Drama di Assen: Veda Ega Pratama Gagal Finis, Persaingan Rookie of the Year Moto3 2026 Kian Sengit

Maya Indah | WartaLog
28 Jun 2026, 17:19 WIB
Drama di Assen: Veda Ega Pratama Gagal Finis, Persaingan Rookie of the Year Moto3 2026 Kian Sengit

WartaLog — Akhir pekan di Sirkuit Assen, Belanda, yang dijuluki sebagai ‘The Cathedral of Speed’, menyisakan pil pahit bagi talenta muda kebanggaan Indonesia, Veda Ega Pratama. Seri kesepuluh Moto3 musim 2026 yang berlangsung pada Minggu (28/6/2026) sore WIB, menjadi panggung yang penuh drama sekaligus ujian mental bagi pembalap asal Gunungkidul tersebut. Harapan untuk membawa pulang poin krusial harus pupus setelah insiden di lintasan memaksanya mencatat hasil DNF (Did Not Finish) untuk kedua kalinya musim ini.

Kegagalan ini membawa dampak signifikan pada posisi Veda di papan klasemen sementara. Pembalap andalan Honda Team Asia tersebut harus tertahan di angka 82 poin, sebuah situasi yang membuatnya semakin tertinggal dari rival utamanya dalam perebutan gelar bergengsi Rookie of the Year. Tidak hanya gagal memangkas jarak dengan pemuncak klasemen pendatang baru, Veda kini juga mulai ditempel ketat oleh pesaing di bawahnya yang berhasil memanfaatkan momentum di Assen untuk mendulang angka.

Read Also

Misi Menaklukkan Sicilia: Remaja Berbakat Tangerang Bayu Anantha Siap Guncang Kejuaraan Gokar Dunia

Misi Menaklukkan Sicilia: Remaja Berbakat Tangerang Bayu Anantha Siap Guncang Kejuaraan Gokar Dunia

Kronologi Jalannya Balapan yang Penuh Ketegangan

Memulai balapan dari posisi ketujuh berdasarkan hasil kualifikasi yang cukup menjanjikan, Veda sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk bersaing di barisan depan. Namun, atmosfer kompetisi balap motor kelas dunia yang begitu ketat langsung terasa sejak lampu hijau menyala. Di awal lomba, Veda sempat mengalami kesulitan dalam menjaga ritme dan harus rela melorot ke urutan sembilan. Namun, bagi para pengamat di dunia balap motor, momen ini justru menunjukkan kematangan Veda dalam membaca situasi.

Keberuntungan sempat memihak Veda ketika terjadi sebuah insiden di barisan tengah yang melibatkan Alvaro Carpe dari tim Red Bull KTM Ajo dan Adrian Cruces yang membela panji CIP Green Power. Kecelakaan tersebut membuka celah bagi Veda untuk melakukan manuver agresif. Dengan gaya balapnya yang khas—berani namun tetap terukur—ia mulai merayap naik melewati satu per satu rivalnya di lintasan Assen yang teknis.

Read Also

Prancis vs Paraguay di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026: Didier Deschamps Ingatkan Les Bleus Jangan Terlena!

Prancis vs Paraguay di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026: Didier Deschamps Ingatkan Les Bleus Jangan Terlena!

Puncaknya, Veda berhasil menembus barisan elit dan menduduki peringkat ketiga. Ia berada tepat di belakang dua pembalap cepat, David Almansa (Liqui Moly Dynavolt Intact GP) dan Quiles (CFMoto Aspar Team). Sorak-sorai pendukung Indonesia sempat membuncah ketika Veda sempat melakukan aksi overtake gemilang terhadap Quiles untuk merebut posisi kedua. Sayangnya, persaingan di grup depan begitu dinamis. Kesalahan kecil atau penurunan performa ban bisa berakibat fatal. Veda yang sempat memimpin perebutan podium perlahan mulai kehilangan traksi dan melorot hingga peringkat ke-11.

Insiden Tikungan 4 yang Mengakhiri Perlawanan

Memasuki putaran kedelapan, nasib buruk akhirnya menghampiri. Saat mencoba masuk ke Tikungan 4—salah satu tikungan yang menuntut presisi tinggi di Assen—Veda kehilangan kendali atas motor Honda NSF250RW miliknya. Motornya tergelincir, dan meskipun Veda berusaha untuk bangkit, kerusakan pada motor membuatnya tidak mungkin melanjutkan balapan. Ini merupakan hasil DNF kedua bagi pembalap berusia 17 tahun tersebut, setelah sebelumnya mengalami kejadian serupa pada seri Amerika Serikat di awal musim.

Read Also

Gebrakan Wali Kota New York: 1.000 Tiket Piala Dunia 2026 Dijual Murah Demi Warga Kelas Pekerja

Gebrakan Wali Kota New York: 1.000 Tiket Piala Dunia 2026 Dijual Murah Demi Warga Kelas Pekerja

Kegagalan finis ini tentu menjadi bahan evaluasi besar bagi tim mekanik Honda Team Asia. Konsistensi menjadi kunci utama jika ingin bersaing di level tertinggi, terutama saat menghadapi sirkuit dengan karakter cepat dan mengalir seperti Assen. Jatuhnya Veda tidak hanya menghilangkan peluang podium, tetapi juga memberikan keuntungan cuma-cuma bagi para rivalnya dalam perburuan poin klasemen.

Ancaman Nyata dalam Perebutan Gelar Rookie of the Year

Dampak paling terasa dari hasil minor di Belanda ini adalah renggangnya jarak poin dalam klasemen pembalap pendatang baru atau Rookie of the Year. Brian Uriarte yang membela Red Bull KTM Ajo, meski tidak meraih podium, berhasil menyelesaikan balapan di posisi kesembilan. Tambahan poin tersebut memperkokoh posisinya di puncak daftar pendatang baru dengan total 99 poin, meninggalkan Veda dengan selisih 17 angka.

Di sisi lain, ancaman juga datang dari belakang. Hakim Danish, pembalap asal Malaysia dari tim Aeon Credit – MT Helmets – MSi, terus menunjukkan performa yang stabil. Meski sempat bersaing ketat dengan para pemimpin balapan, Danish akhirnya finis tepat di belakang Uriarte. Kini, Danish mengoleksi 79 poin, hanya selisih 3 poin saja dari Veda Ega Pratama. Jika tidak segera bangkit di seri berikutnya, bukan tidak mungkin posisi Veda sebagai pembalap Asia terbaik kedua di kelas ini akan tergeser.

Berikut adalah ringkasan singkat persaingan di klasemen sementara Moto3 2026 pasca GP Assen:

  • Brian Uriarte: 99 Poin (Memimpin klasemen Rookie)
  • Veda Ega Pratama: 82 Poin (Tertahan setelah DNF)
  • Hakim Danish: 79 Poin (Mendekat dengan selisih tipis)

Hasil Akhir GP Assen: Dominasi CFMoto Aspar Team

Sementara Veda harus meratapi kegagalannya, kegembiraan justru dirasakan oleh tim CFMoto Aspar Team. Quiles akhirnya keluar sebagai pemenang setelah memenangkan duel sengit selama 20 lap melawan David Almansa. Keduanya menyuguhkan tontonan balap kelas dunia dengan aksi saling salip hingga garis finis. Podium ketiga dilengkapi oleh Marco Morelli, yang juga merupakan rekan setim Quiles, menegaskan dominasi CFMoto di seri kali ini.

Kemenangan Quiles di Assen semakin memperumit peta persaingan di papan atas klasemen umum Moto3. Sirkuit Assen kembali membuktikan reputasinya sebagai tempat di mana hanya pembalap dengan konsentrasi penuh dan keberanian tinggi yang bisa berdiri di podium tertinggi.

Menatap Masa Depan: Harapan untuk Seri Berikutnya

Bagi Veda Ega Pratama, kegagalan di Assen bukanlah akhir dari segalanya. Musim 2026 masih menyisakan banyak seri, dan potensi yang ia tunjukkan saat sempat merangsek ke posisi tiga besar membuktikan bahwa ia memiliki kecepatan yang setara dengan para pembalap papan atas. Fokus saat ini adalah melakukan pemulihan fisik dan mental, serta menganalisis data telemetri untuk memahami penyebab jatuhnya motor di Tikungan 4.

Dukungan dari publik Indonesia tetap mengalir deras untuk pemuda berbakat ini. Pengalaman pahit di Belanda diharapkan menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan kariernya menuju kelas yang lebih tinggi. Semua mata kini tertuju pada seri berikutnya, di mana Veda diharapkan mampu melakukan comeback gemilang dan kembali memperjuangkan posisi di podium demi merah putih.

Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan karir Veda dan hasil lengkap balapan lainnya dapat dipantau terus di platform kami. Tetaplah optimis, karena dalam dunia balap motor, segalanya bisa berubah dalam hitungan detik di tikungan terakhir.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *