Visi Strategis Bamsoet: UNPERBA Akselerasi Tiga Prodi Baru Guna Sinkronisasi Dunia Pendidikan dan Industri

Akbar Silohon | WartaLog
11 Agu 2026, 21:19 WIB
Visi Strategis Bamsoet: UNPERBA Akselerasi Tiga Prodi Baru Guna Sinkronisasi Dunia Pendidikan dan Industri

WartaLog — Langkah nyata dalam memperkecil jurang antara kualifikasi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia industri terus digalakkan. Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet, selaku Pendiri Universitas Perwira Purbalingga (UNPERBA) sekaligus Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, menegaskan komitmennya dalam mentransformasi institusi pendidikan menjadi kawah candradimuka yang relevan bagi angkatan kerja masa depan.

Menatap tahun akademik 2026, UNPERBA secara resmi telah mengusulkan pendirian tiga program studi (prodi) baru yang dinilai sangat strategis kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Ketiga prodi tersebut adalah S-1 Hukum Bisnis, S-1 Teknik Komputer, dan S-1 Teknik Industri. Langkah ekspansif ini bukan sekadar mengejar kuantitas mahasiswa, melainkan sebuah respons terukur terhadap dinamika pasar kerja global yang kian kompetitif dan terdigitalisasi.

Read Also

Kenangan Mendalam Tito Karnavian untuk Ryamizard Ryacudu: Sosok Senior, Kolega, dan Saudara Seperantauan

Kenangan Mendalam Tito Karnavian untuk Ryamizard Ryacudu: Sosok Senior, Kolega, dan Saudara Seperantauan

Ekspansi Strategis Menuju Relevansi Industri

Saat ini, proses administratif ketiga prodi tersebut telah mengantongi lampu hijau berupa rekomendasi dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah. Kabar ini menjadi angin segar bagi calon mahasiswa di wilayah Jawa Tengah, khususnya Purbalingga, yang menantikan akses pendidikan berkualitas dengan kurikulum modern. Kini, pihak universitas tengah menanti tahap evaluasi akhir serta izin operasional resmi dari Kemdiktisaintek.

Bamsoet menjelaskan bahwa pemilihan ketiga program studi ini tidak dilakukan secara sembarang. Menurutnya, pengembangan ini merupakan bagian integral dari strategi pendidikan tinggi untuk memperluas akses sekaligus menyelaraskan kompetensi keilmuan dengan kebutuhan nyata di dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Hal ini juga sejalan dengan peta jalan perkembangan ekonomi daerah yang menuntut spesialisasi tenaga ahli di bidang hukum komersial dan teknologi manufaktur.

Read Also

Transformasi Aset Korupsi: BPA Kejaksaan Agung Serahkan Bangunan Strategis untuk Operasional Jampidsus

Transformasi Aset Korupsi: BPA Kejaksaan Agung Serahkan Bangunan Strategis untuk Operasional Jampidsus

“Dunia sedang berubah dengan sangat cepat. Kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama dalam mengelola pendidikan. Pengusulan prodi Hukum Bisnis, Teknik Komputer, dan Teknik Industri adalah jawaban UNPERBA terhadap kompleksitas aktivitas ekonomi saat ini. Kita butuh SDM yang tidak hanya paham pasal-pasal hukum, tapi juga mengerti seluk-beluk transaksi bisnis modern,” ujar Bamsoet saat menerima kunjungan Rektor UNPERBA, Eming Sudiana, di Jakarta.

Mengikis Angka Pengangguran Intelektual

Salah satu momok terbesar dalam dunia pendidikan nasional adalah fenomena pengangguran terdidik. Bamsoet menyoroti data memprihatinkan di mana pada tahun 2025, tercatat sekitar 1,01 juta lulusan sarjana masih berstatus pengangguran dari total 7,28 juta pengangguran terbuka di Indonesia. Angka ini menjadi refleksi tajam bahwa gelar akademis saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan keahlian yang dicari oleh pasar.

Read Also

Abadi dalam Sanubari Bangsa: I Gusti Ngurah Rai Dianugerahi Penghargaan Adiluhung di detikBali-Nusra Awards 2026

Abadi dalam Sanubari Bangsa: I Gusti Ngurah Rai Dianugerahi Penghargaan Adiluhung di detikBali-Nusra Awards 2026

“Kita harus menghindari kondisi di mana kampus hanya menjadi ‘pabrik’ ijazah tanpa memikirkan ke mana lulusannya akan berlabuh. Persoalan nasional kita adalah mismatch atau ketidaksesuaian kompetensi. Oleh karena itu, UNPERBA hadir untuk memutus rantai tersebut dengan kurikulum yang ‘link and match’ dengan industri,” tegas tokoh yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia tersebut.

Hadirnya Teknik Komputer dan Teknik Industri di UNPERBA diharapkan mampu mencetak tenaga profesional yang siap terjun ke sektor transformasi digital. Di tengah gelombang otomatisasi, efisiensi proses produksi menjadi kunci keberlangsungan sebuah industri. Di sinilah peran lulusan teknik yang visioner sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas nasional.

Optimalisasi Potensi Ekonomi Lokal Purbalingga

Sejak didirikan pada 8 November 2018, UNPERBA memiliki misi khusus untuk mengangkat derajat ekonomi masyarakat Purbalingga dan sekitarnya. Dengan lima prodi yang sudah ada—yakni Manajemen, Akuntansi, Agribisnis, Teknik Mesin, dan Teknik Informatika—kehadiran prodi baru akan semakin memperkuat ekosistem akademik di wilayah tersebut.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sinyal positif pada sektor ketenagakerjaan di Purbalingga. Pada Agustus 2025, jumlah angkatan kerja di wilayah tersebut mencapai 612,82 ribu orang, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Menariknya, sektor industri menyerap sekitar 46,12 ribu pekerja, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang berhasil ditekan hingga ke angka 4,83 persen.

“Data BPS tersebut memberikan gambaran jelas bahwa kebutuhan tenaga kerja kompeten di daerah sangat tinggi. Ekonomi daerah tidak boleh hanya ditopang oleh tenaga kerja kasar, melainkan harus diisi oleh putra daerah yang memiliki bekal pendidikan tinggi berkualitas. UNPERBA dibangun agar anak-anak Purbalingga tidak perlu merantau jauh ke kota besar hanya untuk mendapatkan ilmu yang relevan,” tambah Bamsoet.

Tantangan Indonesia Emas 2045 dan Bonus Demografi

Dalam skala yang lebih luas, Indonesia tengah berpacu dengan waktu untuk mengoptimalkan bonus demografi demi mencapai visi Indonesia Emas 2045. Namun, tantangan besar masih membentang di depan mata. Kemdiktisaintek mencatat bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia pada tahun 2025 baru menyentuh 32,89 persen.

Walaupun setiap tahunnya perguruan tinggi di seluruh nusantara meluluskan sekitar 1,26 juta sarjana, kualitas dan relevansi tetap menjadi catatan penting. Bamsoet menekankan bahwa peningkatan APK harus dibarengi dengan peningkatan standar mutu pendidikan. Tanpa relevansi, bonus demografi justru berisiko menjadi beban sosial di masa depan.

“Bonus demografi adalah pedang bermata dua. Jika kita gagal menyiapkan generasi yang terampil dan berdaya saing, kita akan kehilangan momentum emas ini. UNPERBA ingin menjadi bagian dari solusi tersebut, tumbuh sebagai kampus yang dekat dengan akar rumput, memahami denyut nadi kebutuhan daerah, namun tetap memiliki wawasan nasional dan global yang luas,” pungkasnya.

Dengan rencana penambahan prodi baru ini, UNPERBA optimis dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam mencetak pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangkas dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berevolusi. Inklusivitas pendidikan yang diusung Bamsoet melalui UNPERBA diharapkan menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan tinggi di daerah-daerah lain di Indonesia.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *