Dramatis! Harry Kane Bawa Inggris Comeback Atas RD Kongo dan Segel Tiket 16 Besar Piala Dunia 2026

Sutrisno | WartaLog
02 Jul 2026, 01:21 WIB
Dramatis! Harry Kane Bawa Inggris Comeback Atas RD Kongo dan Segel Tiket 16 Besar Piala Dunia 2026

WartaLog — Gemuruh di Atlanta Stadium menjadi saksi bisu sebuah drama kolosal yang tersaji dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026. Tim nasional Inggris, yang sempat berada di ujung tanduk, berhasil menunjukkan mentalitas juaranya dengan membalikkan keadaan saat bersua wakil Afrika, RD Kongo. Sempat tertinggal di menit-menit awal, Tiga Singa bangkit melalui kepemimpinan sang kapten, Harry Kane, yang memborong dua gol kemenangan di paruh kedua pertandingan.

Kemenangan tipis 2-1 ini bukan sekadar hasil akhir yang manis, melainkan pembuktian taktik Thomas Tuchel yang sempat dipertanyakan di awal laga. Dengan hasil ini, Inggris secara resmi mengamankan satu tempat di babak 16 besar dan dijadwalkan akan menantang salah satu tuan rumah, Meksiko, dalam laga yang diprediksi akan jauh lebih panas dan emosional.

Read Also

Krisis Lini Belakang Bayern Munich: Kebobolan 11 Gol dalam Tiga Laga Menjadi Sinyal Bahaya Jelang Duel Kontra PSG

Krisis Lini Belakang Bayern Munich: Kebobolan 11 Gol dalam Tiga Laga Menjadi Sinyal Bahaya Jelang Duel Kontra PSG

Kejutan Kilat: Gol Cepat Brian Cipenga Guncang Atlanta

Pertandingan baru berjalan tujuh menit ketika publik Atlanta dikejutkan oleh skema serangan balik mematikan dari RD Kongo. Tim berjuluk The Leopards ini tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun meski berhadapan dengan nama-nama besar di skuad Inggris. Melalui sebuah umpan panjang yang presisi, Brian Cipenga berhasil meloloskan diri dari kawalan lini belakang Inggris yang tampak belum sepenuhnya fokus.

Cipenga, yang bergerak liar di sisi kiri, merangsek masuk ke kotak penalti dan melepaskan tembakan keras ke sudut sempit. Penjaga gawang Inggris, Jordan Pickford, tampak terkejut dengan arah bola yang meluncur deras ke tiang dekat. Gol! RD Kongo unggul 1-0, sebuah skor yang seketika membungkam ribuan pendukung Inggris yang memadati tribun stadion. Timnas Inggris pun dipaksa bekerja ekstra keras sejak menit-menit awal.

Read Also

Joe Hart: Mengapa Manchester City Justru Lebih Berbahaya Saat Berada dalam Posisi Mengejar Arsenal

Joe Hart: Mengapa Manchester City Justru Lebih Berbahaya Saat Berada dalam Posisi Mengejar Arsenal

Kebuntuan Strategi Tuchel di Babak Pertama

Pasca tertinggal satu gol, Inggris mencoba mengambil alih kendali permainan. Namun, alih-alih tampil dominan, pasukan Thomas Tuchel justru terlihat gugup dan sering melakukan kesalahan elementer. Koordinasi antar lini tampak macet, dengan Declan Rice dan Anderson yang kesulitan mendistribusikan bola ke sektor sayap yang dihuni Marcus Rashford dan Madueke.

Hingga jeda minum pada menit ke-25, statistik mencatat Inggris sama sekali gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran. RD Kongo, di bawah asuhan pelatih mereka, bermain sangat disiplin dengan blok pertahanan rendah yang sangat rapat. Upaya Inggris melalui tendangan bebas Declan Rice sempat membentur Ezri Konsa, namun bola hanya melenceng tipis di sisi gawang yang dikawal Lionel Mpasi.

Read Also

Ancaman Nyata Manchester City: Mengapa Arsenal Wajib Waspada di Jalur Juara?

Ancaman Nyata Manchester City: Mengapa Arsenal Wajib Waspada di Jalur Juara?

Menjelang akhir babak pertama, intensitas serangan Inggris mulai meningkat. Peluang emas lahir dari sundulan Jude Bellingham dan sontekan Harry Kane. Namun, penampilan gemilang Lionel Mpasi di bawah mistar gawang RD Kongo benar-benar menjadi tembok penghalang. Mpasi melakukan serangkaian penyelamatan akrobatik yang memaksa pemain Inggris tertunduk lesu saat memasuki ruang ganti dengan skor tertinggal 0-1.

Momentum Kebangkitan Tiga Singa

Memasuki babak kedua, Thomas Tuchel tampaknya memberikan instruksi keras kepada anak asuhnya. Perubahan gaya main terlihat jelas; Inggris lebih berani melakukan penetrasi langsung ke jantung pertahanan lawan. Marcus Rashford hampir saja menyamakan kedudukan di menit ke-48 jika tembakannya tidak menerpa sisi luar jaring gawang.

Tekanan bertubi-tubi yang dilancarkan Inggris akhirnya membuat pertahanan RD Kongo mulai retak. Masuknya Anthony Gordon memberikan dimensi baru dalam serangan sayap. Para pemain Kongo yang sebelumnya tampil spartan mulai terlihat kelelahan mengimbangi kecepatan transisi yang diterapkan oleh para pemain Inggris.

Brace Harry Kane: Bukti Ketajaman Sang Predator

Momen yang ditunggu-tunggu pendukung Inggris akhirnya tiba di menit ke-75. Berawal dari penetrasi Anthony Gordon di sisi lapangan, ia melepaskan umpan silang melengkung yang sangat akurat. Harry Kane, yang memiliki insting posisi luar biasa, melompat lebih tinggi dari barisan bek lawan dan menanduk bola dengan tajam. Lionel Mpasi kali ini tak berdaya melihat bola bersarang di pojok gawangnya. Skor berubah menjadi 1-1.

Gol penyama kedudukan tersebut menjadi katalisator bagi semangat juang Inggris. Mereka tidak lagi bermain aman dan terus memburu gol kemenangan. Puncaknya terjadi pada menit ke-86. Berawal dari kemelut di depan kotak penalti, bola liar berhasil dikuasai oleh Kane. Meski dikepung oleh dua pemain lawan dan dalam posisi yang tidak sepenuhnya seimbang, Kane berhasil memutar badan dan melepaskan tembakan mendatar yang mematikan.

Bola tersebut meluncur mulus tanpa bisa dijangkau oleh Mpasi, sekaligus memastikan keunggulan Inggris menjadi 2-1. Atlanta Stadium bergemuruh merayakan comeback gemilang sang kapten yang sekali lagi membuktikan mengapa ia tetap menjadi pilihan utama di ujung tombak Tiga Singa.

Statistik Pertandingan dan Performa Pemain

Secara statistik, Inggris memang mendominasi penguasaan bola hingga 65%, namun efektivitas serangan mereka baru terlihat di 20 menit terakhir pertandingan. Performa Jude Bellingham sebagai dirigen di lini tengah layak mendapat apresiasi, meskipun beberapa kali ia tampak frustrasi karena rapatnya penjagaan pemain RD Kongo. Di sisi lain, Aaron Wan-Bissaka yang bermain untuk RD Kongo tampil sangat solid di lini belakang, berulang kali mematahkan serangan dari mantan rekan-rekan setimnya di liga Inggris.

Berikut adalah susunan pemain yang diturunkan dalam laga krusial tersebut:

  • Inggris: Jordan Pickford; Djed Spence, Ezri Konsa, Marc Guehi, O’ Reilly; Declan Rice, Anderson; Marcus Rashford, Jude Bellingham, Noni Madueke; Harry Kane.
  • RD Kongo: Lionel Mpasi-Nzau; Aaron Wan-Bissaka, Mbemba, Tuanzebe, Masuaku; Mukau, Moutoussamy, Sadiki; Mbuku, Brian Cipenga, Yoane Wissa.

Menatap Babak 16 Besar: Duel Klasik Melawan Meksiko

Setelah melewati ujian berat dari RD Kongo, Inggris kini harus segera memulihkan fisik dan mental mereka. Lawan yang sudah menunggu di babak 16 besar bukanlah tim sembarangan. Meksiko, yang akan bermain di hadapan pendukungnya sendiri, dipastikan akan memberikan tekanan yang jauh lebih besar.

Thomas Tuchel harus mengevaluasi celah di lini pertahanan yang sering kali terbuka saat menghadapi serangan balik cepat. Ketergantungan pada Harry Kane untuk mencetak gol juga menjadi catatan penting yang harus segera dicarikan solusinya. Namun, kemenangan atas RD Kongo ini setidaknya memberikan suntikan kepercayaan diri bahwa Inggris memiliki mental baja untuk menghadapi situasi sulit di turnamen sebesar Piala Dunia.

Perjalanan Tiga Singa masih panjang, dan publik sepak bola dunia tentu menantikan apakah taktik Tuchel mampu membawa Inggris melangkah lebih jauh dan mengakhiri dahaga gelar internasional mereka. Untuk saat ini, Harry Kane dan kawan-kawan boleh bernapas lega sembari mempersiapkan diri untuk pertempuran sesungguhnya di fase gugur selanjutnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *