Kesaksian Ghyna Islamiati Ramly: Menguak Transparansi Seleksi Akpol yang Tanpa Celah Bagi Praktik Curang

Akbar Silohon | WartaLog
26 Jul 2026, 19:17 WIB
Kesaksian Ghyna Islamiati Ramly: Menguak Transparansi Seleksi Akpol yang Tanpa Celah Bagi Praktik Curang

WartaLog — Di balik tembok kokoh Kompleks Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, sebuah babak baru dalam sejarah transformasi institusi kepolisian sedang ditulis. Bukan melalui narasi retoris, melainkan lewat pengakuan jujur para pejuang seragam cokelat yang sedang menempuh seleksi tingkat pusat. Salah satu suara yang mencuat adalah Ghyna Islamiati Ramly, seorang calon taruni (catar) asal Palu, Sulawesi Tengah, yang berbagi pengalaman spiritual dan intelektualnya selama mengikuti proses rekrutmen yang ia sebut sangat transparan.

Suasana di Semarang hari itu mungkin terasa terik, namun bagi Ghyna, ketegangan ujian akademik dan bahasa Inggris jauh lebih membakar semangatnya. Ia mengaku sempat merasa kewalahan menghadapi gempuran soal yang memiliki tingkat kesulitan luar biasa. Namun, di balik peluh dan konsentrasi tinggi tersebut, terselip rasa lega yang mendalam. Mengapa? Karena ia menyaksikan sendiri bagaimana setiap butir nilai yang ia perjuangkan dijaga ketat oleh sistem yang tidak memberikan ruang bagi intervensi manusia atau praktik “titipan” yang selama ini menjadi stigma negatif di masyarakat.

Read Also

Misi Perdamaian Berakhir, Seluruh Pasukan TNI di Lebanon Dijadwalkan Kembali ke Tanah Air Mei 2026

Misi Perdamaian Berakhir, Seluruh Pasukan TNI di Lebanon Dijadwalkan Kembali ke Tanah Air Mei 2026

Sistem Real-Time: Menutup Ruang Manipulasi

Menurut Ghyna, kunci utama dari kepercayaan publik terhadap rekrutmen polri saat ini terletak pada penggunaan teknologi informasi yang mutakhir. Proses penilaian yang dilakukan berbasis komputer (Computer Assisted Test) memungkinkan transparansi total. Begitu tombol ‘selesai’ ditekan, layar monitor langsung memampang angka-angka yang menjadi penentu nasib para peserta.

“Menurut saya rekrutmen ini sangat adil karena nilai langsung ditampilkan di komputer masing-masing. Begitu selesai mengerjakan, kami bisa langsung melihat hasil kerja keras kami sendiri tanpa harus menunggu berhari-hari atau melalui perantara,” ungkap Ghyna dengan nada penuh keyakinan saat ditemui tim media di Semarang. Mekanisme ini memastikan bahwa data yang masuk ke server pusat adalah data murni yang tidak bisa diubah oleh oknum mana pun di lapangan.

Read Also

Jawa Tengah Raih Penghargaan Bergengsi dari KPK: Sukses Lampaui Target Integritas ASN Melalui Program E-Learning

Jawa Tengah Raih Penghargaan Bergengsi dari KPK: Sukses Lampaui Target Integritas ASN Melalui Program E-Learning

Namun, transparansi tidak berhenti di layar monitor saja. Panitia seleksi menerapkan prosedur berlapis untuk menjamin akuntabilitas. Setelah nilai muncul secara digital, seluruh hasil ujian tersebut dicetak dalam satu lembar dokumen fisik. Hal yang menarik, dokumen tersebut tidak hanya disimpan oleh panitia, tetapi wajib ditandatangani bersama oleh seluruh peserta dalam satu kelompok ujian.

Kolektivitas dan Pengawasan Antarpeserta

Metode penandatanganan bersama ini menciptakan sistem pengawasan horizontal. Setiap calon taruna dapat melihat nilai rekan-rekan seperjuangannya. Tidak ada yang disembunyikan. Jika ada kejanggalan, setiap peserta memiliki hak dan kesempatan untuk mempertanyakannya secara langsung di lokasi.

“Semua nilai peserta di-print dalam satu kertas untuk ditandatangani bersama-sama. Jadi kami bisa melihat nilai peserta lain juga. Ini membuat kami saling percaya bahwa tidak ada yang mendapatkan keistimewaan secara diam-diam,” tambah alumnus SMA Al-Azhar Mandiri Palu tersebut. Pendekatan ini memperkuat integritas dalam seleksi akpol, di mana kejujuran menjadi fondasi utama sebelum mereka benar-benar dididik menjadi pelayan masyarakat.

Read Also

Surya Paloh Menatap Pemilu 2029: Tak Persoalkan Sistem, Tekankan Sportivitas Sebagai Ruh Demokrasi

Surya Paloh Menatap Pemilu 2029: Tak Persoalkan Sistem, Tekankan Sportivitas Sebagai Ruh Demokrasi

Selain aspek akademik, Ghyna juga menyoroti bagaimana disiplin ditegakkan tanpa pandang bulu. Di Akpol, latar belakang keluarga, status sosial, maupun ekonomi ditinggalkan di gerbang luar. Panitia memperlakukan seluruh peserta dengan standar yang sama. Prinsip “satu salah, semua kena” diterapkan untuk memupuk jiwa korsa dan tanggung jawab kolektif. Jika satu orang melakukan pelanggaran disiplin, maka seluruh kelompok akan merasakan konsekuensinya, sebuah simulasi nyata dari kehidupan di dalam korps kepolisian nantinya.

Teknologi Digital dalam Tes Kesamaptaan Jasmani

Transformasi digital Polri tidak hanya menyentuh ranah kognitif, tetapi juga fisik. Tes kesamaptaan jasmani yang seringkali dianggap subjektif, kini telah dimodernisasi. Ghyna menceritakan bagaimana setiap gerakan, mulai dari lari, pull-up, hingga sit-up, kini dipantau menggunakan perangkat sensor digital.

“Tes jasmani juga semua gerakannya dihitung alat digital, bukan lagi orang yang menghitung secara manual. Jadi hasilnya sangat objektif. Jika alat tidak mendeteksi gerakan yang sempurna, maka poin tidak akan bertambah. Tidak ada celah untuk memohon atau bernegosiasi dengan petugas,” paparnya. Inovasi ini meminimalisir faktor kesalahan manusia (human error) dan memastikan bahwa hanya mereka yang memiliki ketahanan fisik terbaiklah yang bisa lolos ke tahap berikutnya.

Kehadiran teknologi ini menjadi jawaban atas tantangan zaman. Polri ingin memastikan bahwa setiap taruna yang terpilih adalah individu yang memang layak secara kualitas, bukan karena faktor kedekatan atau materi. Dengan transparansi seleksi yang sedemikian ketat, diharapkan profil perwira Polri di masa depan akan semakin profesional dan berintegritas.

Profil Ghyna: Sang Delegasi Internasional yang Tertantang

Melihat latar belakangnya, Ghyna bukanlah remaja sembarangan. Ia adalah anggota Paskibraka Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2024. Pengalaman organisasinya pun mendunia. Ia tercatat pernah dua kali mewakili Indonesia dalam forum internasional yang bergengsi. Pada tahun 2025, ia menjadi delegasi Indonesia dalam Asian Youth Forum di Korea Selatan, di mana ia membawakan materi krusial mengenai kesehatan mental remaja.

Tak berhenti di situ, di tahun yang sama, Ghyna kembali terbang ke Jepang untuk menghadiri Global Youth Forum. Di hadapan pemuda dari berbagai belahan dunia, ia mempresentasikan isu pemanasan global dan solusi berkelanjutan. Namun, meski terbiasa beradu argumen dalam bahasa Inggris di level internasional, Ghyna mengaku tes bahasa Inggris di Akpol tetap menjadi tantangan yang berat.

“Saya merasa tesnya sangat sulit, menurut saya setara dengan soal-soal olimpiade. Tapi bagi saya, standar tinggi itu wajar dan memang seharusnya demikian. Bahasa Inggris adalah bahasa internasional, dan calon perwira harus bisa memberikan keyakinan kepada masyarakat serta dunia bahwa taruna-taruni Akpol memiliki kualitas intelektual yang dibutuhkan negara,” tegasnya.

Menuju Polri yang Modern dan Berprestasi

Dalam seleksi tingkat pusat ini, Ghyna berhasil meraih nilai Tes Potensi Akademik (TPA) sebesar 74, Tes Bahasa Inggris 56, dan nilai kesamaptaan jasmani 72. Meski ia mengakui angka-angka tersebut diraih dengan perjuangan ekstra keras, ia merasa bangga karena nilai tersebut adalah murni representasi dari kemampuannya sendiri.

Keberhasilan sistem seleksi yang transparan ini diharapkan mampu menjaring bibit-bibit unggul seperti Ghyna—anak muda yang tidak hanya memiliki fisik yang kuat, tetapi juga wawasan global dan empati terhadap isu-isu sosial. Institusi Polri di bawah kepemimpinan saat ini memang tengah gencar melakukan pembenahan internal, dimulai dari hulu, yakni proses rekrutmen.

Melalui testimoni para catar seperti Ghyna, publik dapat melihat sebuah optimisme baru. Bahwa menjadi seorang perwira polisi bukan lagi soal siapa yang Anda kenal, melainkan seberapa besar kapasitas dan dedikasi yang Anda miliki. Dengan menutup rapat celah manipulasi, Akademi Kepolisian sedang mempersiapkan generasi pemimpin masa depan yang siap menjaga keamanan dan ketertiban negeri dengan tangan yang bersih sejak hari pertama mereka mendaftar.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *