembayaran dari orang tua siswa seharusnya disetorkan oleh sekretaris saya ke sekolah-sekolah di China. Namun, ternyata uang tersebut tidak sampai, sementara anak-anak sudah dijadwalkan berangkat,” ungkap Leny. Meskipun ia bersikeras bahwa dirinya adalah korban dari ketidakjujuran stafnya, sebagai pemilik usaha, ia harus bertanggung jawab penuh di mata hukum. Ia memilih untuk “pasang badan” dan menerima konsekuensi dari kasus penipuan tersebut dengan lapang dada.

Dinamika Pengajar Luar dan Penurunan Antusiasme

Kehidupan di kelas Mandarin sempat mengalami pasang surut. Pada awal tahun 2026, pihak Lapas mendatangkan pengajar sosial dari pihak gereja untuk membantu program pendidikan. Leny yang merasa tugasnya bisa terbantu pun memilih untuk mundur ke posisi pendamping. Namun, perubahan gaya mengajar ini justru membawa dampak yang tak terduga. Pengajar baru tersebut menggunakan metode yang sangat teoretis, menitikberatkan pada teknis nada (tone) yang membosankan bagi para pemula.

Akibatnya, jumlah peserta merosot tajam dari puluhan orang menjadi hanya 9 orang saja. “Warga binaan di sini sudah lelah dengan kegiatan lain. Kalau masuk kelas dan langsung disuguhi teori yang berat, mereka jadi malas,” tutur Leny. Melihat kondisi ini, Leny tidak tinggal diam. Ia kembali aktif membujuk rekan-rekannya untuk kembali belajar dan meyakinkan mereka bahwa ia akan tetap mendampingi di kelas agar suasana kembali ceria seperti sedia kala.

Multitalenta: Dari Pijat Refleksi hingga Seni Membatik

Kemampuan Leny ternyata tidak terbatas pada linguistik saja. Selama menetap di China, ia juga sempat mendalami ilmu pijat refleksi melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ilmu ini kini ia bagikan di salon yang tersedia di dalam lapas. Ia mengajarkan tentang titik-titik saraf dan siklus peredaran darah kepada warga binaan lain, memberikan mereka modal keterampilan yang nyata untuk digunakan setelah bebas nanti.

Di sisi lain, Leny sendiri juga tidak berhenti belajar. Ia memanfaatkan berbagai pelatihan kemandirian yang disediakan oleh Lapas Perempuan Bandung. Mulai dari membuat kue (bakery) seperti marble cake hingga seni membatik, semua ia lahap dengan antusias. Menurutnya, fasilitas pelatihan di dalam lapas ini adalah kesempatan emas yang jika di luar sana harus dibayar mahal dengan biaya kursus yang tinggi.

Lapas Bukan Penjara, Melainkan ‘Sekolah Kepribadian’

Salah satu poin yang paling menyentuh dari kisah Leny adalah perspektifnya mengenai institusi pemasyarakatan di Indonesia. Berbekal pengalamannya sebagai penerjemah (translator) yang pernah mengunjungi berbagai penjara di Singapura dan China, Leny memberikan pujian tinggi untuk sistem di Lapas Perempuan Bandung. Ia merasa manusia di sini benar-benar dihargai, dirangkul, dan tidak diberikan label negatif yang membelenggu.

“Di China atau Singapura, penjara itu benar-benar kaku. Tidak ada ruang gerak, tidak ada kegiatan, benar-benar nol. Tapi di sini, kami justru merasa seperti di sekolah kepribadian. Ibu-ibu wali di sini mendengarkan kisah kami dan memberi masukan tanpa menghakimi,” jelas Leny. Ia bahkan pernah bercerita kepada relasinya di China tentang kegiatannya di lapas yang mirip dengan konser atau pertunjukan seni. Teman-temannya di luar negeri bahkan sempat tidak percaya bahwa Leny sedang menjalani masa tahanan karena suasananya yang tampak begitu manusiawi.

Bagi Leny, masa-masa di balik jeruji ini adalah waktu untuk mengevaluasi diri dan membentuk karakter yang lebih kuat. Ia memandang Lapas Perempuan Bandung bukan sebagai tempat penghukuman, melainkan sebagai wadah untuk belajar agar kelak ketika kembali ke masyarakat, ia tahu persis ke mana kakinya harus melangkah dan apa yang harus dilakukan tangannya agar tidak lagi bersinggungan dengan aparat penegak hukum. Kisah Leny adalah pengingat bahwa di mana pun seseorang berada, bahkan di tempat paling terbatas sekalipun, semangat untuk berbagi ilmu dan memperbaiki diri tidak akan pernah bisa dipenjara.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *