Misteri Potongan Kaki di Kali Licin: Upaya Tak Kenal Lelah K-9 Menguak Tragedi Mutilasi Depok

Akbar Silohon | WartaLog
08 Agu 2026, 07:18 WIB
Misteri Potongan Kaki di Kali Licin: Upaya Tak Kenal Lelah K-9 Menguak Tragedi Mutilasi Depok

WartaLog — Derasnya arus Kali Licin di kawasan Depok seolah menyimpan rahasia kelam yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap. Sudah lebih dari tiga pekan berlalu sejak dunia kriminalitas Tanah Air diguncang oleh aksi keji Saepul (26), namun teka-teki mengenai keberadaan sepasang kaki korbannya, K (51), masih menjadi misteri besar yang menyelimuti wilayah tersebut. Pencarian intensif terus dilakukan, melibatkan berbagai elemen kepolisian dan teknologi pelacakan hewan paling mutakhir yang dimiliki Polri.

Awal Mula Penemuan Tragis di Tanah Kosong

Kisah kelam ini bermula dari sebuah lahan kosong yang tampak biasa saja di mata warga sekitar. Pada tanggal 24 Juli 2026, sebuah karung misterius tergeletak begitu saja di sana. Selama berhari-hari, tak ada satu pun warga yang menaruh curiga. Mereka menganggap benda tersebut hanyalah tumpukan sampah yang dibuang sembarangan oleh oknum tak bertanggung jawab. Namun, aroma busuk yang kian menyengat mulai meresahkan lingkungan kriminalitas Depok.

Read Also

Mengintip Dapur Prediksi BMKG: Proses Rumit di Balik Akurasi Prakiraan Cuaca dan Musim

Mengintip Dapur Prediksi BMKG: Proses Rumit di Balik Akurasi Prakiraan Cuaca dan Musim

Puncaknya terjadi pada Selasa, 4 Agustus, ketika beberapa warga berinisiatif untuk membersihkan lahan tersebut dengan cara membakar sampah-sampah yang menumpuk. Saat api mulai menjilat permukaan karung, barulah kenyataan pahit terungkap. Bukan plastik atau sisa makanan yang ada di dalamnya, melainkan jasad manusia yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Kejadian ini sontak memicu kepanikan massal dan mengundang perhatian tim identifikasi polri untuk segera turun ke lapangan.

Sosok Saepul dan Pelariannya yang Berakhir di Banten

Polisi bergerak cepat. Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pemeriksaan saksi-saksi secara maraton, kecurigaan menguat pada sosok pria bernama Saepul. Pria berusia 26 tahun ini bukanlah orang asing; ia diketahui pernah mencoba peruntungannya dalam sebuah ajang pencarian bakat, sebuah fakta kontras yang membuat masyarakat semakin tak percaya bahwa ia mampu melakukan tindakan sesadis itu.

Read Also

Sinergi Kemendagri dan KPK: Membedah Peta Kerawanan Korupsi di Daerah Demi Pemerintahan yang Bersih

Sinergi Kemendagri dan KPK: Membedah Peta Kerawanan Korupsi di Daerah Demi Pemerintahan yang Bersih

Pelaku sempat berusaha menghilangkan jejak dengan melarikan diri jauh ke luar kota. Namun, gerak-gerik Saepul berhasil dipantau oleh Tim Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Pelariannya akhirnya berakhir di Pandeglang, Banten, pada Rabu subuh (5/8). Penangkapan ini menjadi titik terang, namun juga membuka lembaran baru mengenai fakta bahwa jasad korban belum lengkap. Bagian kaki korban sengaja dipisahkan dan dibuang ke aliran sungai untuk menyulitkan penyelidikan.

Duo K-9: Roby dan Dasa dalam Operasi Pencarian

Menyadari sulitnya medan pencarian di aliran air, polisi menerjunkan bantuan dari Ditpolsatwa Baharkam Polri. Dua anjing pelacak dengan spesialisasi berbeda, Roby dan Dasa, menjadi tumpuan harapan dalam operasi ini. Roby merupakan spesialis kriminal umum yang sebelumnya telah berjasa besar dalam menunjuk arah pelarian Saepul dari titik nol TKP menuju rumah kontrakannya.

Read Also

Seni Menjaga Demokrasi: Mardani Ali Sera Sebut Oposisi dan Koalisi Punya Marwah yang Sama Mulia

Seni Menjaga Demokrasi: Mardani Ali Sera Sebut Oposisi dan Koalisi Punya Marwah yang Sama Mulia

Sementara itu, K-9 Dasa adalah anjing spesialis cadaver, yakni satwa yang dilatih khusus untuk mendeteksi aroma jenazah atau bagian tubuh manusia meskipun sudah tertimbun atau tenggelam di air. Kehadiran Dasa sangat krusial mengingat durasi waktu sejak kejadian sudah cukup lama. Anjing pelacak K-9 ini menyisir setiap tepian Kali Licin dengan ketajaman indra penciuman yang tak dimiliki manusia, mencoba membedakan aroma organik di antara tumpukan sampah sungai.

Tantangan Berat di Arus Kali Licin

Upaya pencarian yang dilakukan pada Jumat (7/8) memasuki hari kedua yang penuh tantangan. Kombes Iman Imanuddin, Dirkrimum Polda Metro Jaya, menjelaskan bahwa faktor alam menjadi musuh utama tim di lapangan. Kali Licin bukan sekadar saluran air tenang; arus bawahnya cukup kuat untuk menyeret benda tumpul maupun potongan organik sejauh berkilo-kilometer dari titik pembuangan awal.

“Kami harus memetakan kembali di mana titik pasti tersangka membuang potongan tubuh tersebut. Aliran air yang deras sangat mungkin membawa bagian tubuh itu hanyut jauh. Ini bukan sekadar mencari di satu titik, tapi kami harus menelusuri sepanjang aliran sungai,” ungkap Iman dalam keterangannya kepada awak media. Selain arus, kondisi dasar sungai yang berlumpur dan banyaknya material sampah domestik menjadi kendala tambahan bagi tim penyisiran sungai.

Motif di Balik Kekejaman: Harta dan Dendam

Penyelidikan lebih lanjut mengungkap tabir gelap di balik aksi mutilasi ini. Saepul diduga kuat telah merencanakan pembunuhan terhadap K dengan tujuan menguasai harta benda milik korban. Sifat dingin yang ditunjukkan pelaku selama interogasi menunjukkan tingkat sosiopat yang mengkhawatirkan. Mutilasi dilakukan bukan hanya untuk menghilangkan jejak, tetapi juga sebagai bentuk upaya maksimal untuk mengecoh aparat penegak hukum.

Polisi juga memasang garis polisi di kontrakan milik pelaku yang menjadi saksi bisu eksekusi keji tersebut. Di sana, tim forensik kepolisian menemukan berbagai bukti pendukung yang memperkuat jeratan hukum bagi Saepul. Kini, pelaku terancam hukuman maksimal, termasuk ancaman hukuman mati, sesuai dengan pasal pembunuhan berencana yang disangkakan kepadanya.

Komitmen Polri untuk Menuntaskan Kasus

Meskipun tersangka utama sudah berada di balik jeruji besi, kepolisian menegaskan bahwa tugas mereka belum tuntas sebelum seluruh bagian tubuh korban ditemukan dan dikembalikan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak. Penghormatan terhadap martabat kemanusiaan korban menjadi alasan utama mengapa operasi di Kali Licin tetap dilanjutkan meskipun medan semakin sulit.

Kombes Gatot Aris Purbaya dari Ditpolsatwa menyatakan bahwa timnya akan terus bertahan di lokasi. “Kami mengatur strategi agar personel dan satwa pelacak tetap dalam kondisi prima. Kami tidak akan menyerah sampai sisa potongan tubuh korban yang belum ditemukan ini berhasil kita amankan,” tegasnya. Operasi ini menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya kewaspadaan lingkungan terhadap potensi kasus mutilasi dan kekerasan di sekitar mereka.

Kini, warga Depok hanya bisa berharap agar misteri di Kali Licin segera berakhir. Pencarian ini bukan sekadar mengejar bukti fisik untuk persidangan, melainkan sebuah misi kemanusiaan untuk memberikan keadilan bagi almarhum K dan keluarga yang ditinggalkan. WartaLog akan terus mengawal perkembangan kasus ini hingga tuntas ke akar-akarnya.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *