Krisis Air Pasang di Tunggulsari Pati: Satu Bulan Terendam Banjir Rob, Warga Mulai Diserang Penyakit Kulit

Akbar Silohon | WartaLog
23 Jun 2026, 05:17 WIB
Krisis Air Pasang di Tunggulsari Pati: Satu Bulan Terendam Banjir Rob, Warga Mulai Diserang Penyakit Kulit

WartaLog — Heningnya malam di pesisir utara Jawa kini tak lagi membawa ketenangan bagi penduduk di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Alih-alih suara ombak yang menenangkan, warga justru harus berhadapan dengan kenyataan pahit: air laut yang merayap masuk ke ruang tamu, membasahi alas tidur, dan membawa berbagai bibit penyakit. Fenomena banjir rob ini bukanlah tamu asing, namun kali ini kehadirannya terasa jauh lebih menyiksa karena telah bertahan selama lebih dari satu bulan penuh tanpa tanda-tanda akan surut total.

Kondisi geografis desa yang berbatasan langsung dengan garis pantai membuat Tunggulsari menjadi titik rentan terhadap fluktuasi air laut. Namun, durasi banjir kali ini dianggap sangat tidak wajar oleh masyarakat setempat. Kehidupan ekonomi melambat, aktivitas domestik lumpuh, dan yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi kesehatan warga yang mulai merosot tajam akibat paparan air payau yang tercemar limbah domestik setiap harinya.

Read Also

Usut Tuntas Skandal Grup Chat Mahasiswa Teknik Mesin, IPB University Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelecehan

Usut Tuntas Skandal Grup Chat Mahasiswa Teknik Mesin, IPB University Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelecehan

Siklus yang Tak Pernah Usai: Rutinitas di Tengah Genangan

Bagi warga Tunggulsari, waktu seolah terbagi menjadi dua fase: waspada dan lelah. Banjir di Pati wilayah pesisir ini biasanya mulai naik signifikan pada siang hari hingga menjelang sore. Saat air laut pasang, tanggul-tanggul darurat yang dibuat warga tak lagi mampu membendung luapan air. Air merembes melalui celah pintu, bawah lantai, hingga saluran pembuangan, mengubah lantai rumah menjadi kolam keruh yang licin.

Suparno (60), salah satu warga yang rumahnya terdampak paling parah, mengisahkan betapa melelahkannya hidup dalam siklus ini. Ia harus terjaga setiap malam untuk memastikan harta bendanya tidak terendam lebih dalam. “Airnya seperti ini, sulit sekali. Kami benar-benar gelisah karena genangan ini seolah tidak mau pergi. Mau tidur saja susah karena perasaan was-was, jangan-jangan air naik lebih tinggi saat kami terlelap,” tuturnya dengan raut wajah yang menyiratkan keletihan mendalam.

Read Also

Teror Pelemparan Batu di KRL Green Line: Saat Kenyamanan Perjalanan Terkoyak Aksi Vandalisme

Teror Pelemparan Batu di KRL Green Line: Saat Kenyamanan Perjalanan Terkoyak Aksi Vandalisme

Ironisnya, saat pagi tiba dan air sedikit menyurut, tugas berat lainnya menanti. Warga harus berjibaku membersihkan sisa-sisa lumpur dan bau tak sedap yang ditinggalkan air rob. Namun, usaha itu seringkali sia-sia. “Capeknya bukan main. Pagi dibersihkan sekuat tenaga, siang atau sore airnya datang lagi. Malam hari rumah masih terasa basah dan lembap, tidak ada waktu bagi lantai untuk benar-benar kering,” tambah Suparno.

Ancaman Kesehatan: Bukan Sekadar Gatal-Gatal Biasa

Dampak dari genangan yang berkepanjangan ini mulai bermanifestasi pada masalah kesehatan serius. Lingkungan yang lembap dan air yang bercampur dengan kotoran menciptakan habitat sempurna bagi bakteri dan jamur. Masalah kesehatan yang paling umum dikeluhkan adalah gatal-gatal kronis pada kulit atau dermatitis. Kulit warga, terutama di bagian kaki dan tangan, mulai memerah, bersisik, hingga melepuh akibat terlalu lama bersentuhan dengan air asin yang kotor.

Read Also

Jakarta Kembali Benderang: PLN Tuntaskan Pemulihan Total Pasokan Listrik Usai Gangguan Gardu Induk

Jakarta Kembali Benderang: PLN Tuntaskan Pemulihan Total Pasokan Listrik Usai Gangguan Gardu Induk

Tidak hanya masalah kulit, Suparno juga mengaku bahwa kondisi fisiknya mulai ambruk. Ia sering merasakan meriang atau demam ringan, sebuah gejala yang umum terjadi ketika tubuh terus-menerus terpapar suhu dingin dan lembap dalam jangka panjang. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya waktu istirahat yang berkualitas, mengingat warga harus selalu sigap menghadapi pasang surut air.

Fasilitas kesehatan setempat memang telah berupaya memberikan bantuan, namun selama sumber masalahnya—yaitu genangan air—masih ada, pengobatan medis hanya bersifat sementara. Warga membutuhkan solusi yang menyentuh akar permasalahan agar mereka tidak terus-menerus bergantung pada salep kulit dan obat penurun panas.

Dapur yang Tak Lagi Mengepul Kering

Dampak ekonomi dan logistik dari banjir rob ini juga sangat terasa di tingkat rumah tangga. Banyak warga yang kesulitan untuk memasak karena area dapur mereka terendam air. Peralatan masak yang basah dan risiko konsleting listrik membuat aktivitas memasak menjadi berbahaya. Selain itu, stok bahan makanan seringkali rusak karena lembap, memaksa warga untuk mengeluarkan biaya ekstra demi membeli makanan siap saji atau bahan makanan segar setiap harinya.

Banjir rob di Kecamatan Tayu ini juga melumpuhkan sektor perikanan dan pertanian skala kecil di sekitar desa. Tambak-tambak warga meluap, mengakibatkan ikan peliharaan lepas begitu saja mengikuti arus laut. Kerugian finansial yang diderita warga tidaklah sedikit, sementara mereka tetap harus membiayai kebutuhan hidup dan biaya pengobatan yang terus membengkak.

Harapan di Tengah Genangan: Menagih Peran Pemerintah

Kesabaran warga Tunggulsari tampaknya sudah mencapai batasnya. Selama sebulan bertahan dalam kondisi yang tidak manusiawi, mereka mulai menyuarakan kegelisahan mereka kepada otoritas terkait. Harapan utama mereka adalah adanya langkah konkret dari pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk melakukan normalisasi saluran atau pembangunan tanggul yang lebih permanen dan efektif.

“Kami memohon agar pemerintah mengutamakan keselamatan dan kenyamanan warga di sini. Jangan biarkan kami terus-menerus gelisah. Kami butuh solusi jangka panjang, bukan sekadar bantuan sembako saat banjir datang,” tegas salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya. Pembangunan sistem pompa air dan peninggian jalan desa dianggap sebagai langkah mendesak yang harus segera direalisasikan untuk meminimalisir dampak rob di masa depan.

Konteks Geografis dan Tantangan Perubahan Iklim

Secara lebih luas, fenomena banjir rob di pesisir utara Jawa, termasuk di Pati, merupakan alarm keras terkait dampak perubahan iklim dan penurunan muka tanah (land subsidence). Masalah lingkungan ini bukan hanya persoalan lokal di Desa Tunggulsari, melainkan krisis regional yang membutuhkan perencanaan tata ruang yang matang.

Pemanasan global menyebabkan kenaikan permukaan air laut secara global, yang jika dikombinasikan dengan ekstraksi air tanah yang berlebihan di wilayah pesisir, mengakibatkan daratan semakin rendah dibandingkan permukaan laut. Tanpa adanya intervensi teknologi dan kebijakan lingkungan yang ketat, desa-desa seperti Tunggulsari terancam akan hilang dari peta dalam beberapa dekade ke depan.

Hingga berita ini diturunkan, warga Tunggulsari masih bertahan dengan sisa-sisa tenaga mereka. Mereka berharap agar matahari segera terbit dengan membawa kabar baik—entah itu surutnya air laut secara permanen, atau datangnya alat-alat berat yang akan mulai membangun benteng perlindungan bagi rumah-rumah mereka. Untuk saat ini, mereka hanya bisa saling menguatkan di tengah kepungan air asin yang tak kunjung pergi.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *