Dilema Harga Pertamax: Meski Naik Signifikan, Pertamina Sebut Masih Separuh dari Nilai Keekonomian

Rendra Putra | WartaLog
20 Jun 2026, 13:18 WIB
Dilema Harga Pertamax: Meski Naik Signifikan, Pertamina Sebut Masih Separuh dari Nilai Keekonomian

WartaLog — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu menjadi topik yang memicu diskusi hangat di ruang publik, tak terkecuali bagi para pengguna kendaraan bermotor yang mengandalkan kualitas pembakaran dari RON 92. Belakangan ini, lonjakan harga Pertamax yang kini menyentuh angka Rp 16.250 per liter menjadi sorotan utama. Meski bagi sebagian besar masyarakat kenaikan sebesar Rp 3.950 ini terasa cukup berat, pihak Pertamina mengungkapkan sebuah fakta yang cukup mengejutkan: harga tersebut rupanya masih jauh di bawah nilai pasar yang sesungguhnya.

Kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi ini memang tidak muncul dalam ruang hampa. Di baliknya, terdapat perhitungan matematis dan pertimbangan ekonomi makro yang kompleks. Menurut Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, angka yang dibayarkan konsumen saat ini belum mencerminkan nilai keekonomian produk beroktan tinggi tersebut secara utuh. Dalam kacamata industri energi, Pertamax seharusnya dibanderol dengan harga yang jauh lebih tinggi jika mengikuti mekanisme pasar bebas secara murni.

Read Also

Menanti Kepastian Subsidi Motor Listrik: Antara Harapan Baru atau Sekadar ‘PHP’ Berulang?

Menanti Kepastian Subsidi Motor Listrik: Antara Harapan Baru atau Sekadar ‘PHP’ Berulang?

Sinyal Ekonomi di Balik Angka Rp 16.250

Penyesuaian harga yang mulai berlaku beberapa waktu lalu ini, menurut Roberth, baru mencakup sekitar 50 persen dari harga keekonomian yang seharusnya. Hal ini menunjukkan bahwa ada selisih yang cukup besar antara biaya produksi serta distribusi dengan harga jual eceran di SPBU. Sebagai produk dengan angka oktan (Research Octane Number) 92, Pertamax dirancang untuk memberikan performa mesin yang lebih baik dan emisi yang lebih rendah dibandingkan varian di bawahnya.

“Secara teoritis, dengan kualitas yang lebih unggul, harga Pertamax pastinya berada di atas Pertalite jika kita bicara murni dari sisi nilai ekonomi,” ungkap Roberth. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa penentuan harga tidak bisa hanya berpatokan pada angka di atas kertas. Ada faktor stabilitas ekonomi nasional yang harus dijaga agar tidak terjadi guncangan daya beli yang drastis di kalangan masyarakat menengah.

Read Also

Dilema Ojek Online di Tengah Lonjakan Harga Pertamax: Antara Ketergantungan Pertalite dan Melambungnya Biaya Perawatan

Dilema Ojek Online di Tengah Lonjakan Harga Pertamax: Antara Ketergantungan Pertalite dan Melambungnya Biaya Perawatan

Intervensi Pemerintah: Menjaga Stabilitas di Tengah Gejolak

Menarik untuk menilik ke belakang, di mana sebenarnya pemerintah sempat melakukan langkah intervensi strategis. Seharusnya, penyesuaian harga dilakukan jauh sebelum tanggal 10 Juni. Namun, demi menjaga momentum pemulihan ekonomi dan ketenangan masyarakat pada periode krusial, pemerintah berkoordinasi dengan Pertamina untuk menahan kenaikan harga tersebut. Langkah ini merupakan bentuk perlindungan agar inflasi tidak melambung tinggi akibat kenaikan harga BBM secara mendadak.

Keputusan untuk akhirnya menaikkan harga pada bulan Juni diambil sebagai jalan tengah yang paling rasional. Pemerintah dan Badan Usaha (BU) penyedia BBM, termasuk pihak swasta, mencoba mencari titik keseimbangan antara beban fiskal negara dan kemampuan finansial masyarakat. Tanpa penyesuaian ini, beban yang harus ditanggung oleh kas negara maupun badan usaha akan semakin tidak kondusif, terutama dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia yang sulit diprediksi.

Read Also

10 Raksasa Otomotif dengan Produksi Terbesar di Indonesia: Dominasi Toyota dan Kebangkitan Brand Global

10 Raksasa Otomotif dengan Produksi Terbesar di Indonesia: Dominasi Toyota dan Kebangkitan Brand Global

Mengapa Harga Minyak Dunia Begitu Berpengaruh?

Sebagai informasi bagi pembaca, Pertamax termasuk dalam golongan Jenis Bahan Bakar Minyak Umum (JBU). Artinya, produk ini bukan merupakan komoditas yang disubsidi secara tetap oleh pemerintah seperti halnya solar subsidi atau Pertalite dalam takaran tertentu. Harga JBU sangat bergantung pada pergerakan pasar internasional dan nilai tukar mata uang. Ketika konflik geopolitik pecah di berbagai belahan dunia, pasokan minyak terganggu dan harganya melonjak secara global.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi pasar internasional. Menurutnya, kondisi geopolitik global telah mendorong harga RON 92 di pasar dunia menyentuh kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. “Kami sudah berupaya menahan harga di level yang jauh lebih rendah dalam waktu yang cukup lama. Namun, untuk memastikan keberlanjutan suplai di pasar, penyesuaian ini menjadi langkah yang tidak terelakkan,” tuturnya.

Komparasi Regional: Bagaimana Posisi Indonesia di Asia Tenggara?

Untuk mendapatkan perspektif yang lebih adil, kita perlu melirik tetangga-tetangga kita di kawasan Asia Tenggara. Jika dibandingkan dengan negara lain, posisi harga BBM di Indonesia sebenarnya masih berada dalam rentang yang kompetitif, meski bukan yang termurah. Di Malaysia, sistem subsidinya cukup unik. Untuk RON 95 yang disubsidi, harganya memang sangat rendah sekitar Rp 8.796, namun untuk versi non-subsidi, harganya berada di kisaran Rp 16.444, yang hampir setara dengan Pertamax kita.

Pemandangan yang jauh berbeda terlihat di Thailand dan Filipina. Di Thailand, bensin dengan oktan serupa dijual seharga Rp 23.327 per liter. Sementara di Filipina, harganya jauh lebih fantastis, di mana bensin RON 95 bisa mencapai Rp 28.335 per liter. Tingginya harga di negara-negara tersebut menunjukkan betapa besarnya tekanan ekonomi global terhadap negara yang sangat bergantung pada impor energi. Sementara itu, Vietnam menjadi sedikit pengecualian dengan harga RON 92 yang dipatok di kisaran Rp 14 ribuan, sedikit di bawah harga Pertamax saat ini.

Menatap Masa Depan Ketahanan Energi Nasional

Kenaikan harga ini tentu membawa dampak domino bagi masyarakat. Banyak pengemudi transportasi daring yang mulai berpikir dua kali untuk menggunakan Pertamax dan memilih beralih kembali ke Pertalite demi menjaga margin keuntungan mereka. Fenomena migrasi konsumsi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mengatur kuota BBM bersubsidi agar tetap tepat sasaran.

Ke depannya, transparansi mengenai komponen pembentuk harga BBM diharapkan dapat terus ditingkatkan agar masyarakat memahami dinamika yang terjadi. Edukasi mengenai pentingnya menggunakan kualitas bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan juga tetap krusial, karena penggunaan BBM yang tidak tepat dalam jangka panjang justru akan merugikan konsumen dari sisi biaya perawatan mesin.

Pertamina sendiri berkomitmen untuk terus memantau perkembangan pasar internasional dan melakukan efisiensi di berbagai lini operasional. Harapannya, jika harga minyak mentah dunia kembali melandai, penyesuaian harga ke bawah pun bukan hal yang mustahil untuk dilakukan, sebagaimana mekanisme pasar yang berlaku pada produk-produk non-subsidi lainnya. Untuk saat ini, peran pemerintah dan Pertamina dalam ‘meredam’ lonjakan harga agar tidak langsung menyentuh Rp 20.000 adalah benteng terakhir bagi kestabilan ekonomi domestik.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *