Kesaksian Haru di Balik Wafatnya Ustaz Firdaus: Menjemput Ajal Saat Mengobati Rindu pada Sang Nabi

Akbar Silohon | WartaLog
03 Agu 2026, 05:18 WIB
Kesaksian Haru di Balik Wafatnya Ustaz Firdaus: Menjemput Ajal Saat Mengobati Rindu pada Sang Nabi

WartaLog — Maut sering kali datang tanpa permisi, namun bagi segelintir manusia pilihan, ia tiba dalam balutan kemuliaan yang menggetarkan jiwa. Itulah gambaran yang menyelimuti kepergian Ustaz Ahmad Firdaus (53), seorang pendakwah yang mengembuskan napas terakhirnya tepat di tengah riuh rendah bait-bait tausiah kematian yang ia sampaikan sendiri. Peristiwa yang terjadi di kawasan Klender, Jakarta Timur ini, bukan sekadar berita duka biasa, melainkan sebuah narasi tentang cinta, rindu, dan sebuah kepulangan yang dinilai banyak orang sebagai akhir yang indah atau husnul khatimah.

Detik-Detik Kepulangan Sang Pendakwah di Atas Mimbar

Malam Jumat di akhir Juli itu seharusnya menjadi malam pengajian rutin yang penuh khidmat. Ustaz Firdaus hadir dalam sebuah acara haul di Klender dengan stamina yang tampak biasa, namun dengan pesan yang luar biasa dalam. Ribuan mata jemaah tertuju padanya saat ia mulai membedah hakikat eksistensi manusia dan rahasia di balik tabir kematian. Tak ada yang menyangka bahwa kata-kata yang keluar dari lisannya malam itu adalah wasiat terakhir yang ia sampaikan di dunia fana ini.

Read Also

Konflik Selat Hormuz Membara: Serangan Udara AS Hantam Iran, Infrastruktur Vital dan Warga Sipil Terdampak

Konflik Selat Hormuz Membara: Serangan Udara AS Hantam Iran, Infrastruktur Vital dan Warga Sipil Terdampak

Putra almarhum, Ahmad Fikri Fairus (31), mengenang momen tersebut dengan nada bicara yang masih menyimpan sisa-sisa keharuan. Menurutnya, sang ayah sedang berada di puncak ceramahnya ketika maut datang menjemput. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 21.00 WIB. Rekaman video yang kemudian viral di jagat maya menunjukkan betapa tenang proses transisi itu terjadi. Ustaz Firdaus tidak sedang mengeluh sakit, ia sedang memuji Sang Khalik dan berselawat kepada Nabi Muhammad SAW.

“Semuanya terjadi begitu saja. Beliau sedang menyampaikan ilmu dalam acara haul. Saat lidahnya basah menyebut nama Nabi Muhammad SAW dan berselawat, di situlah Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya pulang,” ungkap Fairus saat ditemui di kediaman duka. Kepergian yang begitu mendadak namun dalam keadaan beribadah ini menyisakan kekaguman mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Read Also

Skandal Perambahan Hutan Lindung Batam: PT GTP Resmi Ditetapkan Tersangka, Terancam Bui 10 Tahun

Skandal Perambahan Hutan Lindung Batam: PT GTP Resmi Ditetapkan Tersangka, Terancam Bui 10 Tahun

Filosofi ‘Rindu’ yang Menjadi Tema Terakhir

Ada hal yang menarik dan terasa cukup simbolis dalam rangkaian ceramah agama yang disampaikan Ustaz Firdaus di hari-hari terakhirnya. Menurut Fairus, ayahnya seolah sudah memiliki firasat atau setidaknya sedang mempersiapkan diri menuju keabadian. Tema yang selalu ia bawakan berulang-ulang adalah tentang ‘rindu’. Ia sering menekankan bahwa rindu yang paling hakiki adalah rindu kepada Sang Pencipta dan kekasih-Nya, Rasulullah.

“Beliau membahas tentang rindu yang harus segera diobati. Beberapa hari terakhir, tema ceramahnya tidak jauh dari kata rindu, rindu, dan rindu. Beliau berkata bahwa rindu itu hanya bisa sembuh jika kita bertemu dengan sosok yang kita rindukan,” jelas Fairus dengan mata berkaca-kaca. Seolah-olah, dengan menyebut nama Nabi Muhammad di akhir hayatnya, Ustaz Firdaus telah berhasil ‘mengobati’ rindu tersebut melalui pintu kematian.

Read Also

Strategi Polda Banten Jaga Kondusivitas May Day: Dari Simulasi Sispam Kota Hingga Aksi Sosial

Strategi Polda Banten Jaga Kondusivitas May Day: Dari Simulasi Sispam Kota Hingga Aksi Sosial

Materi tentang kematian yang ia bawakan sesaat sebelum wafat pun terasa seperti sebuah panduan bagi para jemaah. Beliau menjelaskan bahwa kematian bukanlah akhir yang menakutkan bagi mereka yang memiliki bekal, melainkan sebuah jembatan menuju pertemuan yang dinanti-nantikan. Tak lama setelah kalimat-kalimat penuh makna itu terlontar, beliau jatuh lunglai dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, yang kemudian mengonfirmasi bahwa sang ustaz telah tiada.

Wasiat untuk Keluarga: Bergantung Hanya pada Allah

Di balik sosoknya yang karismatik di atas mimbar, Ustaz Firdaus adalah seorang ayah yang menanamkan kemandirian spiritual yang sangat kuat kepada anak-anaknya. Pesan yang selalu ia gaungkan di rumah adalah larangan keras untuk bergantung pada sesama manusia. Baginya, kekecewaan adalah hasil pasti dari berharap pada makhluk, sementara ketenangan hanya didapat dengan bersandar pada Sang Pencipta.

“Almarhum selalu menekankan kepada kami, anak-anaknya, untuk jangan pernah meninggalkan ibadah, sesulit apa pun keadaan hidup. Beliau juga berulang kali mengingatkan, jangan pernah meminta atau berharap pada manusia, karena manusia akan mengecewakanmu. Tapi kalau berharap pada Allah, kamu tidak akan pernah merasakan kecewa,” kenang Fairus menirukan nasihat ayahnya. Prinsip tauhid murni inilah yang menjadi warisan paling berharga bagi keluarga yang ditinggalkan.

Keluarga meyakini bahwa konsistensi almarhum dalam menjaga ibadah dan menjaga hati dari ketergantungan duniawi adalah alasan mengapa Allah memberinya hadiah berupa kematian yang diimpikan banyak Muslim. Jenazah sang ustaz akhirnya dikebumikan di TPU Kampung Sumur, Jalan Dermaga, Jakarta Timur, diiringi oleh isak tangis dan doa dari ratusan jemaah yang merasa kehilangan sosok guru yang teduh.

Sosok Guru, Kakak, dan Teman di Mata Warga

Kepergian Ustaz Firdaus meninggalkan lubang besar di hati warga Klender. Di mata tetangga dan murid-muridnya, beliau bukan sekadar penceramah yang berdiri di tempat tinggi, melainkan sosok yang membumi dan merangkul semua kalangan. Jamaludin (53), salah satu warga yang mengenal dekat almarhum, menggambarkan Ustaz Firdaus sebagai pribadi yang sangat supel dan tidak pernah membeda-bedakan status sosial maupun usia.

“Bagi saya, beliau itu paket lengkap. Bisa jadi guru, bisa jadi kakak, bahkan bisa jadi teman nongkrong yang asyik. Beliau tidak pernah memandang remeh yang muda atau minder di depan yang tua. Di mata beliau, semua orang itu sama dan layak mendapatkan perhatian yang sama,” ujar Jamaludin. Sifat rendah hati inilah yang membuat majelis-majelis yang dipimpinnya selalu dipenuhi jemaah dari berbagai latar belakang.

Selain aktif berceramah, Ustaz Firdaus juga dikenal sebagai penggerak kegiatan ziarah wali di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Beliau sering mengajak anak-anak muda dan anggota majelis taklim untuk mengunjungi makam-makam ulama besar seperti KH Ahmad Zayadi Muhajir, KH Ahmad Marzuqi bin Mirshod, hingga makam Keramat Luar Batang. Jamaludin mengenang bagaimana almarhum selalu antusias memimpin konvoi motor bersama para muridnya menuju tempat-tempat bersejarah tersebut.

Dedikasi Tanpa Batas bagi Jemaah

Salah satu kualitas yang paling dikenang dari Ustaz Firdaus adalah kedermawanan waktunya. Beliau dikenal sebagai sosok yang ‘tidak bisa berkata tidak’ jika ada jemaah yang membutuhkan pendampingan, baik untuk acara hajatan, pengajian keluarga, hingga urusan kedukaan. Jarak yang jauh bukan menjadi penghalang bagi sang ustaz untuk hadir dan memberikan kesejukan bagi mereka yang mengundangnya.

“Beliau itu orangnya paling enak. Diajak ke mana saja kalau buat kepentingan umat, nggak pernah nolak. Kalau ada jemaah punya hajat, beliau siap mendampingi sampai selesai. Benar-benar sosok pendamping umat yang tulus,” tambah Jamaludin. Dedikasi inilah yang membuat prosesi pemakamannya dihadiri oleh begitu banyak orang, seolah menunjukkan betapa luas jejak kebaikan yang telah ia tanam selama hidupnya.

Kisah wafatnya Ustaz Firdaus kini menjadi pengingat bagi banyak orang tentang bagaimana sebuah kehidupan seharusnya diakhiri. Dalam setiap kajian Islam, sering disebutkan bahwa seseorang akan wafat sesuai dengan kebiasaan hidupnya. Ustaz Firdaus terbiasa dengan ilmu, selawat, dan rindu kepada Rasulullah, maka di atas panggung dakwah itulah ia menutup usianya dengan manis. Selamat jalan, Ustaz. Semoga rindu yang engkau pupuk selama ini telah menemukan muaranya di pelukan rahmat-Nya.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *