Solusi untuk JPO Viral Rasuna Said: Pramono Anung Instruksikan Penyambungan Fasilitas yang Terputus

Akbar Silohon | WartaLog
04 Agu 2026, 15:19 WIB
Solusi untuk JPO Viral Rasuna Said: Pramono Anung Instruksikan Penyambungan Fasilitas yang Terputus

WartaLog — Di tengah deru mesin kendaraan dan hiruk-pikuk aktivitas perkantoran di kawasan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, terselip sebuah anomali infrastruktur yang sempat menjadi buah bibir di jagat maya. Dua Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang berdiri berdampingan secara fisik, namun ironisnya tidak memiliki akses penghubung satu sama lain, kini mendapatkan perhatian serius dari pucuk pimpinan Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan sinyal hijau untuk segera mengakhiri ketidakefisienan tersebut dengan merencanakan penyambungan kedua fasilitas publik tersebut.

Persoalan ini bermula ketika para pengguna transportasi umum mengeluhkan jauhnya jarak yang harus ditempuh hanya untuk berpindah dari satu titik ke titik lainnya, padahal secara kasat mata, dua struktur JPO tersebut berada dalam jarak yang sangat dekat. Menanggapi keresahan warga yang viral tersebut, Pramono Anung menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menutup mata terhadap persoalan infrastruktur Jakarta yang menghambat mobilitas warga.

Read Also

Heboh Pemeriksaan Kartu Pokemon di Bandara Soetta: WartaLog Bedah Fakta di Balik Prosedur Bea Cukai

Heboh Pemeriksaan Kartu Pokemon di Bandara Soetta: WartaLog Bedah Fakta di Balik Prosedur Bea Cukai

Komitmen Gubernur: Mengutamakan Konektivitas Publik

Dalam sebuah pertemuan di Balai Kota DKI Jakarta pada Selasa lalu, Pramono Anung secara terbuka mengakui bahwa dirinya telah mengikuti perkembangan berita mengenai ‘dua JPO yang terpisah’ ini. Ia menyebutkan bahwa ketidakterhubungan kedua fasilitas tersebut merupakan sebuah tantangan teknis yang harus segera dicarikan jalan keluarnya demi kenyamanan masyarakat.

“Yang pertama untuk JPO, kebetulan saya sudah mengikuti beritanya dan saya juga baru tahu kalau tidak terhubung. Maka kami akan segera memutuskan untuk dihubungkan,” ujar Pramono dengan nada tegas. Menurutnya, fasilitas publik seharusnya dibangun dengan prinsip integrasi yang memudahkan, bukan justru menyulitkan langkah kaki warga yang mengandalkan transportasi publik.

Read Also

Strategi Jitu Pramono Anung Tekan Angka Pengangguran Jakarta Hingga 6,03 Persen: Sebuah Catatan Pertumbuhan Inklusif

Strategi Jitu Pramono Anung Tekan Angka Pengangguran Jakarta Hingga 6,03 Persen: Sebuah Catatan Pertumbuhan Inklusif

Langkah konkret tidak hanya berhenti pada pernyataan lisan. Pramono menyatakan bahwa pembahasan teknis mengenai penyambungan dua JPO di kawasan Rasuna Said ini akan segera dibawa ke meja rapat paripurna. Hal ini menunjukkan bahwa koordinasi lintas sektor akan dilakukan untuk memastikan hasil penyambungan nantinya memenuhi standar keamanan dan fungsionalitas yang tinggi.

Mengurai Sejarah: Mengapa Bisa Tidak Terhubung?

Untuk memahami mengapa situasi unik ini bisa terjadi, kita perlu menengok kembali pada proses pembangunan di kawasan tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun, salah satu JPO tersebut merupakan struktur lama yang telah lama dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sementara itu, JPO di sebelahnya adalah fasilitas baru yang dibangun sebagai bagian dari integrasi Stasiun LRT Jabodebek dengan Halte Transjakarta.

Read Also

Bupati Langkat Syah Afandin Resmi Ditahan KPK: Teka-Teki Kebocoran Informasi dan Jejak Suap di Balik Jok Mobil

Bupati Langkat Syah Afandin Resmi Ditahan KPK: Teka-Teki Kebocoran Informasi dan Jejak Suap di Balik Jok Mobil

Siti Dinarwenny, selaku Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, menjelaskan bahwa perubahan tata letak halte menjadi salah satu pemicu munculnya celah ini. Awalnya, JPO eksisting berfungsi sebagai akses utama menuju Halte Transjakarta. Namun, setelah halte dipindahkan ke bawah stasiun integrasi LRT, akses baru pun dibangun oleh pihak pengelola LRT.

Sayangnya, dalam proses pembangunan tersebut, kedua struktur ini tidak langsung menyatu. Alhasil, pengguna jalan yang ingin berpindah dari JPO lama ke area integrasi baru harus turun ke bawah atau memutar jauh, sebuah proses yang dianggap tidak efisien oleh banyak pihak, terutama di tengah teriknya matahari atau saat hujan mengguyur Jakarta.

Tantangan Teknis: Selisih Ketinggian dan Keamanan

Menyambungkan dua bangunan yang sudah berdiri bukanlah perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Terdapat kendala teknis yang cukup signifikan yang selama ini menjadi ganjalan. Berdasarkan kajian awal, ditemukan adanya perbedaan ketinggian lantai sekitar 75 sentimeter di antara kedua JPO tersebut. Padahal, jarak horizontal antara keduanya hanya berkisar di angka 60 sentimeter.

“Kondisi tersebut tidak memungkinkan untuk membangun tangga maupun ramp biasa yang memenuhi persyaratan keselamatan dan kenyamanan standar aksesibilitas,” jelas pihak Bina Marga. Dalam arsitektur pembangunan kota, kemiringan ramp atau jumlah anak tangga harus mengikuti aturan ketat agar tetap ramah bagi penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil.

Namun, dengan adanya instruksi langsung dari Gubernur Pramono Anung, tim teknis kini ditantang untuk berinovasi. Pencarian solusi arsitektural yang kreatif namun tetap aman menjadi prioritas utama. Penyesuaian struktur atau penambahan elemen penghubung khusus sedang dalam tahap pengkajian mendalam agar perbedaan ketinggian 75 cm tersebut tidak lagi menjadi penghalang bagi integrasi fisik.

Aspirasi Pengguna: Menanti Langkah Nyata

Bagi para pejuang transportasi umum di Jakarta, rencana penyambungan ini adalah angin segar. Selama ini, para komuter yang menggunakan layanan Transjakarta dan LRT seringkali merasa waktu mereka terbuang percuma hanya karena masalah konektivitas yang sepele namun berdampak besar. Banyak yang berharap agar proses pengerjaan tidak memakan waktu lama.

“Kalau sudah tersambung, kami tidak perlu lagi repot-repot memutar. Ini masalah efisiensi waktu. Di kawasan bisnis seperti Rasuna Said, waktu lima menit sangatlah berharga,” ungkap salah satu pengguna setia Transjakarta yang sering melintasi area tersebut. Mereka menginginkan agar Jakarta benar-benar menjadi kota yang manusiawi bagi para pejalan kaki.

Gubernur Pramono Anung pun menyadari hal ini. Ia menegaskan kembali komitmennya bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan dari APBD untuk pembangunan fasilitas harus memberikan manfaat maksimal. “Kami akan segera memutuskan untuk dihubungkan, supaya fasilitas itu terkoneksi dengan baik,” pungkasnya sebelum mengakhiri sesi tanya jawab di Balai Kota.

Menuju Integrasi Transportasi yang Parpurna

Kasus JPO di Rasuna Said ini menjadi pengingat penting bagi para perencana kota tentang betapa vitalnya koordinasi antar-instansi dalam pembangunan infrastruktur. Di masa depan, integrasi antar moda transportasi bukan hanya soal ketersediaan armada, melainkan juga kenyamanan akses fisik bagi para penggunanya.

Langkah sigap yang diambil oleh Pramono Anung diharapkan menjadi preseden baik bagi penyelesaian masalah-masalah serupa di titik-titik lain di Jakarta. Dengan konektivitas yang seamless, diharapkan minat masyarakat untuk beralih ke transportasi umum akan semakin meningkat, yang pada akhirnya dapat membantu mengurangi kemacetan kronis di ibu kota.

Warga Jakarta kini menanti realisasi dari janji yang diucapkan. Apakah dalam waktu dekat ‘dua JPO yang terpisah’ itu akan benar-benar bersatu? Hanya waktu dan keseriusan birokrasi yang akan menjawabnya. Namun yang pasti, arah kebijakan menuju Jakarta yang lebih terintegrasi sudah mulai terlihat jelas di ufuk kepemimpinan saat ini.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *